« Si Abang dari Subang | HomePage | Memaknai Esensi Simbol Nasionalisme Kita »

08/10/2007

Belajar Dari Tukang Telur

c09e7b7f9b8f230a5749a4c971560116.jpg
SAYA ini termasuk orang yang paling suka kelayaban. Tak betah di rumah. Entah mengapa? Meskipun barang satu hari saja. Biasanya – pada hari-hari biasa – saya selalu dipenuhi dengan aktifitas mengajar Bahasa Inggris (padahal bahasa Inggris saya tidak bagus-bagus amat) dan pergi ke tempat-tempat yang bisa membangkitkan inspirasi. Kalau pun terpaksa harus mendekam di rumah, itu tidak lebih dari melakukan aktifitas-aktifitas rutin yang saya rasa wajib dan memang harus di lakoni, seperti tidur, mencuci baju-baju (biasanya selang satu pekan, saya baru melakukan aktifitas yang satu ini), dan menulis.

Mengapa saya suka sekali pada jalanan? Karena saya pikir, di jalanan lah saya bisa mendapatkan sebuah pelajaran yang ‘maha berharga’ guna dijadikan sebuah refleksi akan sebuah revitalisasi misi, yang tidak akan saya dapatkan dalam buku manapun. Meskipun tebalnya mencapai ribuan lembar. Karena pula pengalaman menggambarkan sebuah realitas yang terkadang begitu mengetuk, bahkan sering kali menggedor relung hati yang kemudian melesak jauh kedalam ruang intuisi saya. Berbeda dengan buku, yang terkadang hanya menyodorkan teori-teori ‘kering’ dan pengalaman orang dalam menghadapi sebuah realitas yang dinamakan kehidupan. Walaupun terkadang pengalaman orang bisa saja hinggap pada individu kita, tetapi pada dasarnya masing-masing kepala mempunyai cara penyikapan yang berbeda dalam setiap problema.

Semisal contohnya, setiap kali saya melihat sesuatu yang saya anggap luar biasa menurut ukuran saya, saya akan berujar dalam hati kecil; “Kapan ya, kira-kira saya bisa seperti itu?” atau bisa saja batin saya berbisik; “Bisakah saya menjadi seperti itu?” namun celakanya, sering kali hal yang saya anggap ‘luar biasa’ itu selalu berkaitan dengan hal-hal yang bersifat duniawi atau materi. Seperti ketika melihat sebuah rumah atau kendaraan bagus, contohnya. Obsesi saya terkadang mengatakan; “Mampukah saya memilikinya dalam jangka waktu dekat ini?”

Mengingat, walaupun umur ini sudah hampir menginjak ‘seperempat abad’, saya termasuk dalam kategori manusia yang masih ngĕtek sama orang tua. Dalam hal ini masih tinggal bersama dengan mereka. Masih disubsidi setiap harinya, masih di-empani mereka, dan masih-masih lainnya layaknya manusia jompo yang tak bisa apa-apa.

Padahal kalau membaca, menonton, ataupun melihat realita sekitar. Seyogyanya manusia seumuran saya ini setidaknya harus bisa mandiri. Tidak tergantung lagi pada subsidi orang tua. Karena – menurut cerita – ayah dahulu, ketika seumuran saya, ia sudah bisa berdiri dibawah telapak kakinya sendiri.

Lantas karena berdasar pengalaman diatas, saya lalu coba-coba cari alternatif demi sebuah pembuktian, bahwa saya juga bisa exist. Mulai dari bergelut dengan dunia stock trading (Perdagangan saham) di Bursa Efek, Jakarta, menjabat Koordinator Bahasa pada sebuah lembaga pendidikan Indonesia–Amerika yang membawahi beberapa staff, menulis beberapa naskah tulisan untuk dikirimkan kebeberapa media (walaupun sering kali ditolak!) sampai menjadi gitaris sebuah Band yang sampai detik ini album pun pertama pun belum rampung-rampung. Padahal beberapa lagu sudah kami ciptakan dan sering kami bawakan dibeberapa pentas pertunjukan musik.

Tetapi celakanya, semua karier yang saya sebutkan diatas tak satupun berjalan dengan mulus. Ada saja hambatannya, dan mayoritas, hambatan itu malah muncul dari internal pribadi saya sendiri. Seperti memikirkan, bahwa bidang ini tidak cukup prospektif untuk dijadikan sebuah modal berpijak dalam mengarungi atmosphir global metropolitan. Imbasnya, saya sering kali – dalam menggeluti satu bidang – menjadi tidak fokus. Sering berpindah-pindah, berganti-ganti peran dan wajah. Kadang memanjangkan rambut, biar ketika manggung terasa gagah layaknya Rock Star, atau malah pula saya mencukurnya habis, demi terlihat perfectionist dihadapan para klien.

Saya jadi semakin bingung. Sebenarnya bidang mana yang ditakdirkan Tuhan untuk diri saya ini. Pernah juga ketika saya sudah nyaman pada suatu bidang tertentu. Tentu didasari karena income yang saya dapatkan memuaskan, saya lalu berandai-andai. “Wah, satu bulannya saja segini, bagaimana kalau dua bulan? Satu tahun? Dua tahun dan seterusnya. Padahal sejarah membuktikan, jikalau seseorang ingin sukses dalam mengarungi kehidupan, ia dituntut untuk fokus. Melihat realita dihadapan matanya kini, hari ini, saat ini. Bukan kemarin ataupun jauh melesak ke masa depan. Yang nantinya malah mengaburkan impian dan cita-cita. Padahal pula Nabi mengajarkan bahwa; “Man sabat, nabat…” (siapa yang tetap, maka ia akan tumbuh) bahkan seorang atheis sekelas Jean-Paul Sartre juga pernah berkata; “Man is nothing else but what he makes for himself”. Contoh-contoh fatwa diatas dapat kita tengok kepada orang-orang yang sudah sukses. Dijamin, ia pasti lama menggeluti bidangnya dan mengalami beberapa ujian bahkan cobaan dalam menjemput impiannya.

Hemat saya, jadilah manusia yang fokus. Karena, fokus memegang peranan penting dalam sebuah karier. Meskipun saya pernah membaca bahwa manusia yang baik itu adalah well-rounded man (orang yang mengetahui banyak hal). Tetapi, bagi saya tetap saja harus ada ‘satu’ yang dijadikan pegangannya. Jangan banyak berandai-andai. Itulah kuncinya. Hadapi saja hari ini. Jalani dan geluti. Jangan seperti tukang telur amatir. Tukang telur? Ya tukang telur! Baiklah, untuk mengakhiri tulisan ini saya akan membubuhi cerita klasik tentang tukang telur yang buruk.

Suatu hari ada seorang tukang telur keliling yang menjajakan dagangannya dengan membawa sebuah nampan berisi 100 buah telur. Tak diduga olehnya, belum sampai setengah hari, telurnya sudah laku 10 buah. Dan ia pun merasa senang akan hasilnya hari itu. “Waaahh… baru satu kali dagang saja, hari ini sudah laku 10… Ah… ngaso dulu lah!”. Lantas ia pun mencari tempat yang nyaman untuk berteduh dari teriknya matahari, dan ia pun mendapati sebuah pohon rindang yang tak jauh di hadapannya kini. Di bawah pohon itu pula, ia lantas berandai-andai. “kalau jam segini sudah laku 10, dipastikan beberapa jam kedepan, pasti telur saya sudah habis. Kalau hari ini saja bisa laku 100 buah, besok dipastikan dua kali lipatnya juga bisa. Berarti saya harus membawa 200 buah telur, besoknya 400, besoknya lagi 800, besoknya lagi 1600, besoknya lagi…. Waah, sepertinya saya harus membeli sepeda kalau begini caranya, karena nampan saya sudah tidak cukup untuk muatan jumlah seperti itu.”

Tak sampai disitu, imajenasi sang penjual telur pun semakin merambah jauh. Ia menghitung-hitung penghasilannya sampai beberapa bulan, bahkan satu tahun kedepan. “Waduuhhh, kalau begitu… sepeda juga sepertinya tidak akan muat. Ahh, lebih baik saya mengkredit satu buah motor. Lagian juga enak, tinggal bunyikan klakson, para pelanggan saya sudah pasti tahu, bahwa saya datang membawa telur.”

“Belum lagi efisiensi waktu. Bila dibandingkan dengan sepeda, motor tentu jauh lebih cepat, dan itu artinya saya bisa menjual dengan jumlah yang jauh lebih banyak. Tapi itu juga tentu akan meningkat jumlahnya dalam hitungan beberapa tahun kedepan. Dan itu artinya saya juga harus membeli mobil. Waah, lumayan. Akan nampak keren juga saya mengendarai mobil. Bila ada kawan yang kebetulan saya lewati akan saya sapa; “Hei, mau kau ikut jalan-jalan tidak dengan mobilku ini? Saya tidak akan jadi orang kaya yang sombong, setiap kerabat yang saya lewati saya harus menginjakan rem begini, ciiiitttttt….”

Tak sadar, ketika ia mempraktekkan kakinya tatkala menginjakan rem, ia malah menginjak nampan telur yang ada dihadapannya kini. Tak pelak, telur-telur sisanya yang berjumlah sembilan puluh buah pun pecah. Ia kaget bukan kepalang. Bukan untung yang ia dapat, malah buntung yang ia raih kini… “Bujug busyet… telor gua…!!”77046e91dac7821a50c8f25d33d77cde.jpg

09:15 Posted in Celoteh | Permalink | Comments (1) | Email this

Comments

Roger That.!!.

Posted by: monyet | 08/11/2007