« 2007-01 | HomePage | 2007-03 »

02/12/2007

Sebuah Pengakuan



Sahabatku, katakan bahwa dia itu lebih dari sekedar mimpi.
Dia itu hidup, sahabatku – ataukah tidak?
Ada kenangan makan bersamanya di rumahku,
tidur di kasur alas jerami ini,
kehangatan masih kurasakan di pipiku
karena duduk sangat dekat dengannya –
ataukah aku tertipu?
Sungguh, dia ada disini.
Kekasihku atau sahabatku?



- Jalaluddin Rumi -


Malaikatku…,
Aku adalah sehelai jerami yang sia-sia diterbangkan badai yang menerpa ilalang. Adapun engkau adalah gumpalan debu yang menohok dalam pencahayaan mata jiwaku. O, wahai ruh yang kekal, batinku koyak, jiwaku retak kala mendengar sesosok nama disebutkan singgah di telingaku. Sakit… perih… teramat pedih bila mengingat itu semua. Kenangan indah bersamamu laksana mimpi yang kian mengaburkan antara makna ataukah mimpi. Aku begitu pengecut kala itu, tak ingin bangun dari mimpi, dan tak mampu menyongsong mentari pagi. Padahal siapapun tahu, kala fajar menjelang, mentari membentang, itu petanda mimpi harus segera disudahi. Kenyataan membentang di depan mata. Dan kita harus terus berlari… berlari mengejar harapan dan cita-cita. Karena kita bukanlah sampah yang dengan lugasnya mudah untuk diolah.




********


medium_S2020100.3.JPGPuluhan tahun jasad ini menapak di dataran bumi, baru kali ini aku merasakan getir-pahitnya sari pati cinta. Menarik, sedikit banal sebenarnya. Semakin aku ingat, semakin perih kurasakan. Setengah tak percaya bahwa ini bukanlah mimpi, atau potongan adegan dalam drama maupun naskah dalam novel-novel cinta. Aku tertawa dalam tangis. Menertawakan, karena tak disangka dalam babak hidupku, ternyata aku sempat mengalami juga hal yang melo-dramatis untuk urusan cinta. Menangis, karena hatiku begitu terpaut padanya dan tak rela ‘tulang rusukku’ bersanding dengan orang lain.

Aku tersenyum, ketika membayangkan dahulu aku begitu me-naif-kan kawanku yang sedang dirundung mendung perasaan berkabung karena cinta. Biasanya perasaan ini (dahulu) ku sebut dengan bahasa melankolis sinetronis. Karena bagiku, cinta itu tak lebih dari sekedar refleksi batin manusia yang kian keruh dan lelah karena keputusasaan menghadapi faktisitas yang kian kejam dari hari ke hari.

Tapi rupanya, kali ini aku sedikit keliru menterjemahkan apa itu cinta. Hal ini ku katakan unik. Unik karena dalam putaran roda alur hidupku aku tidak pernah menjadi sekalipun manusia yang demikian melankolis seperti ini. Mata ini begitu sulitnya dipejamkan bila mengingat ‘kejadian’ itu (bayangkan, aku baru bisa terlelap setelah mendengar penjelasannya. Dan itu kira-kira pukul setengah empat pagi!). Sebuah faktisitas bahwa aku adalah orang yang terpinggirkan. Terbuang dan tersisihkan. Tapi aku berusaha melakukan ‘self-deception’, bahwa aku ini bukanlah orang yang kalah ataupun pecundang. Aku masih akan tetap disini, berdiri menentang badai. Menghalau derasnya samudra. Sendirian dan mungkin akan terus begitu. Teringat ucapan Edward Said dalam Intellectual Exile-nya; “Intellectual man is always be fugitive man”. Atau tegasnya petuah Bernart Shaw, “Don’t ever think, you can frighten me by telling that I’m alone. France is alone… and God is alone. The strength of God in his loneliness…”

Menjadi orang yang terpinggirkan, bukanlah suatu pengalaman baru bagiku. Entah ratusan kali aku pernah mengalaminnya. Termasuk dalam urusan cinta (mungkin belasan atau puluhan) . Masih segar dalam ingatanku bahwa suatu kali aku pernah ditolak oleh seorang wanita didepan ratusan pasang mata. Hal itu terjadi kira-kira tiga tahun yang lalu. Dimana disatu kesempatan, aku mengutarakan isi hatiku melalui sebuah lagu. Dalam sebuah acara festival musik, (dimana aku menjadi gitarisnya) aku membawakan bunga untuknya dan dia menolakku dengan halus.

Kecewa memang. Tapi aku tidak begitu dikuasai amuk badai perasaan seperti saat ini yang aku rasakan. Ataupun pernah juga, malahan belum begitu lama terjadi, dimana aku telah menaburkan bibit-bibit harapan dengan kekasihku saat itu. Kami begitu idealisnya mengatakan bahwa masa depan adalah milik kami berdua. Cita-cita indah bergelayut dalam benak dan harapan. Dan hubungan indah itu kami bangun bersama diatas lautan air-mata dan guratan emosi. Itu berlangsung selama 2 tahun. Tapi semua itu kandas dengan mudahnya, ketika aku mendapat kabar bahwa ia akan menikah dengan lelaki pilihannya di kampung halamannya. Lelaki yang lebih ‘prospektif’, jelas dalam hal mengarungi masa depan. Tak seperti diriku yang diselimuti kabut absurditas, ketidak-jelasan eksistensi.
Tapi sekali lagi, saat itu aku hanya berfikir, “Dimana ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Biasalah, dinamika kehidupan…”

Namun kali ini tak semudah yang aku bayangkan. Aku begitu rapuh. Terjatuh dalam lembah kebodohan, terasing dalam lorong labirin yang tak bertepi. Aku begitu mengutuki diriku. Mengapa bisa sampai seperti ini lelaki yang biasa mengunyah getirnya hidup, kekecewaan, keterasingan dan keterpinggiran, menjadi budak dalam sikap dan kata-kata kekasihku. Tapi justru itulah menariknya. Ternyata kali ini aku tidak bisa menggangap remeh urusan yang temeh seperti ini.

Aku begitu terikat padanya. Logikaku meledak hancur berkeping-keping tatkala seutas senyum mendarat dimataku. Rasioku luluh lantah ketika bisikan kata-kata indah bersemayam dalam telingaku. Bayang-bayang Socrates, eksistensialisme Sarte, senandung Zharatusta oleh Nietzsche, dialektika Hegel, cogito ergo sum-nya Descartes atau apapun teori filsafat kehidupan, begitu dipercundangi tak berdaya ketika mendengar alunan bisikan manja darinya.

Huh, cinta…. Mengapa engkau tiupkan ruh keindahan kalau nantinya hanya memupuskan harapan dan cita-cita? Mengapa kau sirami bibit kasih sayang kalau nantinya hanya kau injak-injak kepermukaan? Aku begitu mengutukimu saat ini cinta...

Khusus untuk Cupid. Engkau tak lebih dari makhluk yang ‘maha pengecut’. Memanah dari belakang ketika aku belum siap. Belum siap tuk siapkan penawar racun-racun yang muncul dari anak panahmu. Namun sialnya, racun itu begiu amat manis kurasakan. Sehingga aku pun terbuai. Mati perlahan dalam jerat buaianmu. Aku menggelepar dalam senyum, menjemput maut. Ketiadaan membentang didepan mata. Aku akan memasuki fase itu. Yahhh, lebih cepat, lebih baik.

Terserah, engkau mau berpendapat apa setelah membaca ‘pengakuan’ diriku. Banci, cengeng, melankolis atau
apapun yang lebih buruk dari itu. Aku tak akan pernah peduli. Karena aku tidak menaruh harga diriku pada persepsi orang. Terlintas dalam benakku sebuah bait dari syair Arab; “man ahabba syai’in, fahuwa ‘abduh…” (Barangsiapa mencintai sesuatu, ia adalah hamba dari sesuatu itu…)

medium_S2020137.2.JPGAku hanya bisa bilang, aku begitu amat sangat mencintainya saat ini….

Aku ingin begitu berlari, Tuhan…
Hempaskan segala curahan hati
Jemput aku dalam dogma ini
Jangan biarkan makhluk hina-Mu
Menjadi serpihan kesia-siaan…













19:00 Posted in Leisure | Permalink | Comments (3) | Email this

Inikah Indonesia-ku?

Diketemukan sesosok tubuh tanpa kepala terbujur kaku di belakang reruntuhan bangunan…
Diketemukan sesosok bayi berusia sekitar 2 bulan tanpa nyawa di tong sampah. Diduga ia dibuang oleh orang tuanya…
Seorang nenek diperkosa oleh dua pemuda. Sang nenek stroke, tak mampu berkata apa-apa…
Isteri dibantai suami di usia perkawinan 2 bulannya. Sang suami cemburu, lantas membacok tubuh isteri berkali-kali…
Seorang gadis diperkosa oleh bapaknya…
Seorang kakek mencabuli cucunya yang (baru) berusia lima tahun…
Karena tayangan gulat di TV, seorang bocah membunuh temannya…

Bunuh… Bantai… Bacok… beriii…!!!!

Kemarin, seorang copet dibakar hidup-hidup oleh massa…
Ambil motor, hilang nyawa…
Koruptor senilai Rp. 2 Miliar bebas melenggang…
Diduga menggelapkan dana Negara senilai ratusan juta, ‘Mr. Smile’ di panggil ke kejaksaan…
KPK berjanji menangani kasus korupsi tanpa ‘tebang pilih’…

Ambil… Angkut… Rampassss…!!!!

Tsunami, merengut ratusan ribu korban meninggal…
Gempa, ratusan korban hilang tak tertemukan…
Longsor, puluhan anak kehilangan orang tuanya…
Puting Beliung, meluluh lantahkan beberapa bangunan, lima orang tewas…
Banjir Bandang, menewaskan puluhan warga…
Lumpur, sampai kapan???

Tolonggg… Awassss… Lariiiii…!!!

Adam Air, sampai kini belum diketemukan…
KM. Senopati, ratusan korban tewas tenggelam…
Gerbong kereta, gerbong maut nomer empat…
Tabrakan beruntun di jalan tol merengut nyawa…

Pritttt…
prittt...Disiplin lah… Disiplin…!! Ahhhh… inikan human error…

“Ini murni adzab…!”
“Itu tidak lebih, human error…!”
“Bangsa Indonesia harus melakukan tobat akbar…!”

“Kata siapa…? Siapa bilang…? Kamu percaya…?”
“Ini kata pak ustadz lho…!”
“Itu yang dibilang Pendeta kan…?”
“Sudah lah… kita ikuti saja apa kata bhiksu…!”
“Wahhh… ternyata ramalan ‘mbah blo’on’ jadi kenyataan…!”

Diiiaaaammmmm…!!
Berisiiikkkkkkkkk…!!
Semua sok tahu…!
Padahal ada mau…!!

Matikan saja TV itu
Kecilkan volume radio-nya
Bakar saja lembaran Koran-koran
Suruh semua pergi
Matikan lampu
Aku ingin tidur…






18:20 Posted in Celoteh | Permalink | Comments (0) | Email this