12 January 2008
Elegi Kontemplatif
LEMBAYUNG senja sebentar lagi sirna,
tergantikan dengan sejumput awan pekat berselimbut kabut.
Entah... Apakah malam kali ini sudi menghamparkan gemintang yang akan menghiasi cakrawala,
atau pula hanya desir angin dingin yang kan membelai nadi.
Aku tak begitu peduli….
Hanya satu yang aku tahu, aku begitu sangat menyukai malam.
Malam begitu berbeda dengan siang yang hanya menyuguhkan kulum senyum tapi bertopeng rancu.
Malam lebih bersahaja, bersujud hening bertahtakan wibawa.
Setiap saat aku selalu menanti datangnya malam tiba.
Dan biasanya aku selalu menyambutnya dengan penuh suka.
Aku benci siang…
Siang hanya menorehkan cahaya yang menyilaukan,
tidak seperti malam yang senantiasa memberikan sinar ketentraman.
Aku sandarkan raga ini hanya untuk malam, selamanya.
Aku tangiskan derai ini
dan
kupersembahkan hanya untuk singgasana bulan,
lain tidak…
Pada malamlah aku mengadu,
setelah satu siang penuh aku berpacu.
Bergulat dengan hidup yang tak pernah sudi memanjakanku,
barang sejentik kedip.
Aku meracau dalam kegamangan,
terhempas penuh melepas peluh.
Hanya satu pintaku, malam.
Peluklah aku dalam buaianmu,
lepaskan aku dari jerat dogma yang kian mengikat erat,
sesak…
17:30 Posted in Sastra | Permalink | Comments (0) | Email this


The comments are closed.