04 October 2008
Simbolisme Humanis dan Sosial; Ketupat & Lebaran*

SECARA etimologis idiom dan makna simbolis ketupat lebaran, berasal dari
kata telu (tiga) dan pat (empat). Munculnya angka-angka ini bergerak dari
sistem rukun Islam yang berjumlah lima. Telu dimaksudkan sebagai rukun Islam
ketiga, yakni menjalankan ibadah puasa. Sedangkan pat atau papat, rukun
Islam yang keempat atau membayar zakat. Di luar itu dalam kreativitas budaya
masyarakat Jawa, bentuk ketupat pun biasanya dibuat mengikuti struktur
angka-angka tersebut. Sehingga muncul dua bentuk ketupat. Yakni yang
berbentuk segitiga yang disebut ketupat atau kupat kodok. Dan ketupat
berbentuk segi empat atau juga disebut ketupat atau kupat sintho. Meski yang
paling umum dan memasyarakat, hanyalah ketupat yang berbentuk segi empat.
Artinya, esensi hidangan ketupat yang dicampur dengan opor dimaksudkan
orang yang menjalankan kewajiban agamanya di bulan Ramadan. Yakni ibadah
puasa -- atau orang diopori atau di bakar atau digembleng jiwa spiritual dan
dosa-dosanya. Sebab dari segi bahasa, ramadan berasal dari kata ramda yang
artinya syiddatulharri atau yang sangat panas. Jadi ramadan dari segi bahasa
adalah bulan yang sangat panas atau membakar. Iman Ibnu Hajar, menyatakan
sesungguhnya di dalam bulan ramadan dilakukan pembakaran dosa (manusia)
selama satu bulan penuh -- kemudian disempurnakan membayar zakat. Di mana
zakat hakikatnya adalah sebuah ritus religius sosial akan dialektika dan
makna dari pengalaman religius (religius experience) yang dihayati dan
dirasakan langsung secara personal empirik, bagaimana umat Islam merasakan
kepedihan dan penderitaan hidup yang dirasakan lain (fakir miskin). Sehingga
dengan menjalankan puasa yang disempurnakan dengan zakat diharapkan agar
setiap insan jiwanya memiliki sebentuk atensi, kepedulian, pemihakan
langsung kepada mereka yang nasibnya kurang beruntung (fakir miskin)
sepanjang hidupnya.
Alhasil ketupat, atau puasa yang disempurnakan dengan membayar zakat,
muaranya mempresentasikan makna simbolis dan hakiki Lebaran. Di mana Lebaran
di masyarakat Jawa juga dimaknai bergerak dari simbol dan nilai-nilai
etimologis dari kata-kata lebar, lebur, luber dan lebaran.
Lebar, artinya selesai telah kewajiban kita sebagai seorang muslim dalam
menjalankan ibadah puasa dan membayar zakat. Sehingga pahala dan berkah
karomahnya diharapkan meningkat menuju stadia nilai lebur atau lunas, hancur
dan impasnya dosa-dosa makhluk di hadapan Sang Khalik (Pencipta). Karena tak
bisa dipungkiri bahwa setiap manusia akan selalu beragregasi dan atau
sebentuk dialektika dari bentuk hubungan dengan Allah Sang Pencipta (habblum
minallah). Maka sungguh wajar dan tidak berlebihan jika hari yang baik itu,
hari leburnya dosa-dosa manusia (fitri) ini alangkah akan lebih afdol jika
disempurnakan atau disertai budaya halal bi halal yang menjadi budaya khas
keindonesiaan kita.
Puncaknya diharapkan setiap manusia memperoleh derajat takwa (la alakum
tattaqum). Atau memperoleh kembali derajat fitri setelah pengembaraan
manusia melampaui stadia-stadia jarak umur dan jarak waktu. Sehingga makna
menuju fitrah hakikatnya adalah sebuah ziarah, perjalanan rohani manusia
dalam menggapai derajat hakiki nilai manusia dan kemanusiaan (humanisme)
universalnya. Wajar jika wacana fitrah, secara umum digambarkan bahwa
manusia (seakan) lahir kembali laksana seorang bayi mungil yang masih bersih
suci, belum tersentuh oleh daki-daki dosa duniawi.
Di sinilah sesungguhnya justifikasi referensial dan afirmasi positif nan
signifikan dari makna luber yang bersifat empirik (praksis) dalam diri
setiap pribadi (personal individu) dalam hubungannya dengan Tuhan maupun
dengan sesama manusia. Atau melubernya aneka berkah, karomah dan hidayah
Allah di satu sisi yang bertemu dengan kerelaan, keterbukaan dan kesungguhan
setiap jiwa dan hati manusia dalam memberi dan memaafkan orang lain (sesama)
sehingga menjadi halal bi halal. Atau sah secara normatif (praksis) maupun
ideal filosofis, sekaligus esoterik (teologis). Muaranya pada saat itu kita
betul-betul memperoleh kenikmatan yang luar biasa, bahkan (seakan) hingga
luber (tumpah ruah). Baik luber dalam wacana esoterik (spiritual religius)
maupun luber secara eksosterik (sosial empirik). Sehingga menjadi sebentuk
kenikmatan yang bersifat final dan universal. Itulah sesungguhnya makna
esensial dari derajat kenikmatan hidup dan kehidupan yang diharapkan umat
manusia. Katakanlah rasanya (seakan) hidup menjadi lebih hidup. Tidak hanya
dalam slogan tetapi juga dalam derajat praksis.
Di luar itu pemaknaan wacana simbolisme luber yang bersifat spiritual
religius tempat turun dan menyatu dan bertemunya berkah, hidayah Allah
dengan keterbukaan hati setiap insan pada sesama. Luber juga dimaknakan
secara praksis. Pada hari yang sangat baik, hari yang sangat bahagia itu
dirayakan dengan pesta makan besar, ketupat sebagai makanan yang paling pas
dan signifikan. Ketupat menjadi lambang sekaligus, khas dan praksis dari
hidangan santap pesta lebaran.
Pada saat pesta santap lebaran, turut luber pulalah aneka hidangan dan
makanan bahkan rezeki dalam diri dan bagi setiap orang. Dengan kumpulnya
seluruh anggota keluarga yang selama setahun terpisah setiap orang dapat
belajar memaknai dan memahami nilai dari dialektika hidup sosial antar dan
inter sesama sebagai sub sistem hidup sosial; berkeluarga, bermasyarakat dan
berbangsa. Karena hanya dengan bertemulah dan berkumpul dalam satu periuk
yang sama, manusia akan saling berkenalan dengan antarsatu dan lainnya, yang
muaranya ditingkatkan menjadi saling mengerti dan memahami akan kekurangan
dan kelebihan masing-masing. Selebihnya muaranya akan ditingkatkan menjadi
saling berbagi, berkeluh kesah dan saling mengisi serta saling menutupi.
Itulah makna esensial dari harmoni hidup sosial dalam berkeluarga dan
bermasyarakat, bahkan berbangsa dan bernegara. Pada saat Lebaran terjadi
kontak dan kontrak serta transaksi, baik sosial maupun spiritual yang
bersifat psikologis sekaligus material dalam setiap keluarga. Yang kaya
memberi yang miskin, yang lemah belajar pada yang kuat. Demikian sebaliknya,
yang pintar merunduk menengok yang bodoh, yang bodoh mendongak untuk belajar
kepada yang pintar, dan lain sebagainya. Selanjutnya saling membantu dalam
memperkokoh ikatan sosial dalam berkeluarga. Wajar jika hanya pada saat
lebaran jiwa sosial manusia benar-benar terbuka dan ditunjukkan secara
praksis.
Lebaran, kita dapat mempertautkan kembali ikatan warna tanah (primordial)
yang selama ini berserak serta kembali mempererat hubungan nilai manusia dan
kemanusiaan (humanisme) yang tercabik dan terpisah. Lebaran, muaranya
menjadi wahana efektif dan signifikan dari sebentuk dialektika sosial khas
Jawa, mangan ora mangan kumpul. Bukan esensi mangan (makan) yang menjadi
term mayor. Tetapi berkumpulnya, keluarga itulah yang utama. Sebab dalam
berkumpul itu terjadi musyawarah mufakat, untuk dapat membina hidup keluarga
itu menuju ke arah kebaikan secara bersama-sama. Meski tidak dipungkiri,
dalam berkumpul pasti makan (berpesta).
Sebab jika berkumpul dalam waktu lama tetapi tidak makan, pasti akan terjadi
congkrah (perpecahan). Sehingga setelah perayaan ini usai, setelah semua
hajat, keperluan, musyawarah mufakat dan membina keluarga ditunaikan,
setelah semua makanan dan rezeki dibagikan dan dinikmati bersama, selesailah
seluruh hajat keluarga itu. Dan mereka pun kembali bertebaran di muka bumi,
untuk menjalankan aktivitas dan kerja di tempat masing-masing. Dan saat
terpisah itu ketupat akan selalu kembali mengingatkan dan mempertautkan
kerinduan kekerabatan sosial dan leluhur kita. Dengan ketupat kita akan
selalu siap meningkatkan hidup dan kehidupan kita menuju kesempurnaan.
*Penulis: Otto Sukatno CR, Pemerhati Sosial Budaya dan Ketimuran.
19:18 Posted in Budaya | Permalink | Comments (3) | Trackbacks (0) | Email this
22 June 2008
Budaya Nyawer Versus Sakralism
Gimana? Masih mau digoyang?
Tarik, mang… Ooogaaahh pulanggg…!!
Suatu ketika, ketika saya sedang dalam perjalanan pulang, saya terjebak macet. Macet? Ya, kata yang satu ini bukanlah merupakan barang antik apalagi langka bagi seluruh penghuni belantara metropolitan ini. Setiap hari, terutama Rush-hour, kemacetan laksana Koran harian nasional yang bisa anda dapatkan dimana saja, kapan saja.
Tapi kemacetan yang saya alami ini agak sedikit unik. Unik? Ya bisa dikatakan begitu. Unik karena jalur yang saya tempuh menuju rumah adalah jalur alternatif, kalau tidak ingin dikatakan jalur kampung, dimana sangat jarang sekali terjadi hal seperti ini. Awalnya, dalam hati saya juga agak sedikit aneh. Tidak biasa-biasanya, pikirku.
Tak selang dalam hitungan menit, saya pun menyadari, rupanya kemacetan ini dipicu karena ada salah satu warga disitu yang menyelenggarakan hajatan (lebih tepatnya dikatakan pernikahan anaknya). Dan lazimnya budaya pop saat ini, dimana orang kampung mengadakan hajatan, orkes dangdut terasa hal yang wajib untuk diadakan. Begitu juga halnya dimana ada orkes dangdut, maka ‘nyawer’ merupakan salah satu pelengkap yang tidak boleh disia-siakan begitu saja.
Aku juga heran, seingatku dulu, jauh ketika aku masih duduk dibangku Sekolah Dasar, acara hajatan tak lengkap tanpa adanya bioskop rakyat, yang layarnya berbalut spanduk putih besar ditumpu oleh dua tiang bambu panjang yang menjaganya. Orang biasa menyebutnya ‘Lacar Tancap’. Tapi kini, seolah-oleh budaya tersebut sudah lekang dimakan zaman. Orang lebih memilih orkes dangdut bila dibandingkan dengan hal diatas.
Ada fenomena menarik yang saya amati dari budaya orkes dangdut tersebut. Yang pertama, Artis/ biduwanita pembawa lagunya. Hal ini dirasa sangat penting dan bisa dikatakan ujung tombak bagi para pengusaha penyedia hiburan orkes dangdut tersebut. Mengapa saya katakan penting? Penting karena fakta lapangan, setidaknya mengambarkan fenomena bahwa penonton tidak terlalu peduli atau ambil pusing mengenai kualitas olah vokal yang bisa bikin mba ii atau Indra Lesmana sakit kuping selama tujuh hari, tujuh malam. Penonton, atau lebih tepatnya disebut masyarakat awam, terlalu lugas untuk hal tersebut. Mereka hanya butuh tontonan, lain tidak. Oleh karena itu, meski suara agak serak-serak banjir, sing penting goyangane’ mang….!
Yang kedua, sebagaimana yang telah saya sebutkan diatas dan kiranya menjadi titik bahasan kita kali ini, adalah Nyawer. Sawer atau nyawer berasal dari bahasa sunda dan bahasa Jawa yang berarti ‘Melempar uang kekhalayak ramai’. Awalanya budaya ini dilakukan pada saat upacara pernikahan. Hal ini dilakukan semata-mata dengan harapan bahwa si pe-nyawer dapat diberikan kelapangan rizki dan kemudahan dalam menghadapi urusan-urusannya dikemudian hari kelak. Tapi selang waktu berjalan, nyawer lebih lekat maknanya kepertunjukan orkes dangdut. Dimana ada orkes dangdut, disitulah eksis budaya nyawer.
Yang saya heran adalah, para pelaku nyawer, biasanya, berasal dari orang/ kalangan yang teramat biasa, kalau tidak ingin dikatakan pas-pasan. Seperti dikampungku, contohnya. Biasanya yang paling getol melakukan aksi tersebut, sebutlah bang Bonje. Padahal sehari-hari, profesinya adalah pengendara ojek. Yang kita bisa mengestimasi pendapatan per-harinya sudah pasti tak sebesar pengendara pesawat terbang.
Pada beberapa kesempatan, misalnya, nyawer biasanya untuk mengukuhkan identitas pribadi si pelakunya. Tentu saja, si-penyawer akan merasa malu apabila ia berlenggok-lenggok ria dihadapan sang biduwanita dengan lembaran duit ribuan. Bisa dipastikan ia akan menggengam uang setidaknya dua puluh, lima puluh, bahkan sampai seratus ribuan ditangannya. Pertanyaan dasar saya adalah, mengapa mereka begitu ‘ikhlas’ mengeluarkan hasil jerih payah mereka dalam hitungan menit setelah berpacu dengan kerasnya hidup dalam hitungan bulanan? Atau yang lebih parah lagi – jikalau mereka sudah punya anak dan istri – tega-teganya melepas jumlah tersebut ketangan biduwanita yang boro-boro kenal akrab, wong tahu nomor HP-nya saja sudah terhitung ‘anugrah’ dibandingkan dengan memberikan uang tersebut ketangan istrinya yang telah setiaa menemani mereka selama belasan, bahkan puluhan tahun?
Satu lagi yang membuat saya demikian masygul. Acara tersebut (orkes dangdut) biasanya dan memang sudah dapat dipastikan diselenggarakan ditempat publik, dalam kata lain bisa disaksikan siapa saja, tak pandang usia. Baik mas-mas, ibu-ibu, janda-janda, bahkan parahnya disaksikan juga oleh anak-anak yang masih dibawah umur.
Tak terpikirkah para penyelenggara ataupun penyedia hiburan tersebut oleh dampak yang akan ditimbulkan? Bagaimana bila anak-anak yang dalam hal ini belum memiliki ‘filter’ yang cukup baik untuk menyaksikan adegan tersebut?
Demikian juga ibu-ibu. Saya agak heran juga mereka menonton acara tersebut, seolah-oleh ikhlas melihat anak yang dibawanya untuk menyaksikan orkes tersebut yang otomatis akan mempengaruhi mental si anak tersebut?
Setahu saya, di Negara Amerika sekalipun, yang notabene-nya Negara Liberal, mereka tidak sembarangan menyelenggarakan acara yang mengumbar tarian erotis disembarang tempat. Apabila hal itu terjadi, maka pihak keamanan tidak akan main-main untuk memberikan hukum bagi pihak penyelenggara.
Juga sadarkah kita bahwa acara-acara tersebut, seringkali, diadakan dimoment-moment yang cukup sakral, seperti sunatan dan pernikahan…
Atau barangkali, kita sudah menganggap kedua moment diatas sudah tidak lagi sakral???
14:14 Posted in Budaya | Permalink | Comments (7) | Email this
29 October 2007
Kebenaran itu Bukan Tradisi
TRADISI adalah suatu perilaku yang lazim orang lakukan dalam sebuah tatanan masyarakat tertentu secara turun menurun. Hal ini dilakukan semata-mata karena sifat dari tradisi adalah kontinuitas, dilakukan terus menerus sesuai dengan apa yang dilakukan oleh para pendahulu mereka.
Namun, terkadang hanya sedikit sekali orang yang berani tampil untuk menggugat keabsahan akan suatu nilai dari sebuah tradisi. Sejarah atau pengalaman, setidaknya membuktikan dan menorehkan tinta buram bahwa seseorang atau sekelompok individu tertentu yang mencoba menggugat akan nilai dari sebuah tradisi malah imbasnya akan dikucilkan, ditentang, diperangi atau lebih parahnya lagi harus mengakhiri masa hidupnya di tiang gantungan.
Sebutlah nama-nama seperti Socrates yang harus (dipaksa) meminum racun akar cemara, Galileo yang harus meregang hayat di tiang gantungan atau juga bahkan baginda Nabi Besar Muhammad SAW yang harus rela dikejar-kejar kaumnya untuk dibunuh. Hal tersebut harus menimpa mereka, lagi-lagi karena mereka menggugat adat atau tradisi yang sudah mapan di kalangan suatu kaum atau tatanan masyarakat tertentu. Para tokoh-tokoh diatas mencoba menentang atau mengganti suatu mainstream yang dirasa tidak benar menuju suatu pencerahan.
Eksistensi suatu tradisi memang tidak bisa dianggap remeh. Meskipun kadang terasa tidak masuk akal, bahkan menyimpang dari tatanan kemanusiaan yang hakiki, kita bisa dengan mudahnya menjustifikasi bahwa ‘hal’ itu benar dan tidak perlu dipermasalahkan.
Di lain sisi, Indonesia yang terdiri dari ratusan pulau, ribuan suku dan jutaan manusia, pastinya memiliki banyak variasi tradisi satu sama lainnya. Ambilah satu tradisi yang berkembang diantara beberapa etnis sunda. Mereka lazim menggunakan istilah ‘pamali’ untuk seseorang yang bertindak tidak sesuai dengan adat atau tradisi yang berkembang diantara mereka. Seperti contohnya, ‘Jangan berdiri di depan pintu, nanti jodohnya jauh’. Lain sunda, lain lagi penduduk Jawa. Diantara mereka masih saja ada yang menggengam erat akan kebenaran ‘primbon’.
Lalu, pertanyaan dasar yang muncul adalah; “Mengapa Di zaman yang kini jarak, waktu dan tempat sudah lagi tidak merupakan suatu halangan dalam berkomunikasi, masih saja ada orang yang begitu menggengam suatu tradisi yang bertentangan secara nalar dan logika? Lalu dimanakah peran nalar manusia dalam menjustifikasi bahwa tradisi ‘ini’ dapat dikategorikan suatu kebenaran?
Hal itu dapat dijawab sebagaimana yang digambarkan oleh seorang filusuf Denmark, Soren Kierkegaard perihal manusia yang selalu mengekor terhadap apa yang diikuti oleh manusia kebanyakan tanpa meninjau kembali apa ‘esesnsi’ dari perbuatannya tersebut. Apabila ia ditanya, mengapa melakukan ‘hal’ tersebut, dengan mudahnya mungkin ia akan menjawab, “Ini saya lakukan, karena semata-mata orang-orang pun melakukannya demikian”.
Manusia seperti ini dikategorikan oleh Kierkegaard sebagai ‘manusia massa’, atau dalam istilah Heidegger, ia menyebutnya dengan sikap Verfallenheit (keterpurukan sebuah eksistensi manusia) dimana situasi ini dapat diekuasikan dengan hilangnya nilai nalar yang digantikan dengan kesadaran yang bersifat kolektif yang terkadang menggekang kebebasan berfikir kritis yang sifatnya individu.
Lihatlah sekeliling kita saat ini. Entah berapa banyak tradisi yang berkembang dikalangan para petinggi, yang notabene mereka menggengam manis buahnya pendidikan tinggi, malah sikap yang ditunjukan seolah bertentangan dengan latar belakang pendidikan mereka masing-masing.
Ambilah contoh, para hakim yang rela ‘melacurkan’ tegaknya keadilan, mau-maunya melego keputusan hanya dengan gepokan lembar uang US dolar, misalnya. Atau juga para aparat lalu lintas yang kini menjelma menjadi ‘hantu disiang bolong’ bagi para supir dan knek angkutan kota serta para pengendara. Atau juga para pejabat pemegang kebijakan yang dengan ‘ikhlas’-nya membarter undang-undang yang tidak berfihak pada rakyat dengan undang-undang yang menguntungkan sebagian kelompok atau golongan tertentu misalnya. Hal ini seolah-olah memperkuat thesis bahwa secara tidak sadar kini bangsa kita mempunyai tradisi atau budaya baru dalam kehidupan sehari-hari.
Suap-menyuap bukanlah barang baru dalam masyarakat pasca reformasi ini. Sebuah kriminal yang ‘manis’, yang ganjarannya (mungkin) juga terasa manis bagi para pelakunya.
Pernah pula saya terbengong-bengong ketika berada di Samsat, ketika sedang memproses SIM C, sementara saya menunggu dengan ‘terpaksa’ sabar selama lebih dari lima jam, seketika itu ada orang yang jikalau saya prediksi kedatanganya kurang dari satu jam, malah dengan senyum kemenangan melenggang menggengam SIM-nya yang sudah jadi. Karena penasaran, saya pun bertanya mengapa kok dia bisa secepat itu. Yang ditanya bukannya menjelaskan dengan penjelasan yang memuaskan, malah bilang saya ini kelewat lugu. Dengan santainya, sang bapak itu berkata singkat pada saya (bunyinya mirip dengan semboyan salah satu iklan biskut):
“Biasalah… sudah tradisi….”
16:10 Posted in Budaya | Permalink | Comments (0) | Email this

