09 July 2008
Sekedar Merenung...
Kemarin, ketika saya sedang asyik-masyuk bermadu mesra dengan aku punya bantal guling, tanganku tak sengaja menjatuhkan buku kecil (pocket) milik adikku. Urung aku pungut buku tersebut dan aku menemukan sebuah judul "Kumpulan Cerita Sufi".
Singkat cerita, saya buka buku tersebut (halaman, sekenanya) dan saya mendapati sebuah cerita tentang seorang sufi wanita terkenal yang bernama lengkap Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah (baca: Rabi'atul Adawiyah). Ia seorang sufi yang dilahirkan sekitar awal kurun kedua Hijrah berhampiran kota Basrah di Iraq. beliau dibesarkan dalam sebuah keluarga yang miskin dgn kebendaan namun kaya dgn ibadah.
Suatu hari ia pernah ditanya oleh sahabatnya.
Sahabat; "Kalau boleh aku tahu, Seberapa besar kebencianmu terhadap Syaitan, wahai Rabi'ah?"
Rabi'ah; "Seluruh ruang dan relung hatiku kini sudah penuh oleh rasa cinta kepada Allah SWT. Bagaimana mungkin aku bisa membenci sesuatu, apalagi terhadap makhluk yang telah dicipta-NYa..."
Subhanallah... Begitu besar rasa cintanya terhadap Allah, asyik terlena bercumbu dengan-Nya sehingga tak adalagi ruang untuk memikirkan syaitan sama sekali...
Sementara kita... terlalu asyik terlena bercumbu dengan Syaitan, sehingga tak adalagi ruang untuk memikirkan Tuhan...
14:56 Posted in Balada Sang Iblis | Permalink | Comments (2) | Email this
07 September 2007
Seiblis-iblisnya Iblis (Part 1)
“DASAR iblis luh…! Nggak punya otak apa? Mobil gua segede Gaban masih elu tabrak juga? Pokoknya, gak ada urusan. GANTI!!!”
“Emang iblis itu orang! Bayangin saja, sudah punya bini, ‘ladang’ orang masih digarap juga. ‘Ga tanggung-tanggung, mantunya ‘ndiri dia libas… uedan tenan!”
“Iblis banget tuh perempuan…! Masak, gara-gara ketahuan selingkuh, suaminya sendiri dia bakar dipekarangan kebun. Ngerjainnya, bareng sama selingkuhannya lagi… hatinya kemana sich???"
****************
SERING kali, bahkan mungkin setiap hari kita mendengar orang mengumpat, mencaci, memaki dengan memakai lisensi kata ‘IBLIS’. Mayoritas, kata-kata tersebut dilontarkan apabila si ‘empu-nya’ makian, sudah kehabisan referensi kata-kata yang sesuai untuk diaplikasikan kepada objek makiannya itu.
Mau bilang; “Kucing luh, Anjing luh, Cicak luh, Buaya luh, Komodo luh"dan seabrek koleksi ‘kebun binatang’ lainnya, dirasa sudah tidak relevan lagi. Maka solusi terakhir kosa kata yang dipakai yaitu tadi, IBLIS luh…!! Dirasa paling signifikan demi memuaskan nafsu gejolak batin yang sedang berkecamuk.
Namun kalau kita telaah secara objektif dengan menggunakan kerangka berfikir yang sehat, mungkin pada akhirnya kita juga nanti sendiri yang akan tertegun pada akhirnya.
Baiklah, untuk mempersingkat tulisan ini, pertama-tama kita telaah dulu siapa sebenarnya IBLIS itu tadi.
Yang Pertama, hal ini sudah maklum, dan mayoritas mungkin anak-anak kita semua sudah mengetahui siapa IBLIS itu sendiri. Iblis adalah salah satu makhluk Tuhan yang diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dari element api dan diusir dari Syurga karena menolak perintah Tuhan untuk sujud kepada sang Adam, manusia pertama yang terbuat dari tanah.
Yang Kedua, pasca pen-deportasi-an dirinya dari syurga (7: 18), rupanya si-iblis itu tadi mendeklarasikan permusuhan abadi (everlasting war) kepada manusia, yang dituduh telah menghilangkan eksistensi kedaulatannya untuk bersemayam disyurga, untuk menyeretnya ketempat tinggal abadi mereka (baca: para Iblis) nanti di Neraka. Dalam hal ini, Tuhan telah bersumpah bahwa persemayaman si-Iblis beserta keturunannya nanti adalah di Neraka (26: 94-95). Maka dari itu, dari pada mubazir nanti lahan di Neraka, ia juga akan mengajak Adam beserta keturunannya untuk ‘teken kontrak’ kavling di Perumahan Jahanam itu (38: 45).
Yang Ketiga, mungkin kita harus sedikit merenung khusus untuk hal yang satu ini. Kesalahan iblis satu-satunya, sehingga ia divonis untuk mendiami kaveling tersebut, semata-mata bukan karena ia tidak mau sujud, takut dan tidak mau mengesakan Tuhan. Sekali lagi, bukan! Justru, si-Iblis itu sangat takut, dan menjunjung tinggi martabat Tuhan setinggi-tingginya. Hanya saja, ini masalah takabur. Masalah ‘sok’, merasa sok tahu, merasa egois, over-height self reliance dan tidak mau mengakui eksistensi sesama makhluk Tuhan, dalam hal ini kita sebagai Manusia (2: 34).
Ia tidak mau dipandang derajat dirinya lebih rendah dibandingkan dengan derajat makhluk ‘baru kemaren’. “Masak, senior disuruh sujud sama junior? Sudah gitu, mending, kalau juniornya oke… ini udah junior, amatir, bahan-bahannya dari Tanah lagi! Eh, sok-nya mau jadi pemimpin, wakil Tuhan dibumi segala. Wong aku saja sama saudaraku (entah dia menyebut malaikat dengan sebutan seperti ini atau tidak ya?) yang jauh lebih mulia, dan lebih berpengalaman saja, ndak berani… eh, si-Adam mau-maunya… dengan menggunakan dalil logika apapun, aku emoh sujud sama dia! Nehi-nehi la yau…!”
Begitulah, jadi satu-satunya kesalahan si-Iblis tadi itu, semata-mata bukan karena tidak mau tunduk dan tidak mau mengesakan Tuhan melainkan karena factor-faktor diatas yang telah saya sebutkan.
Kalau berbicara masalah tidak mau tunduk dan patuh kepada Tuhan, saya rasa (disamping Malaikat) Iblis merupakan salah satu makhluk yang paling patuh terhadap Tuhan. Kok bisa?
Jelas saja bisa. Disamping iblis sangat patuh ia juga tergolong makhluk yang mempunyai integritas tinggi terhadap sebuah komitmen yang digenggamnya. Etos kerjanya bisa diuji dan tahan banting. Lha kok?
Dari dahulu sekali sampai detik ini, sang iblis begitu kekeuh terhadap janji dan komitmen yang ia deklarasikan kepada Tuhan pasca pengusirannya dari syurga. Tak pernah sekalipun mengeluh, nge-grundel, capek, lelah, letih untuk menjalankan fungsinya guna menggoda ummat manusia. Bahkan dalam Al Qur’an pun jelas diterangkan bahwa ia akan menggoda manusia dari segala penjuru. Nggak kena atas, bawah dia libas. Ngga dapet kiri, kanan-pun jadi (17: 16-17).
Begitulah etos kerja iblis yang patut diperhitungkan. Tak pernah terbesit dalam nuraninya untuk sekedar berkata; “Duh, lama-lama bosen juga nih saya… ribuan tahun, kerjanya ‘itu-itu’ melulu, ngga ganti-ganti. Ah, improvisasi dikit ah… mau bisikin manusia untuk beribadah kepada Tuhan, biar dia nanti jadi hamba yang beriman, bertaqwa dan bisa masuk syurga” Tidak pernah terjadi, walau sesaat pun. Karena dalam kamus iblis, ‘Sekali hidup, hiduplah berarti. Jejali manusia dengan mimpi-mimpi agar mereka tak mencumbu aroma syurgawi’ (47: 25).
Iblis membunuh Iblis? Tak pernah sekalipun kita dengar kabarnya, walau dalam acara gossip manapun. Justru sesama iblis itu terdapat jaringan yang kuat untuk saling mengembangkan sayap SDI (Sumber Daya Iblis) mereka satu sama lain.
Mereka dirikan lembaga-lembaga keterampilan, mengadakan pelatihan, memajukan pusat studi How to get a lot of adherents (dalam hal ini manusia tentu saja) yang tujuannya yaitu satu itu tadi. Menjerumuskan manusia kelembah yang paling nista, baik didunia maupun diakhirat.
Iblis sangat menyayangi anak-keturunan mereka. Meraka melahirkannya, mengasuhnya, mendidiknya dan membekali mereka dengan segenap ilmu pengetahuan yang up to date guna memperbaharui metodologi yang berkembang belakangan.
Mengapa ini semua mereka lakukan? Hal ini semata-mata, keturunan, bagi mereka adalah asset yang patut dijaga dan dipelihara guna melanjutkan misi serta cita-cita.
Iblis pun, tak pernah sekali-kali korupsi. Dana yang mereka dapatkan dikelola dengan baik dan adil merata. Lagi-lagi hal ini mereka lakukan untuk mengembangkan sarana pendidikan para sarjana Iblis dalam memperbaharui teknik serta metode dalam menggoda umat manusia. “Teknik dan Metode Zamannya Musa sudah tidak relevan lagi digunakan diabad millennium sepeti saat sekarang ini”. Celoteh Iblis suatu kali.
Iblis makhluk yang bodoh? Jangan sekali-sekali anda berasumsi seperti ini. Seluruh konfrensi ilmuan dijagat ini, bisa jadi takluk hanya dengan seutas bisikan dari Prof. Dr. Iblis, LA (La’natullah alaihi) itu.
Maka dari itu jangan heran, kalau godaan serta ajakan iblis masa kini semakin varian dan membingungkan. “Kalau ‘begini’, haram nggak ya…? Kalau begitu ‘dosa’ nggak ya…? Apa ada dalil syar’i-nya…? Nash-nya? Haditsnya? Kadang-kadang masalah-masalah seperti itu seringkali kita temui dalam fenomena sehari-hari.
Para pemimpin Iblis-pun, tak pernah berkhianat. Semua kebijakan tetap harus bercorong kepada ‘empu kramat’ mereka, yang dahulu kala menjadi saksi sejarah diusirnya dari alam syurga. Mereka amat setia dalam menggenggam amanah, tak pernah sekalipun melenceng dari apa yang telah digambarkan dan dicita-citakan oleh sang founding father mereka. Kakek, uyut, dan buyut mereka.
Setelah mencermati dan meneliti fenomena-fenomena diatas, lantas bagaimanakah tanggapan kita sebagai makhluk yang eksistensinya begitu amat dihargai oleh Yang Maha Kuasa, sampai-sampai makhluk yang bahan dasarnya (mungkin) lebih mulia dari kita seperti Malaikat diharuskan tunduk dan sujud kepada kita?
Apakah sudah cukup bisa dibanggakan etos serta integritas kita bila dibandingkan dengan fenomena Iblis diatas barusan? Terlalu banyak, manusia yang memakan manusia. Suami memperkosa istrinya sendiri, menggauli anaknya sendiri, membunuh ibunya sendiri. Anak membakar orang-tuanya sendiri. Sahabat mengkhianati sahabatnya sendiri. Dan yang paling parah, Pemimpin menghisap darah rakyatnya sendiri. Hingga kering, tak tersisa, membunuh secara perlahan.
Oleh karena itu, camkan kembali ketika kita hendak ingin mengumpat seseorang. Jangan lagi kita menggunakan lisensi kata ‘Iblis’ lagi. Menurut saya, sebagai manusia yang cerdas dan mau menerima kebenaran data-data ilmiah. Kita harus mengucap;
DASAR MANUSIA LUH…!!!
15:45 Posted in Balada Sang Iblis | Permalink | Comments (0) | Email this

