06/22/2008

Budaya Nyawer Versus Sakralism

Gimana? Masih mau digoyang?

Tarik, mang… Ooogaaahh pulanggg…!!

Suatu ketika, ketika saya sedang dalam perjalanan pulang, saya terjebak macet. Macet? Ya, kata yang satu ini bukanlah merupakan barang antik apalagi langka bagi seluruh penghuni belantara metropolitan ini. Setiap hari, terutama Rush-hour, kemacetan laksana Koran harian nasional yang bisa anda dapatkan dimana saja, kapan saja.

Tapi kemacetan yang saya alami ini agak sedikit unik. Unik? Ya bisa dikatakan begitu. Unik karena jalur yang saya tempuh menuju rumah adalah jalur alternatif, kalau tidak ingin dikatakan jalur kampung, dimana sangat jarang sekali terjadi hal seperti ini. Awalnya, dalam hati saya juga agak sedikit aneh. Tidak biasa-biasanya, pikirku.

Tak selang dalam hitungan menit, saya pun menyadari, rupanya kemacetan ini dipicu karena ada salah satu warga disitu yang menyelenggarakan hajatan (lebih tepatnya dikatakan pernikahan anaknya). Dan lazimnya budaya pop saat ini, dimana orang kampung mengadakan hajatan, orkes dangdut terasa hal yang wajib untuk diadakan. Begitu juga halnya dimana ada orkes dangdut, maka ‘nyawer’ merupakan salah satu pelengkap yang tidak boleh disia-siakan begitu saja.

Aku juga heran, seingatku dulu, jauh ketika aku masih duduk dibangku Sekolah Dasar, acara hajatan tak lengkap tanpa adanya bioskop rakyat, yang layarnya berbalut spanduk putih besar ditumpu oleh dua tiang bambu panjang yang menjaganya. Orang biasa menyebutnya ‘Lacar Tancap’. Tapi kini, seolah-oleh budaya tersebut sudah lekang dimakan zaman. Orang lebih memilih orkes dangdut bila dibandingkan dengan hal diatas.  

3343d37195a82f978d8e9f8b52156259.jpgAda fenomena menarik yang saya amati dari budaya orkes dangdut tersebut. Yang pertama, Artis/ biduwanita pembawa lagunya. Hal ini dirasa sangat penting dan bisa dikatakan ujung tombak bagi para pengusaha penyedia hiburan orkes dangdut tersebut. Mengapa saya katakan penting? Penting karena fakta lapangan, setidaknya mengambarkan fenomena bahwa penonton tidak terlalu peduli atau ambil pusing mengenai kualitas olah vokal yang bisa bikin mba ii atau Indra Lesmana sakit kuping selama tujuh hari, tujuh malam. Penonton, atau lebih tepatnya disebut masyarakat awam, terlalu lugas untuk hal tersebut. Mereka hanya butuh tontonan, lain tidak. Oleh karena itu, meski suara agak serak-serak banjir, sing penting goyangane’ mang….!a8ebd9adc12c5acc781719a4ea32760b.jpg

Yang kedua, sebagaimana yang telah saya sebutkan diatas dan kiranya menjadi titik bahasan kita kali ini, adalah Nyawer. Sawer atau nyawer berasal dari bahasa sunda dan bahasa Jawa yang berarti ‘Melempar uang kekhalayak ramai’. Awalanya budaya ini dilakukan pada saat upacara pernikahan. Hal ini dilakukan semata-mata dengan harapan bahwa si pe-nyawer dapat diberikan kelapangan rizki dan kemudahan dalam menghadapi urusan-urusannya dikemudian hari kelak. Tapi selang waktu berjalan, nyawer lebih lekat maknanya kepertunjukan orkes dangdut. Dimana ada orkes dangdut, disitulah eksis budaya nyawer.

Yang saya heran adalah, para pelaku nyawer, biasanya, berasal dari orang/ kalangan yang teramat biasa, kalau tidak ingin dikatakan pas-pasan. Seperti dikampungku, contohnya. Biasanya yang paling getol melakukan aksi tersebut, sebutlah bang Bonje. Padahal sehari-hari, profesinya adalah pengendara ojek. Yang kita bisa mengestimasi pendapatan per-harinya sudah pasti tak sebesar pengendara pesawat terbang.

Pada beberapa kesempatan, misalnya, nyawer biasanya untuk mengukuhkan identitas pribadi si pelakunya. Tentu saja, si-penyawer akan merasa malu apabila ia berlenggok-lenggok ria dihadapan sang biduwanita dengan lembaran duit ribuan. Bisa dipastikan ia akan menggengam uang setidaknya dua puluh, lima puluh, bahkan sampai seratus ribuan ditangannya. Pertanyaan dasar saya adalah, mengapa mereka begitu ‘ikhlas’ mengeluarkan hasil jerih payah mereka dalam hitungan menit setelah berpacu dengan kerasnya hidup dalam hitungan bulanan? Atau yang lebih parah lagi – jikalau mereka sudah punya anak dan istri – tega-teganya melepas jumlah tersebut ketangan biduwanita yang boro-boro kenal akrab, wong tahu nomor HP-nya saja sudah terhitung ‘anugrah’ dibandingkan dengan memberikan uang tersebut ketangan istrinya yang telah setiaa menemani mereka selama belasan, bahkan puluhan tahun?

Satu lagi yang membuat saya demikian masygul. Acara tersebut (orkes dangdut) biasanya dan memang sudah dapat dipastikan diselenggarakan ditempat publik, dalam kata lain bisa disaksikan siapa saja, tak pandang usia. Baik mas-mas, ibu-ibu, janda-janda, bahkan parahnya disaksikan juga oleh anak-anak yang masih dibawah umur.

Tak terpikirkah para penyelenggara ataupun penyedia hiburan tersebut oleh dampak yang akan ditimbulkan? Bagaimana bila anak-anak yang dalam hal ini belum memiliki ‘filter’ yang cukup baik untuk menyaksikan adegan tersebut?

Demikian juga ibu-ibu. Saya agak heran juga mereka menonton acara tersebut, seolah-oleh ikhlas melihat anak yang dibawanya untuk menyaksikan orkes tersebut yang otomatis akan mempengaruhi mental si anak tersebut?

Setahu saya, di Negara Amerika sekalipun, yang notabene-nya Negara Liberal, mereka tidak sembarangan menyelenggarakan acara yang mengumbar tarian erotis disembarang tempat. Apabila hal itu terjadi, maka pihak keamanan tidak akan main-main untuk memberikan hukum bagi pihak penyelenggara.

Juga sadarkah kita bahwa acara-acara tersebut, seringkali, diadakan dimoment-moment yang cukup sakral, seperti sunatan dan pernikahan… 

44ca343c461862608aba15c42b2f905f.jpgAtau barangkali, kita sudah menganggap kedua moment diatas sudah tidak lagi sakral??? 

14:14 Posted in Budaya | Permalink | Comments (7) | Email this

10/29/2007

Kebenaran itu Bukan Tradisi

TRADISI adalah suatu perilaku yang lazim orang lakukan dalam sebuah tatanan masyarakat tertentu secara turun menurun. Hal ini dilakukan semata-mata karena sifat dari tradisi adalah kontinuitas, dilakukan terus menerus sesuai dengan apa yang dilakukan oleh para pendahulu mereka.

Namun, terkadang hanya sedikit sekali orang yang berani tampil untuk menggugat keabsahan akan suatu nilai dari sebuah tradisi. Sejarah atau pengalaman, setidaknya membuktikan dan menorehkan tinta buram bahwa seseorang atau sekelompok individu tertentu yang mencoba menggugat akan nilai dari sebuah tradisi malah imbasnya akan dikucilkan, ditentang, diperangi atau lebih parahnya lagi harus mengakhiri masa hidupnya di tiang gantungan.

Sebutlah nama-nama seperti Socrates yang harus (dipaksa) meminum racun akar cemara, Galileo yang harus meregang hayat di tiang gantungan atau juga bahkan baginda Nabi Besar Muhammad SAW yang harus rela dikejar-kejar kaumnya untuk dibunuh. Hal tersebut harus menimpa mereka, lagi-lagi karena mereka menggugat adat atau tradisi yang sudah mapan di kalangan suatu kaum atau tatanan masyarakat tertentu. Para tokoh-tokoh diatas mencoba menentang atau mengganti suatu mainstream yang dirasa tidak benar menuju suatu pencerahan.

Eksistensi suatu tradisi memang tidak bisa dianggap remeh. Meskipun kadang terasa tidak masuk akal, bahkan menyimpang dari tatanan kemanusiaan yang hakiki, kita bisa dengan mudahnya menjustifikasi bahwa ‘hal’ itu benar dan tidak perlu dipermasalahkan.

Di lain sisi, Indonesia yang terdiri dari ratusan pulau, ribuan suku dan jutaan manusia, pastinya memiliki banyak variasi tradisi satu sama lainnya. Ambilah satu tradisi yang berkembang diantara beberapa etnis sunda. Mereka lazim menggunakan istilah ‘pamali’ untuk seseorang yang bertindak tidak sesuai dengan adat atau tradisi yang berkembang diantara mereka. Seperti contohnya, ‘Jangan berdiri di depan pintu, nanti jodohnya jauh’. Lain sunda, lain lagi penduduk Jawa. Diantara mereka masih saja ada yang menggengam erat akan kebenaran ‘primbon’.

Lalu, pertanyaan dasar yang muncul adalah; “Mengapa Di zaman yang kini jarak, waktu dan tempat sudah lagi tidak merupakan suatu halangan dalam berkomunikasi, masih saja ada orang yang begitu menggengam suatu tradisi yang bertentangan secara nalar dan logika? Lalu dimanakah peran nalar manusia dalam menjustifikasi bahwa tradisi ‘ini’ dapat dikategorikan suatu kebenaran?

Hal itu dapat dijawab sebagaimana yang digambarkan oleh seorang filusuf Denmark, Soren Kierkegaard perihal manusia yang selalu mengekor terhadap apa yang diikuti oleh manusia kebanyakan tanpa meninjau kembali apa ‘esesnsi’ dari perbuatannya tersebut. Apabila ia ditanya, mengapa melakukan ‘hal’ tersebut, dengan mudahnya mungkin ia akan menjawab, “Ini saya lakukan, karena semata-mata orang-orang pun melakukannya demikian”.

Manusia seperti ini dikategorikan oleh Kierkegaard sebagai ‘manusia massa’, atau dalam istilah Heidegger, ia menyebutnya dengan sikap Verfallenheit (keterpurukan sebuah eksistensi manusia) dimana situasi ini dapat diekuasikan dengan hilangnya nilai nalar yang digantikan dengan kesadaran yang bersifat kolektif yang terkadang menggekang kebebasan berfikir kritis yang sifatnya individu.

Lihatlah sekeliling kita saat ini. Entah berapa banyak tradisi yang berkembang dikalangan para petinggi, yang notabene mereka menggengam manis buahnya pendidikan tinggi, malah sikap yang ditunjukan seolah bertentangan dengan latar belakang pendidikan mereka masing-masing.

Ambilah contoh, para hakim yang rela ‘melacurkan’ tegaknya keadilan, mau-maunya melego keputusan hanya dengan gepokan lembar uang US dolar, misalnya. Atau juga para aparat lalu lintas yang kini menjelma menjadi ‘hantu disiang bolong’ bagi para supir dan knek angkutan kota serta para pengendara. Atau juga para pejabat pemegang kebijakan yang dengan ‘ikhlas’-nya membarter undang-undang yang tidak berfihak pada rakyat dengan undang-undang yang menguntungkan sebagian kelompok atau golongan tertentu misalnya. Hal ini seolah-olah memperkuat thesis bahwa secara tidak sadar kini bangsa kita mempunyai tradisi atau budaya baru dalam kehidupan sehari-hari.

Suap-menyuap bukanlah barang baru dalam masyarakat pasca reformasi ini. Sebuah kriminal yang ‘manis’, yang ganjarannya (mungkin) juga terasa manis bagi para pelakunya.

Pernah pula saya terbengong-bengong ketika berada di Samsat, ketika sedang memproses SIM C, sementara saya menunggu dengan ‘terpaksa’ sabar selama lebih dari lima jam, seketika itu ada orang yang jikalau saya prediksi kedatanganya kurang dari satu jam, malah dengan senyum kemenangan melenggang menggengam SIM-nya yang sudah jadi. Karena penasaran, saya pun bertanya mengapa kok dia bisa secepat itu. Yang ditanya bukannya menjelaskan dengan penjelasan yang memuaskan, malah bilang saya ini kelewat lugu. Dengan santainya, sang bapak itu berkata singkat pada saya (bunyinya mirip dengan semboyan salah satu iklan biskut):

“Biasalah… sudah tradisi….”   

16:10 Posted in Budaya | Permalink | Comments (0) | Email this