01/09/2007
MALAS (MA-tinya sega-LA kreatifita-S)
MALAS... menunda-nunda waktu... leha-leha... adalah salah satu musuh bebuyutanku saat ini yang sangat sulit untuk ditaklukan. Malas berarti matinya ide, intelektualitas, kreatifitas dan mobilitas. Malas merorongku laksana anjing yang hendak menggigit tuannya. Ia membelenggu laksana ikatan borgol Saddam Husain ketika menunggu tiang gantungan. Ia menerjangku bagai tsunami dan menyapu apa saja yang menghadang didepannya. Pendek kata ia laksana raksasa yang menghadang dan hendak melumatku kapan saja. Padahal kalau aku mau, ia tak lebih seperti seekor nyamuk yang tak berdaya, ketika menggelinjat di depan hidungku atau laksana laron yang kehilangan sayapnya ketika menghantam cahaya.Sartre pernah menegaskan; "Man is nothing else, but what he makes himself" hal ini berarti eksistensi manusia tak akan pernah berhenti pada satu titik, ia selalu mengada dengan eksistensinya sendiri dengan le-pour-soi -nya. Ia tidak seperti benda-benda lain yang sudah jelas esensinya, slogan existance precedes essence semakin jelas membuktikan kita tidak akan (seumur hidup kita) menemukan esensi dari diri kita. Berbeda dengan benda-benda lain. ambil contoh seperti kursi atau HP. Ketika seseorang ingin membuat sesuatu, otomatis sudah terkonstruk dalam benak mereka apa yang hendak mereka buat dan apa kegunaan atau fungsinya. Dalam hal ini Eksitensialisme bertentangan dengan paham Idealisme maupun Materialisme baik yang diusung oleh Hegel maupun Rene Descartes. Jadi sebenarnya yang membuat aku malas adalah bukan apa-apa bukan siapa-siapa. Kurang bijak rasanya kalau aku mengklaim karena 'dia'-lah, karena 'itu'-lah. pendeknya yang membuat dan menciptakan raksasa kemalasan adalah aku sendiri. Aku lah sang 'Kreator' dari segala ke-biadab-an tindakanku.
Huh semakin bingung saja aku membicarakan hal ini. Terus terang belakangan ini, aku semakin dihantui oleh bayang-bayang filsafat, kadang 'absurditas' begitu menggedor otak kiriku. Maklum, skripsi akhir, aku membahas mengenai filsafat eksistensialisme dalam sastra Drama 'Fences' karangan August Wilson. Sebenarnya bagiku hal ini sedikit menarik, namun karena idealismeku, kini aku malah terjebak dengan labirin eksistensialisme itu sendiri... huh!
Seorang kawan, sebutlah si A. Terus terang, sebenarnya, sekilas ia biasa-biasa saja. Ku pikirpun ia tidak jauh lebih pintar dan aktif dibanding diriku. Dari kadar intelektualnya pun biasa saja (kalau tidak mau disebut pas-pasan). Setidaknya itulah kesan yang mampir di konsepku ketika kita masih aktif diskusi. Tapi yang membuat aku kebakaran jenggot dua puluh kali adalah, melihatnya di wisuda beberapa waktu yang lalu. Hidupnya begitu lancar, apik, beres, seakan gelombang kehidupanpun sungkan untuk sekedar mampir di peraduan hari-harinya. kini ia malah melanjutkan di S2 masih di almamater kami yang sama. Sedangkan aku, masih saja 'mondar-mandir' nggak jelas.
Tuhan, begitu kerdil dan piciknya diri ini. Begitu terbatasnya pandangan ini untuk mengoyak luasnya cakrawala hikmah-Mu. Begitu dangkalnya hati ini tuk menyelami Samudra makna-MU. Padahal yang dibutuhkan di dunia ini, bukanlah orang yang kadar intelektualnya tinggi, Brilian cara pandangnya, cerdas dalam menganalisa, pakar teori, dll. Karena realitapun berbicara, kaum intelektual pun beramai-ramai mengkhianati intelektualitas mereka hanya untuk menukarnya dengan sebuah 'kursi', se-gepok uang, fasilitas tetek bengek, dan satu lagi... PEREMPUAN!!
Lantas bagaimana dengan kaum Idealis? huh, sejarah mencatat, hampir sebagian besar kaum idealis mati di tiang gantungan, tajamnya timah panas, maupun mati kesepian. Tengok 'Peradilan Socrates' yang harus mati karena racun, Imam Hambali karena rezim Mu'tazillahnya, Syekh Siti Jenar, Soe Hok Gie yang terpinggirkan dan harus menghisap racun kawah Semeru dan bahkan belakangan Saddam Hussain ikut kebagian jatah 'getah'-nya.
Lalu bagaimana seharusnya kita bersikap? menghadapi faktisitas yang kian kejam dan deru waktu yang kian memburu yang tak pernah memberikan kita 'waktu' barang sekedar menghela nafas..?? Aku jadi teringat 'seloroh' Emha dalam 'Indonesia Bagian Dari Desa Saya', dengan tepatnya dia meng-aphorisme-kan tentang banalnya sang waktu;
"Semboyan alon-alon asal klakon dirasa sudah tidak lagi relevan. Hari-hari tidak menjamin datangnya beras. Maka tenaga, siasat dan Keringat harus diperas".
Wa Allahua'lam bi murodih...
*** Terakhir, tolong berikan secercah cahaya dan basuhan rintik hujan untuk manusia satu ini yang sedang krisis eksistensi... ***
18:45 Posted in Filsafat | Permalink | Comments (0) | Email this