« Belajar Dari Tukang Telur | HomePage | Seiblis-iblisnya Iblis (Part 1) »

08/13/2007

Memaknai Esensi Simbol Nasionalisme Kita

Pengantar

SIMBOL atau tanda memiliki peranan yang tidak kalah penting dalam kehidupan sehari-hari di sekeliling kita. Simbol atau tanda pasti mengisyaratkan ‘sesuatu’ akan suatu dibalik hal tertentu. Ambil lah satu contoh, lampu merah misalnya, tanpa diperintah atau diberi aba-aba, seseorang (ketika sedang melitas di jalan raya dengan kendarannya) yang kebetulan melihat didepannya menyala lampu merah, pasti akan menghentikan laju kendaraannya dan mempersilahkan kendaraan lain untuk melaju didepannya. Begitupun seterusnya, sadar atau tidak sadar, pola kehidupan dan struktur masyarakat kita akan selalu dipengaruhi dengan eksistensi simbol disekeliling kita.

Simbol Nasionalisme

Begitu pula adanya pada setiap bangsa. Bangsa yang besar pasti memiliki simbol-simbol nasionalisme yang melekat pada diri mereka masing-masing. Ambil satu contoh lagi, simbol nasionalisme Amerika misalnya. Dalam salah satu buku, American Culture and Society, dijelaskan bahwa Amerika, setidaknya, memiliki tiga simbol nasionalisme, diantaranya; Bendera Amerika (U.S.), Bold Eagle, dan gambar James Montgomery Flagg (1877-1960) (yang dibawah gambar tersebut tertera tulisan; “I Want You for U.S. Army”)

Pertanyaan dasar yang muncul adalah; Mengapa mereka (orang Amerika) menjadikan simbol-simbol tesebut menjadi simbol nasionalisme bangsa mereka? Setidaknya ada beberapa alasan yang tertera.

01b21f2b129243714f993e65e39c9ad2.pngYang Pertama, Bendera. Sudah menjadi sebuah keniscayaan bahwa, ciri khas dari eksistensi suatu bangsa, selain adanya warga Negara, bentuk pemerintahan, undang-undang, dan yang tak kalah pentingnya adalah adanya Bendera. Bendera sebagai simbol utama suatu bangsa memiliki peranan yang sangat penting. Karena fungsi utamanya adalah sebagai ciri karakteristik suatu bangsa tertentu. Dan secara tidak langsung, itu adalah ruh dari perjuangan. Bisa dipastikan, suatu bangsa akan murka apabila melihat benderanya di-injak-injak oleh pihak lain atau dilecehkan. Maka dari itu bendera itu laksana suatu muka. Tercoreng, tersobek atau terjatuh bendera itu, maka secara otomatis hilanglah harga diri bangsa tersebut.

51c59de6f36e845607bdd59f0f4a4e89.jpgYang Kedua, Elang. Ada opini yang menarik mengenai simbol yang kedua ini. Orang Amerika bangga akan simbol elang karena mereka menganggap elang adalah hewan yang paling cerdas diantara hewan-hewan yang lain. Dan juga ini didasari oleh pepatah yang mengatakan; “An adroit man is such as an eagle which always hides its claws” [manusia yang pandai adalah laksana elang yang menyembunyikan kuku-nya]. Juga bila kita melihat fenomena elang apabila ingin mencengkram sesuatu (baik korban atau sasarannya), ia akan melakukan pengamatan dengan teliti terlebih dahulu sebelum melakukan aksi ‘maneuver’-nya itu. Dan tahukah anda, setidaknya, menurut Discovery Channel, tingkat keberhasilan elang itu mampu menembus diatas 92,5 %! Sungguh hal yang luar biasa!

392012ceb644115ab1ad2f6bdca2d1e6.jpgDan yang terakhir, gambar James Montgomery Flagg (1877-1960) yang tertera tulisan “I Want you to be U.S. Army”. Untuk penjelasan yang satu ini, mungkin kita harus membaca bukunya Suparman dan Sobirin Malian yang berjudul Ide-Ide Besar Sejarah Intelektual Amerika. Dalam salah satu bab buku tersebut mereka mencantumkan The Myth of West yang bernama Manifest Destiny. Manifest Destiny berarti juga “Salah satu kepercayaan kuat dikalangan orang Amerika yang berarti mereka ditakdirkan oleh Tuhan untuk turun dimuka bumi ini sebagai pemimpin dan penguasa dunia. Pemegang kendali tunggal atas segala kebijakan.

Adapun hubungannya dengan simbol gambar diatas, hal ini berhubungan dengan pendekatan politik internasional mereka yang mengusung realist approach [pendekatan realis]. Bagi kebanyakan kaum realis, power merupakan esensi politik yang sesungguhnya. Dimana pendekatan ini menganjurkan kepada para pemimpin untuk menggunakan teknik-teknik politik dengan berorientasi kepada power. Dan salah satu penyalurannya adalah dengan melakukan perang (violent politics). Kerena perang, sebagai mana dikemukakan oleh Von Clausewitz, merupakan “Political balancing devise through violent act” [alat kesinambungan politik melalui alat kekerasan]. Dan ini bertujuan agar untuk mengatur atau mengontrol prilaku lawan politiknya (Theodore A. Coloumbis, 1990: 6)


Simbol Nasionalisme Kita

Sekarang, marilah kita bandingkan simbol-simbol diatas dengan simbol nasionalisme bangsa kita. Sejauh yang saya tahu, Indonesia memiliki dua simbol kebangsaan yang selama ini kita tahu, simbol burung garuda dan bendera merah putih tentunya. Dan marilah kita telaah satu persatu makna simbol-simbol diatas (tentunya dengan nalar saya yang agak sedikit ‘nakal’)

Yang pertama, burung Garuda. Sewaktu saya masih kecil dulu, saya suka beranggapan bahwa burung Garuda ialah benar-benar hidup adanya. ‘Raja para burung’, begitu kurang lebih petuah guru sejarah saya dahulu. Konsep saya mengenai burung Garuda selalu dikacaukan oleh struktur tubuhnya yang memiliki jumlah bulu pada masing-masing sayap berjumlah 17, bulu pada ekor berjumlah 8, jumlah bulu di bawah perisai/pangkal ekor berjumlah 19, dan jumlah bulu di leher berjumlah 45.

Selang 16 tahun berjalan, saya mulai berfikir, burung macam mana yang bisa melintasi cakrawala hanya dengan memiliki 8 jumlah bulu ekor sayap? Dan ternyata, hal itu di ‘amini’ oleh zoologist manapun yang mengaku tak pernah mampu membuktikan akan eksistensi burung tersebut. Mengapa?

Selidik demi selidik, ternyata burung yang selalu kita agung-agungkan itu tersebut hanya mitos belaka yang berasal dari mitologi Hindu-Budha. Dalam mitos tersebut garuda merupakan wahana (baca: kendaraan) Dewa Wisnu, salah satu trimurti atau manifestasi Tuhan dalam agama Hindu.

Garuda digambarkan bertubuh emas, berwajah putih, bersayap merah. Paruh dan sayapnya mirip elang, tetapi tubuhnya seperti manusia. Ukurannya besar sehingga dapat menghalangi matahari. Garuda adalah seekor burung mitologis, separuh manusia, separo burung.. Ia adalah raja burung-burung dan merupakan keturunan Kaśyapa dan Winatā, salah seorang putri Dakṣa.

Dan gambaran visualisasi diatas, ternyata Garuda juga merupakan lambang suci bagi orang-orang Hindu di Thailand. Dan saya pikir, manifestasinya lebih mendekati versi mereka. Tengoklah gambar dibawah ini:

2792cea00019fb5d0fff90ba4b5cae1e.jpg 570871b83fe77e7564a15920cfec8f6a.jpg

Lalu pertanyaan dasar saya yang muncul adalah, mengapa lambang nasionalisme kita mesti merujuk pada mitologi-mitologi segala? Mitos dalam kata lain. Tidak seperti bangsa Amerika yang saya terangkan diatas. Mereka bangga menjadikan elang sebagai simbol mereka karena hal itu beralasan. Masuk nalar dan logika. Sedangkan kita? Apa juga karena dasar lambang tersebut (yang berdasarkan kepada mitos) maka mayoritas bangsa kita ini juga gemar pada hal-hal yang berbau mitos, klenik dan juga takhayul. Tanya Kenapa?

bed0aa6ecb747c16a14af6b641b8b589.gifYang Kedua, Bendera. Kita mafhum bahwa bendera kita itu terdiri dari dua warna. merah dan putih. Warna merah berada diatas dan Putih dibawahnya. Kita juga mengetahui bahwa merah melambangkan keberanian dan putih berarti suci. Namun, ingatkah kita (berdasarkan urutan warna tersebut) secara tidak langsung, membuat nalar saya yang pas-pasan berfikir. Mengapa mesti merah yang didahulukan? Mengapa tidak putih saja? Lantas hal tersebut, melihat fenomena belakangan, itu sesuai sekali dengan tabiat bangsa kita, terutama sekali para pejabat yang ‘doyan’ untuk mendahulukan keberanian. Tanpa melihat aspek-aspek kerakayatan, terutama sekali aspek kesucian. Korupsi, kolusi, Manipulasi, berebut kursi dan si-si-si lainnya yang esesnya merugikan khalayak ramai. Berebut kursi sampai rela ‘melacurkan’ diri menjadi biang gossip segala. Tidak tanggung-tanggung (mungkin karena kehabisan referensi gossip yang ada) Presiden segala sampai di-gossip-in. Uedddannn tenannnn…

a1a1bb60a384bfb9bb3765a66ff65342.jpgSebagai tambahan, yang menurut saya agak-lebih lucu lagi adalah lambang kerakyatan kita. Hal ini tertera didalam sila-sila pancasila. Dan lambang kerakyatan kita adalah ‘banteng’. Ada apa lagi ini dengan sang banteng…?? Yuk kita telusuri dengan analisis gaya ‘gila’ ini…

“Apa ciri khas yang paling menonjol dari hewan sekaliber banteng?” Jika kita ditanya seperti itu, dengan kompak 81c6adb785f39217b65febdc78e8c906.jpg kita pasti menjawab; “Keberanian, Kekuatan, Tahan Banting, dan lain-lain. Namun terkadang kita lupa, bahwa (bila dibandingkan dengan elang) banteng juga merupakan binatang yang bodoh. Ya! Binatang yang bodoh. Ia selalu silau dengan sesuatu yang mencolok perhatian. Dalam hal ini disimbolkan dengan warna merah. Kemana dan dimanapun ada pusat ‘kesilauan’ itu, ia pasti merengsek menuju kesana. Tatkala warna itu bergerak ke kanan, ia ikut kekanan, ketika berpindah kekiri, ia pun kekiri, dan seterusnya-dan seterusnya.

Ternyata, secara tidak sadar itu juga mencerminkan polah tingkah perilaku rakyat maupun masyarakat kita. Lihatlah, yang ‘ini’ lagi trend, yuuuk semua ikut. Ketika ‘itu’ lagi in, bareng-bareng berkecimpung. Imbasnya kita jadi tidak punya jati diri sebagai bangsa yang berdaulat. Terhitung pakai jari prosentase anak muda yang doyan Nari Jaipongan bila dibandingkan dengan ABG yang doyan nge-dance. Atau juga remaja yang gemar pakai batik dan kebaya, dibandingkan dengan ‘berondong’ yang pamer paha via mini-skirt. Ada apa ini?

Padahal kalau kita analisis melalui sudut pandang pertandingan Matador di Spanyol sana, ending-nya nanti, sang banteng akan ditusuk dan ditikam dari belakang, ketika ia tak menyadari bahwa ia diperdaya.

Siapakah sang Matador itu? Tak lain dan tak bukan ialah ‘kapitalisme global’ yang menghisap sendi-sendi aliran darah kita sampai kering. Lalu siapakah sang banteng tersebut? Tak usah saya jawab, anda pasti sudah mafhum…

Penutup

Fenomena-fenomena yang telah saya sebutkan diatas, jangan sekali-kali anda artikan bahwa saya ini tidak menghargai jerih upaya para Founding Fathers yang telah berletih-letih menciptakan lambang-lambang nasionalisme kita. Sekali lagi tidak! Saya sebagai pemuda yang ‘kebetulan’ dianugerahi oleh Tuhan intelektual pas-pasan hanya ingin bertanya, menggugat, dan mencari esesnsi dari lambang-lambang tersebut. Karena, terus terang, semakin hari, saya semakin pesimis melihat nasionalisme masyarakat kita akan bangsanya semakin terkikis habis. Juga datangnya ide ini dibarengi dengan bersamaan datangnya bulan Agustus.

Bagaimanapun, menurut saya bulan Agustus merupakan bulan yang istimewa diantara bulan-bulan lainnya. Mungkin sama istimewanya dengan datangnya bulan Ramadhan bagi umat Islam dan bulan Desember bagi umat Nasrani.

Tetapi bila melihat kenyataan dilapangan, bulan ‘perjuangan’ ini semata-mata hanya dimanifestasikan dengan euphoria yang sifatnya sangat tidak substansial. Tengoklah, beberapa RT yang mengaplikasikan semangat juang para pahlawan hanya dengan menggelar lomba catur, lomba gaplek, makan kerupuk, masukan paku dalam botol dan seabrek lomba-lomba lainnya serta ditutup dengan digelarnya panggung rakyat yang menyuguhkan bokong-bokong indah menguak cakrawala.

Bukannya saya tidak setuju dengan diadakan lomba-lomba tersebut. Yang sangat saya sayangkan adalah minimnya apresiasi pemahaman akan esensi dari kemerdekaan itu sendiri.

Waallahu ‘alam bi murodih…

* Mohon komentarnya atas ke-‘mbeling’-an saya ini…