« 2007-10 | HomePage | 2008-02 »

01/12/2008

Life means absurd

Many persons said this thing is true
Many people said it is a clue
I’m only able to watch the sky is blue
I never ask for more than my due

Perhaps somebody we claimed sin was sincere
Maybe we ourselves claimed was sin
Or both of us were sin, or clean?
for whom the hell is provided, then?

Our soul is shackled in a labyrinth
Without knowing which one where the way out is
We perceive, as if only us the men who bless the world
Others only scum of society, permitted to be destroyed

Now, where is the direction we step?
South, north, east, west,
Everything to be hazy
Past, now and future
Portrayed absurd on my wall of limited imagination

I just want to be here…

Sharing all of my fallen soul to ‘my window’
Melting fidgety together for my shadow
Let my mind fly away with spirit started to low

Yeah, for me it’s sufficient…

17:55 Posted in Sastra | Permalink | Comments (0) | Email this

Elegi Kontemplatif

3d87a85aca8f32110f58d84d3b5e47c9.jpg LEMBAYUNG senja sebentar lagi sirna,
tergantikan dengan sejumput awan pekat berselimbut kabut.
Entah... Apakah malam kali ini sudi menghamparkan gemintang yang akan menghiasi cakrawala,
atau pula hanya desir angin dingin yang kan membelai nadi.

Aku tak begitu peduli….
Hanya satu yang aku tahu, aku begitu sangat menyukai malam.
Malam begitu berbeda dengan siang yang hanya menyuguhkan kulum senyum tapi bertopeng rancu.
Malam lebih bersahaja, bersujud hening bertahtakan wibawa.

Setiap saat aku selalu menanti datangnya malam tiba.
Dan biasanya aku selalu menyambutnya dengan penuh suka.
Aku benci siang…
Siang hanya menorehkan cahaya yang menyilaukan,
tidak seperti malam yang senantiasa memberikan sinar ketentraman.
Aku sandarkan raga ini hanya untuk malam, selamanya.
Aku tangiskan derai ini
dan
kupersembahkan hanya untuk singgasana bulan,
lain tidak…

Pada malamlah aku mengadu,
setelah satu siang penuh aku berpacu.
Bergulat dengan hidup yang tak pernah sudi memanjakanku,
barang sejentik kedip.
Aku meracau dalam kegamangan,
terhempas penuh melepas peluh.
Hanya satu pintaku, malam.
Peluklah aku dalam buaianmu,
lepaskan aku dari jerat dogma yang kian mengikat erat,
sesak…

17:30 Posted in Sastra | Permalink | Comments (0) | Email this