« Life means absurd | HomePage | Budaya Nyawer Versus Sakralism »
02/29/2008
Kalau tak mau ‘perang’ lebih baik ‘pulang’
Hidup itu selamanya bermakna persaingan, pergulatan, dan pertempuran. Siapa yang mendominasi maka dialah yang akan mengenggam manisnya kemenangan. Jangan berharap berkah turun dari langit hanya dengan duduk bersila dan menengadahkan tangan keatas.
Aku selamanya akan meragukan apa itu makna bakat. Bakat hanya ada di dalam cerita-cerita dongeng orang tua jaman dahulu. Entah neneknya nenek saya atau juga kakeknya buyut saya. Bakat adalah akumulasi dari ribuan butiran peluh, luapan keringat, dan juga jutaan makian serta cemoohan manusia-manusia rendah yang bisanya hanya memandang apa itu makna kesempurnaan. Namun semua itu dijadikan oleh si penuntut bakat sebagai cambuk api yang meluluh-lantahkan rasa malas yang senantiasa melekat di dalam jiwa…
************
SELAMA hampir seperempat abad hidung ini menghirup sejuknya udara yang senantiasa ditiupkan Tuhan, sampai saat ini aku masih dinaungi kabut absurditas. Absurd, karena makhluk tolol ini selalu saja merasa ada yang ‘kurang’. Entah itu kurang ini, kurang itu, hingga kurang segala. Mata ini selalu saja terasa pedas, bila menyaksikan pemandangan (entah itu di media, maupun kehidupan nyata) manusia-manusia muda yang hampir seusia denganku, bahkan lebih muda dariku, sudah mantap menggenggam makna ‘Inilah Saya’, gendang telinga ini seolah-oleh hendak pecah bila mendengar gejolak semangat muda yang meneriakkan inti dari idealisme, atau hati ini terasa tersayat-sayat bila merasa ‘Apakah Aku Dilahirkan Hanya Untuk Menjadi Manusia Sia-sia?’
Kadang aku berimajinasi liar dan sering kali tak masuk diakal; “Bila seandainya rasa malas, ogah-ogahan, menunda-nunda waktu itu berubah menjadi wujud materiil yang nyata, sudah bisa dipastikan aku akan tempeleng mereka sekeras mungkin, aku pukul tepat di batang hidung mereka, aku lumat mereka punya geliat, atau apalah tindakan anarkisme lain yang lebih ekstrem dari itu sekalipun, akan aku lakoni demi satu harapan, agar aku terbebas dari belenggu mereka dan bisa juga menggenggam manisnya sebuah kesuksesan buah dari sebuah intensitas dan integritas tanpa harus khawatir mereka mengikuti.”
Atau kadang juga aku berfikir; “Mampukah aku menata masa depan? Memenuhi impian orang tua, terutama ayahku yang berharap anak lelaki pertamanya (setidaknya) menyamai tingkat derajat mereka di mata masyarakat?”
Masih kuingat betul, teriakan lantang ayahku di auditorium utama kampus saat aku diwisuda tahun lalu. Saat itu beliau, tanpa memperdulikan pandangan-pandangan orang-orang tua yang lain, begitu bangga ketika namaku disebut untuk maju ke panggung kehormatan almamater untuk dilantik oleh rektor sebagai Sarjana Sastra.
Masih kuingat betul, tatapan binar matanya yang memancarkan ribuan harapan agar anak lelaki pertamanya dapat menaklukan paradigma masyarakat umum yang berpandangan bahwa seorang sarjana tidak lain hanya akan menjadi ‘Pengangguran Bertitel’
Aku ingin melihatnya lagi… melihat ia tersenyum bangga seperti saat itu… saat dimana aku maju dengan baju ‘disnatalis’ lengkap dengan toga tergenggam dilengan kanan.
Aku ingin mendengar teriakannya lagi… mendengar luapan kegembiraan seorang ayah yang melihat anaknya kini mampu berdiri dengan kakinya sendiri sambil mengepalkan tangannya tergenggam di udara… aku begitu rindu saat-saat itu…
Hampir satu tahun peristiwa itu berlalu, kini aku terpaksa harus menunda ‘impian kami’ untuk menjemput makhluk
bernama kesuksesan untuk sudi singgah di pelataran rumah imaji yang sedang aku bangun. Aku harus menunda karierku, pekerjaanku, income-ku, sapaku dengan mereka, karena kini aku menetap disebuah institusi asing yang terletak dibilangan Bogor, Jawa Barat karena mendapatkan beasiswa studi selama 2 tahun.
Biarlah sang waktu akan menjawab semua usaha-usahaku nanti, aku tidak akan menyerah, apalagi kalah. Biarlah aku berjibaku dengan waktu, berdarah-darah, memar-lebam, aku tak peduli. Satu yang menjadi acuanku kini. Sebuah potongan syair karya STA (Sultan Takdir Ali Syahbana) yang berbunyi;
…
Tidak, bagiku tidak ada kalah dan menang!
Sebab sudah kuputuskan, bahwa kemenangan sudah pasti untukku saja.
Kalah tinggal pada mereka yang lain:
Yang mengeluh jika terjatuh,
Yang menangis bila teriris
…
15:50 Permalink | Comments (1) | Email this
Comments
waaahhh,,, asik yah yang udah wisudaa,,,
irrrriiiiiiiiiiiiii,,,
mau juga di wisuda!!
tapi kayanya masih lama deh,,,
masih 3,5 tahun lagi,,,
huhuhuhuh,,, T_T (SAD)
Posted by: wiendatubee | 03/29/2008