12 March 2009
Balada Pengangguran
Dibolak balik dinalar nalar
Tanpa logika oh ya!
Diraba raba diterka terka
Tidak terduga oh ya!
Misteri ijazah tidak ada gunanya
Ketekunan tidak ada artinya
Iwan Fals - Balada Pengangguran
***********************************************
"Boy, gmn intrvw kmrn? udh terang 'lom? Jgn mendung lagi lah..."
"Ben, gmn kbrnya? Skrng lo gawe dmn?"
"How's it?"
"Ka, gmn hasilnya? So far so good, kan? Alhamdulillah... mudah2an kali ini..."
"Sabarlah kawan, mungkin Tuhan punya rencana besar dibalik ini semua!" SEMANGAT!!"
Serentetan SMS pagi ini (sebenarnya sudah sekitar pukul 10.00-an, tapi buat manusia kalong seperti diriku, ini masih ‘kelewat’ pagi. hehehe) menggedor telilnga kanan, hingga tak ayal menyeretku paksa untuk bangun dari segumpal mimpi semu. Orang bilang, ini ‘kopi pahit’ demi menyambut sang mentari yang tidak lagi malu menunjukan sinarnya. Kutarik nafas panjang, lebih terkesan miris sebenarnya, untuk menyambut hari yang seolah tidak bersahabat ‘pagi’ ini. Ya, sebuah kenyataan pahit yang ternyata singgah di episode babak kehidupanku kini. Kenyataan bahwa kini aku menyandang sebuah gelar baru selepas mendapatkan gelar sarjana, yaitu PENGANGGURAN!
Pengangguran atau tuna karya, sebutan bagi pelaku kata kerja ‘menganggur’ menurut wikipedia adalah; “Istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan”. Kalau merujuk pengertian diatas, ciri-ciri yang terakhir agaknya yang paling pas menggambarkan keadaaanku saat ini.
Sebenarnya, kalau mau sedikit Ge-eR, aku bukanlah seorang yang tidak memiliki prospek kerja sama sekali. Bukan, bukan itu. Selepas aku menuntut ilmu di kampus International Garment Training Centre (IGTC-red) yang terletak dibilangan Sentul, Bogor, aku hanyalah harus menunggu, menunggu, dan menunggu. Dan aku pikir, segenap makhluk di kolong langit ini rasanya sepakat kalau “Menunggu adalah….. ya, anda benar, pekerjaan yang paling memuakkan!
Fakta sebenarnya adalah, aku adalah satu-satunya dari Mahasiswa IGTC tersebut yang terpilih dan terseleksi untuk bisa bergabung dengan perusahaan Raksasa Jerman, AMANN Group, yang cabang Indonesianya terletak di Bilangan Kelapa Gading. Dan kabar terakhir yang membuat hidungku kembang kempis adalah kenyataan kalau aku hendak di-trainning di Boennigheim, Jerman. Cuma, sekali lagi, saya tekankan sekali lagi, kalau saya, hanya harus bersabar… yaaahh… sekitar satu bulan setengah lah!!
Satu bulan setengah?? Anda pernah membayangkan kalau anda harus dirumah, yang notabene tidak berpenghasilan, selama satu bulan setengah?? Anda pernah merasakan pahitnya paradigma masyarakat ditilik dari sisi sosio-kultural mengenai pemuda pengangguran? Atau bahkan Anda pernah mengalami sedikit goncangan psikologis melihat orang tua Anda, terutama Ayah, yang selama ini menganggap dan berharap kalau anda adalah tulang punggung harapan dan penerus tinta emas sejarah keluarga? Atau yang terakhir, perasaan minder tak berkesudahan terhadap pacar terkasih anda?? Fiiuuhhh, kenyataan itulah yang sekarang sedang berkecamuk dalam relung dada saya kini.
Agak sedikit banal juga sebenarnya, kalau aku mencermati keadaaanku kini. Dibandingan dua sahabatku (mereka, termasuk aku adalah calon 3 besar kandidat terakhir dalam seleksi ini) yang kini sudah berada di Bali dan di Hongkong, perjalanan karier aku memang agak sedikit berliku. Dua perusahaan yang melamarku sudah aku tolak karena melihat prospek ‘ini’ akan cerah dan basah. Sebenarnya pilihan ku juga berdasarkan beberapa nasihat baik dari orang tua maupun pimpinan kampus tempat aku dulu belajar. “Last Man Standing” goda salah satu dari mereka suatu kali dalam percakapan online di internet. Dan lagi lagi, aku hanya bisa tersenyum nyinyir membacanya.
Lantas mau bagaimana lagi?? Mungkin SMS dari salah seorang kawan itu benar. “TUHAN sedang mempersiapkan rencana besar buat-ku…. Semoga!!
18:13 Posted in Celoteh | Permalink | Comments (2) | Trackbacks (0) | Email this
05 January 2009
Setelah ketupat, lilin, dan terompet lalu apa?
Lima hari sudah kita melewati pergantian tahun dari 2008 ke 2009. kali ini saya tidak ingin menulis panjang lebar, hanya tersisa pertanyaan dasar yang hendak saya kemukakan. "Setelah ini, lalu apa?
" Belum bosankan kita dengan celebrasi hampa ini?"
"Masih bisakah kita tertawa, sementara masih banyak kerumunan manusia, baik disamping rumah kita, diluar daerah sana, maupun diujung penjuru dunia menangis mengaduh karena usus mereka melilit belum terisi selama berhari-hari?"
"Masih tersenyumkah kita, sementra sahabat kita meringis?"
"Masih relakah kita mengeluarkan lebaran puluhan ribu, ratusan, bahkan jutaan, sementara para buruh kasar bingung tatkala menerima gaji akhir bulan, merasa binggung dan merasa tak sanggup untuk menutupi kebutuhan keluarga, kontrakan, biaya sekolah anak, listrik, air...?"
"Akhhh... Apakah kita terlahir sebagai manusia tolol? Atau jangan-jangan keadaan/ zaman yang memang sudah sedemikian tolol yang pada akhirnya melahirkan generasi-generasi Tolol?
NB: saya tidak akan mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU!
04:26 Posted in Celoteh | Permalink | Comments (2) | Trackbacks (0) | Email this
10 August 2007
Belajar Dari Tukang Telur

Mengapa saya suka sekali pada jalanan? Karena saya pikir, di jalanan lah saya bisa mendapatkan sebuah pelajaran yang ‘maha berharga’ guna dijadikan sebuah refleksi akan sebuah revitalisasi misi, yang tidak akan saya dapatkan dalam buku manapun. Meskipun tebalnya mencapai ribuan lembar. Karena pula pengalaman menggambarkan sebuah realitas yang terkadang begitu mengetuk, bahkan sering kali menggedor relung hati yang kemudian melesak jauh kedalam ruang intuisi saya. Berbeda dengan buku, yang terkadang hanya menyodorkan teori-teori ‘kering’ dan pengalaman orang dalam menghadapi sebuah realitas yang dinamakan kehidupan. Walaupun terkadang pengalaman orang bisa saja hinggap pada individu kita, tetapi pada dasarnya masing-masing kepala mempunyai cara penyikapan yang berbeda dalam setiap problema.
Semisal contohnya, setiap kali saya melihat sesuatu yang saya anggap luar biasa menurut ukuran saya, saya akan berujar dalam hati kecil; “Kapan ya, kira-kira saya bisa seperti itu?” atau bisa saja batin saya berbisik; “Bisakah saya menjadi seperti itu?” namun celakanya, sering kali hal yang saya anggap ‘luar biasa’ itu selalu berkaitan dengan hal-hal yang bersifat duniawi atau materi. Seperti ketika melihat sebuah rumah atau kendaraan bagus, contohnya. Obsesi saya terkadang mengatakan; “Mampukah saya memilikinya dalam jangka waktu dekat ini?”
Mengingat, walaupun umur ini sudah hampir menginjak ‘seperempat abad’, saya termasuk dalam kategori manusia yang masih ngĕtek sama orang tua. Dalam hal ini masih tinggal bersama dengan mereka. Masih disubsidi setiap harinya, masih di-empani mereka, dan masih-masih lainnya layaknya manusia jompo yang tak bisa apa-apa.
Padahal kalau membaca, menonton, ataupun melihat realita sekitar. Seyogyanya manusia seumuran saya ini setidaknya harus bisa mandiri. Tidak tergantung lagi pada subsidi orang tua. Karena – menurut cerita – ayah dahulu, ketika seumuran saya, ia sudah bisa berdiri dibawah telapak kakinya sendiri.
Lantas karena berdasar pengalaman diatas, saya lalu coba-coba cari alternatif demi sebuah pembuktian, bahwa saya juga bisa exist. Mulai dari bergelut dengan dunia stock trading (Perdagangan saham) di Bursa Efek, Jakarta, menjabat Koordinator Bahasa pada sebuah lembaga pendidikan Indonesia–Amerika yang membawahi beberapa staff, menulis beberapa naskah tulisan untuk dikirimkan kebeberapa media (walaupun sering kali ditolak!) sampai menjadi gitaris sebuah Band yang sampai detik ini album pun pertama pun belum rampung-rampung. Padahal beberapa lagu sudah kami ciptakan dan sering kami bawakan dibeberapa pentas pertunjukan musik.
Tetapi celakanya, semua karier yang saya sebutkan diatas tak satupun berjalan dengan mulus. Ada saja hambatannya, dan mayoritas, hambatan itu malah muncul dari internal pribadi saya sendiri. Seperti memikirkan, bahwa bidang ini tidak cukup prospektif untuk dijadikan sebuah modal berpijak dalam mengarungi atmosphir global metropolitan. Imbasnya, saya sering kali – dalam menggeluti satu bidang – menjadi tidak fokus. Sering berpindah-pindah, berganti-ganti peran dan wajah. Kadang memanjangkan rambut, biar ketika manggung terasa gagah layaknya Rock Star, atau malah pula saya mencukurnya habis, demi terlihat perfectionist dihadapan para klien.
Saya jadi semakin bingung. Sebenarnya bidang mana yang ditakdirkan Tuhan untuk diri saya ini. Pernah juga ketika saya sudah nyaman pada suatu bidang tertentu. Tentu didasari karena income yang saya dapatkan memuaskan, saya lalu berandai-andai. “Wah, satu bulannya saja segini, bagaimana kalau dua bulan? Satu tahun? Dua tahun dan seterusnya. Padahal sejarah membuktikan, jikalau seseorang ingin sukses dalam mengarungi kehidupan, ia dituntut untuk fokus. Melihat realita dihadapan matanya kini, hari ini, saat ini. Bukan kemarin ataupun jauh melesak ke masa depan. Yang nantinya malah mengaburkan impian dan cita-cita. Padahal pula Nabi mengajarkan bahwa; “Man sabat, nabat…” (siapa yang tetap, maka ia akan tumbuh) bahkan seorang atheis sekelas Jean-Paul Sartre juga pernah berkata; “Man is nothing else but what he makes for himself”. Contoh-contoh fatwa diatas dapat kita tengok kepada orang-orang yang sudah sukses. Dijamin, ia pasti lama menggeluti bidangnya dan mengalami beberapa ujian bahkan cobaan dalam menjemput impiannya.
Hemat saya, jadilah manusia yang fokus. Karena, fokus memegang peranan penting dalam sebuah karier. Meskipun saya pernah membaca bahwa manusia yang baik itu adalah well-rounded man (orang yang mengetahui banyak hal). Tetapi, bagi saya tetap saja harus ada ‘satu’ yang dijadikan pegangannya. Jangan banyak berandai-andai. Itulah kuncinya. Hadapi saja hari ini. Jalani dan geluti. Jangan seperti tukang telur amatir. Tukang telur? Ya tukang telur! Baiklah, untuk mengakhiri tulisan ini saya akan membubuhi cerita klasik tentang tukang telur yang buruk.
Suatu hari ada seorang tukang telur keliling yang menjajakan dagangannya dengan membawa sebuah nampan berisi 100 buah telur. Tak diduga olehnya, belum sampai setengah hari, telurnya sudah laku 10 buah. Dan ia pun merasa senang akan hasilnya hari itu. “Waaahh… baru satu kali dagang saja, hari ini sudah laku 10… Ah… ngaso dulu lah!”. Lantas ia pun mencari tempat yang nyaman untuk berteduh dari teriknya matahari, dan ia pun mendapati sebuah pohon rindang yang tak jauh di hadapannya kini. Di bawah pohon itu pula, ia lantas berandai-andai. “kalau jam segini sudah laku 10, dipastikan beberapa jam kedepan, pasti telur saya sudah habis. Kalau hari ini saja bisa laku 100 buah, besok dipastikan dua kali lipatnya juga bisa. Berarti saya harus membawa 200 buah telur, besoknya 400, besoknya lagi 800, besoknya lagi 1600, besoknya lagi…. Waah, sepertinya saya harus membeli sepeda kalau begini caranya, karena nampan saya sudah tidak cukup untuk muatan jumlah seperti itu.”
Tak sampai disitu, imajenasi sang penjual telur pun semakin merambah jauh. Ia menghitung-hitung penghasilannya sampai beberapa bulan, bahkan satu tahun kedepan. “Waduuhhh, kalau begitu… sepeda juga sepertinya tidak akan muat. Ahh, lebih baik saya mengkredit satu buah motor. Lagian juga enak, tinggal bunyikan klakson, para pelanggan saya sudah pasti tahu, bahwa saya datang membawa telur.”
“Belum lagi efisiensi waktu. Bila dibandingkan dengan sepeda, motor tentu jauh lebih cepat, dan itu artinya saya bisa menjual dengan jumlah yang jauh lebih banyak. Tapi itu juga tentu akan meningkat jumlahnya dalam hitungan beberapa tahun kedepan. Dan itu artinya saya juga harus membeli mobil. Waah, lumayan. Akan nampak keren juga saya mengendarai mobil. Bila ada kawan yang kebetulan saya lewati akan saya sapa; “Hei, mau kau ikut jalan-jalan tidak dengan mobilku ini? Saya tidak akan jadi orang kaya yang sombong, setiap kerabat yang saya lewati saya harus menginjakan rem begini, ciiiitttttt….”
Tak sadar, ketika ia mempraktekkan kakinya tatkala menginjakan rem, ia malah menginjak nampan telur yang ada dihadapannya kini. Tak pelak, telur-telur sisanya yang berjumlah sembilan puluh buah pun pecah. Ia kaget bukan kepalang. Bukan untung yang ia dapat, malah buntung yang ia raih kini… “Bujug busyet… telor gua…!!”
09:15 Posted in Celoteh | Permalink | Comments (1) | Email this
12 February 2007
Inikah Indonesia-ku?
Diketemukan sesosok tubuh tanpa kepala terbujur kaku di belakang reruntuhan bangunan…
Diketemukan sesosok bayi berusia sekitar 2 bulan tanpa nyawa di tong sampah. Diduga ia dibuang oleh orang tuanya…
Seorang nenek diperkosa oleh dua pemuda. Sang nenek stroke, tak mampu berkata apa-apa…
Isteri dibantai suami di usia perkawinan 2 bulannya. Sang suami cemburu, lantas membacok tubuh isteri berkali-kali…
Seorang gadis diperkosa oleh bapaknya…
Seorang kakek mencabuli cucunya yang (baru) berusia lima tahun…
Karena tayangan gulat di TV, seorang bocah membunuh temannya…
Bunuh… Bantai… Bacok… beriii…!!!!
Kemarin, seorang copet dibakar hidup-hidup oleh massa…
Ambil motor, hilang nyawa…
Koruptor senilai Rp. 2 Miliar bebas melenggang…
Diduga menggelapkan dana Negara senilai ratusan juta, ‘Mr. Smile’ di panggil ke kejaksaan…
KPK berjanji menangani kasus korupsi tanpa ‘tebang pilih’…
Ambil… Angkut… Rampassss…!!!!
Tsunami, merengut ratusan ribu korban meninggal…
Gempa, ratusan korban hilang tak tertemukan…
Longsor, puluhan anak kehilangan orang tuanya…
Puting Beliung, meluluh lantahkan beberapa bangunan, lima orang tewas…
Banjir Bandang, menewaskan puluhan warga…
Lumpur, sampai kapan???
Tolonggg… Awassss… Lariiiii…!!!
Adam Air, sampai kini belum diketemukan…
KM. Senopati, ratusan korban tewas tenggelam…
Gerbong kereta, gerbong maut nomer empat…
Tabrakan beruntun di jalan tol merengut nyawa…
Pritttt… prittt...Disiplin lah… Disiplin…!! Ahhhh… inikan human error…
“Ini murni adzab…!”
“Itu tidak lebih, human error…!”
“Bangsa Indonesia harus melakukan tobat akbar…!”
“Kata siapa…? Siapa bilang…? Kamu percaya…?”
“Ini kata pak ustadz lho…!”
“Itu yang dibilang Pendeta kan…?”
“Sudah lah… kita ikuti saja apa kata bhiksu…!”
“Wahhh… ternyata ramalan ‘mbah blo’on’ jadi kenyataan…!”
Diiiaaaammmmm…!!
Berisiiikkkkkkkkk…!!
Semua sok tahu…!
Padahal ada mau…!!
Matikan saja TV itu
Kecilkan volume radio-nya
Bakar saja lembaran Koran-koran
Suruh semua pergi
Matikan lampu
Aku ingin tidur…
18:20 Posted in Celoteh | Permalink | Comments (0) | Email this
30 January 2007
I don't Like Monday?
Hari ini hari senin. Monday. Lantas (karena berdasar pengalaman kurang mengenakkan hari ini) aku berfikir mengenai slogan; “I don’t like Monday”. Entah siapa yang mengenalkan dan mempopulerkan slogan tersebut. Satu yang pasti, disadari atau tidak Monday merupakan hantu mimpi buruk bagi siapa saja yang telah melewati weekend. Dan aku pikir pengaruhnya luar biasa bagi sebagian manusia di penjuru belahan dunia ini.
Monday, bagi pelajar maupun mahasiswa berarti upacara (bagi sebagian pelajar sekolahan di penjuru negeri ini), bertemu guru-guru atau dosen yang membosankan. (kadang) Memaksakan kadar intelektual mereka yang pas-pasan, tugas-tugas yang musti dikumpulkan, pe-er yang belum sempat dikerjakan, ulangan harian, dll.
Monday, bagi para orang kantoran berarti kemacetan lalu lintas. Lalu lintas yang padat merayap, debu deru kendaraan, dan hal itu berarti harus berangkat lebih awal. Karena siapapun tahu, Monday means traffic jam. Rush hour. Lantas terbayang wajah bos yang tidak bersahabat, siap untuk memaki-maki kalau terlambat sampai kantor, walau hanya dalam hitungan menit. Kadang Monday juga berarti lahirnya deadline baru, target-taget yang kadang un-make a sense, meeting, briefing, under pressing, akh… pusinggg…
Monday, bagi para pengajar berarti tugas-tugas akademik yang baru, kurikulum, menyiapkan soal-soal, lesson plan, belum lagi bertemu murid-murid yang badung-badung setengah ampun, “murid bengalmu, mungkin sudah menunggu…” kata Iwan Fals dalam lirik lagu Umar Bakrie.
Tapi Monday, rupanya punya perspektif lain bagiku, Monday nggak Monday sama saja… tetap saja… DEKIL…!!!
13:55 Posted in Celoteh | Permalink | Comments (0) | Email this

