06 March 2006
Mimpi
sebuah cerpen
Oleh: Anton Rustanto
Kugapai tangannya perlahan, kubelai dan kuhelai hitam legam rambutnya, aroma shampo, nyiur melambai segar membelai indra penciumanku, kukecup keningnya, mesra, bak seorang ksatria Camelot , aku seakan siap sedia untuk menjaga sang putri, kapan pun, di mana pun dan sampai kapan pun. Aku tarik tubuhnya perlahan dalam pelukanku, masa silamnya seakan tergambar jelas di dinding-dinding batas imajiku. Ya…ia jelas membutuhkan perlindungan dan dekapan seorang lelaki sepertiku. Ia menggeliatkan tubuhnya di sandaranku, memutarkan tubuhnya agar tubuh depan kami dapat menyatu, sangat alami, natural bak putaran angin sepoi-sepoi yang menyapu dedaunan di halaman depan, ia merengkuh, mendesah dan itu justru membakar gelora kelakianku. Reaksi kimia berproses dengan cepat dalam tubuhku, bangunan norma, aturan, atau apapun namanya hancur sudah kini. Yang ada hanyalah dia..dia..dan dia. Ku helai rambutnya, ku dekatkan bibirku pada bibirnya yang merah merekah dan sedikit basah bak bunga terbasuh embun pagi, lembab. Ku dekatkan…dan kudekatkan… tiba-tiba…
TIT..TIT..TIT..TIT.. Aku terkesigap, kaget, bingung, marah, kecewa, suntuk dan beribu kata sejenis yang tak akan bisa difenisikan walau dalam definisi satu enseklopedia bahasa manapun. Jam dinding menunjukan pukul delapan lewat lima belas pagi. Ah setan mana yang kesasar dan menelpon ponselku pagi-pagi buta begini. Pagi? Ya bagiku sekarang memang masih kelewat pagi. Dan ini bukan waktu produktif-ku. Biasanya, semangat hidup dan gelora juang, baru akan lahir kalau sang mentari tepat berada diubun-ubun kepalaku. Maklum sebagai penulis lepas yang selalu mengisi waktu di warnet selama berjam-jam tatkala orang-orang mungkin sudah mabuk berada di peraduan mimpinya, aku malah sibuk bergelut dengan dunia imajenasiku. Menulis cerpen, puisi, tanggapan masalah kontemporer yang melanda negeri yang memang gudangnya masalah ini untuk dikirimkan ke beberapa media cetak. Ya lumayan, untuk pengangguran sekelas diriku, sekali nulis dikoran lokal bisa menghasilkan uang sekitar Rp.50.000 – Rp.70.000, atau kalau beruntung dimuat di media cetak nasional bisa lebih besar lagi, Rp.250.000 sampai Rp.400.000. lumayanlah.
“Wooiii, bangun…! Ha…ha…ha, pasti lo masih tidur ya? Dasar kalong rombeng, meleknya malem doang, rezeki lo dipatok ayam tuh, dari tadi di SMS-in juga, ‘ga bales-bales!”. Teriak suara disebrang sana. “Eh, besok lo bisa datang kan? Kita mo ada pelatihan penulisan kreatif buat anak-anak SMU se-Jabotabek di auditorium madya UIN lantai dua. Elo jadi nara sumbernya. Bisa kan? Bisa lah, sarjana sastra gitu looch? Jam delapan teng lo! Yo wis, ntar malem jangan tidur malem-malem! Oke bos, siiipp! See ya!”. Gila ini orang. Ngomong ga ada komanya, dia seolah tidak memberikan kesempatan untuk membalas tawarannya barang satu patah pun. Huh, seperti moderator talk show di TV-TV saja. Ya sudahlah, tawaran tinggal tawaran. Lagian lumayan, bisa tambah tambah uang saku, pikirku. Akhir-akhir ini memang sulit menulis opini di surat kabar, saingannya semakin berat. Bobot wacananya pun juga makin ilmiah dan beragam. Huuaaaahh… ngantuk aku, lebih baik kembali lanjutkan mimpiku tadi, mudah-mudahan saja bersambung.
************
Saat matahari mulai garang mencabik-cabik isi kulit kepala, aku baru lepas dari peraduan mimpiku. Ku helai selimut dan ku tendang asal-asalan bantal guling yang melintas di antara kedua pahaku yang memang hanya terbungkus dengan celana pendek. Jam dinding menunjukan pukul dua belas lewat dua puluh menit. Aku mulai bangun, sedikit menggeliatkan tubuh yang kurus ini ke kanan dan kiri. Ku buka jendela kamar kostku. Wuih terang sekali. “Hari yang pas untuk menjemur pakaian nih!” batinku. Memang akhir-akhir ini hujan deras selalu mengguyur ibukota, tak pelak, banyak terjadi banjir dimana-mana. Khususnya ya, itu, daerah langganan banjir, Cipinang, kampung melayu dan daerah-daerah pinggir kali Malang serta Ciliwung. Bahkan akhir-akhir ini merebak sampai kejawa timur, barat dan tengah. Sampai sampai mengakibatkan bencana banjir bandang dan longsor yang mengakibatkan jatuhnya puluhan korban jiwa dan harta benda. Entah apa maunya pemerintah. Dalam hal ini kita tak bisa melulu menuding alam sebagai biang keladinya. Segala apa-apa yang terjadi di alam ini juga kan karena imbas dari kegiatan manusia yang kelewat serakah. Membangun menara-menara pencakar langit dan pusat-pusat perbelanjaan seolah tak ada habis-habisnya, tanpa memperhatikan tata ruang kota dan bagaimana mempertahankan serta memelihara hutan sebagai jantung kehidupan kota. Lihatlah di perempatan Lebak Bulus. Tak tanggung-tanggung, persaingan antara Giant dan Carrefour begitu mencolok mata. Atau tenggoklah daerah Sudirman-Thamrin. Wuih, seakan memukul tengkuk kepala tiap-tiap orang yang baru lewat untuk melihat gedung-gedung pencakar langit yang tingginya bahkan mencapai puluhan lantai itu.
Hah, jadi sok kritis aku! Ngapain juga pusing-pusing mikirin hal yang dizzy seperti itu, lebih baik pikirkan hal-hal yang realistis saja lah. Seperti bagaimana caranya merayu ‘mbok Ijah di warung nasi depan seberang jalan agar sudi memberikan sepiring nasi dan semangkuk sayur untuk sarapan Branch-ku. Batin ku yang lain. Mengingat rekening tagihanku padanya sudah mencapai sekitar dua puluh ribuan. Waahh… pakai argument apa lagi ya?
Aku menuju ruang belakang kamarku untuk sekedar menyeduh kopi. Yah, kamarku ini memang hanya terdiri dari dua petak. Ruang utama terletak didepan, sekitar empat meter persegi. Kamar ini multifungsi, mulai dari ruang kerja pribadi (sekedar untuk mengetik dan nonton film sih), makan, tidur, maupun tempat istirahatku setelah melakukan aktifitas yang kadang menguras tenaga. Ruang ke-dua berada dibelakangnya (juga sama ukurannya kurang lebih). Berbentuk leter L. di pojok ruangan terletak kamar mandi. Dan di sisi lain terletak rak buku-buku diktat kuliah yang mayoritas bajakan alias photo copy sewaktu aku masih kuliah dulu. Tak lupa lemari bekas teman yang kini katanya sudah bekerja di Sumatra, aku manfaatkan sebagai tempat menyimpan baju serta pakaian-pakaian produk Senen. Tak sedap memandang ruangan yang satu ini memang. Banyak baju dan celana bergelantungan di sana-sini. Pemandangan piring-piring bekas habis makan bertumpukan di pojok lantai toilet. Juga di pojok kanan, telihat tumpukan baju-baju yang belum sempat aku cuci selama lima hari. Waaah… kalau memandangnya, seperti menyurutkan semangat hidupku saja. Terbayang aku harus melakukan beberapa aktifitas pribadi yang sepertinya akan memakan waktu.
Air sudah mendidih, menandakan kopi siap untuk di nikmati. Ku ambil gelas bekas ngopi semalam. Ku cuci dan ku tuangkan kopi ke dalamnya. Sruputt… it seems like in the seventh heaven, folks! Segaaarr…!! Aku melangkah ke depan memandang pemandangan yang memang tak sedap untuk dipandang. Oh iya, kamarku ini terletak dilantai dua. Berada di pojok kiri tangga persisnya. Kost-kostan atau bisa dibilang rumah susun ini cukup besar, terdiri dari tiga lantai milik orang pribumi Haji Abdullah, akrabnya dipanggil ‘Wak haji. Aku memperhatikan banyak anak-anak kecil yang bermain di lapangan depan kost-kostanku. Huh, bebas sekali mereka. Kejar-kejaran, petak umpet, taplak gunung, semua mereka lakoni. Tak ada beban maupun kerumetan apapun terpancar dari wajah-wajah mereka yang suci dan belum berdosa. Walaupun mereka tinggal di semrawutnya ibukota Jakarta yang kejam dan konon lebih kejam dari ibu tiri itu, mereka tetap riang gembira dan merdeka. Haaah, kalau seandainya waktu bisa dipilih, aku pasti lebih memilih hidup sebagai anak kecil.
Sedang enak-enaknya melamun dan memandang anak-anak itu dari beranda depan kamarku, tiba-tiba pandanganku semua berubah menjadi putih pucat. Semua arah dan sisi menjadi putih, garis-garis berpola mendominasi sudut-sudut mataku sebelah kiri. Walaupun begitu, harum detrjen tak kalahnya menusuk indra penciumanku. Serentak aku terkejut, kopi di tangan kiriku tumpah di dada yang memang tak terbungkus dengan sehelai benang apapun. Waoooww…, panasss!!!. Seakan tak mau kalah, rokok di tangan kananku juga ikut ambil bagian menyumbangkan baranya di perut, tepat dibagian lambung kiriku. Tak pelak, aku mundur tak teratur dan menginjak kain pel basah bekas tadi malam diguyur hujan yang memang masih licin itu. BRAKKK…!! Aduuuuhh… ‘Mak dirabit’! Selang beberapa detik, ternyata aku tahu apa yang menyebabkan semua pandanganku menjadi berwarna putih pucat itu. Ternyata sebuah handuk terjatuh dari lantai atas tepat menghalangi pandanganku. Duh gusti, mimpi apa aku semalam?
Seolah tak mau kehilangan alibi, aku bangkit dan melongok keatas, serta menyiapkan sekarung kata-kata makian yang ibuku pasti akan mengutukku kalau aku berucap ini di depannya.
Namun tatkala aku melongok ke lantai atas, tiba-tiba saja seabrek kata-kata itu hilang tak berbekas dan bibirku menjadi kelu memandang sesosok wajah ayu yang seolah-olah meminta belas kasihan padaku.
“Aduuuhh, mas gak apa-apa? Hmmm…Maaf ya, handukku terjatuh sewaktu ku peras dan hendak ku jemur”. Terdengar suara diatas sana, merdu.
Duh, betapa beruntungnya ia memiliki wajah yang dipahat oleh yang Maha pemahat alam semesta dengan begitu sempurna, pikirku. Hidung mancung, bibir yang tipis, rambutnya yang hitam lurus tergerai ke bawah menutupi sesuatu di dadanya yang seakan menentang arus gravitasi bumi, terlihat samar-samar dari bawah sini. Belum lagi wajahnya yang nyaris tanpa polesan kimia begitu memancarkan cahaya akibat tepantul sinar matahari, semakin terlihat jelas betapa cantiknya ia. Entah pikiran edanku mengatakan kalau pelakunya adalah dia, berapa kalipun aku rela terkena tragedi seperti ini.
“Gimana sih?! Kalau jemur yang bener dong! Lihat nih badan gue, melepuh kena tumpahan kopi, tau!. Tuh lihat kepala gue, benjol ke bentok ubin, hah!”. Kalau geger otak gimana?”
“Aduhhh, aku bener-bener minta maaf ya mas…, abis tangan aku licin sih, jadi ya… gitu deh, handuknya terjatuh.” Teriaknya diatas sana.
“lacan…licin, huh…dasar perempuan!” omelku sambil meninggalkannya. Ada sejumput rasa sedikit munafik dalam hatiku. Maksud hati jelas, aku tak ingin mengomelinya. Tapi hati kecilku yang lain mengatakan aku harus menegakkan keadilan. Keadilan? Ya, keadilan ras. Jangan mentang-mentang dia cantik lantas bisa bebas seenaknya begitu saja. Setidaknya, segitu juga sebenarnya sudah bagus. Coba tadi kalau yang melakukannya dibawah rata-rata standar ku, pasti sudah ku maki habis-habisan dan handuknya pasti sudah aku injak-injak, beruntung aku membiarkannya menggantung di tembok pembatas depan. Huh, ternyata tak usahlah munafik, setiap tindakan mayoritas orang macih di picu dari tolak ukur cantik dan buruknya rupa seseorang. Ia akan lebih dihargai dan disegani jikalau memiliki kategori diatas. It’s all about performance, that’s all. Termasuk diriku saat ini.
Segera saja aku menuju ruang belakang untuk membasuh tubuhku yang terkena tumpahan kopi itu. Terlanjur basah, ya mandi saja. Pikirku. Jadi teringat teks lagu dangdut yang sering kudengar dari kamar samping (sorry, judul dan nama penyanyinya aku lupa!).
Selesai mandi. Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dari luar. Hei, siapa gerangan? Sungguh sangat jarang akhir-akhir ini ada yang sudi bertamu ke kamarku. Biasanya semasa kuliah dulu tempat ini memang selalu di jadikan base camp teman-temanku. Tetapi setelah kami semua lulus, mereka semua berpencar entah kemana demi mengais rezeki di bidangnya masing-masing. Tapi siapa ya? Saat matahari terik yang bisa membakar kulit mulus Tamara Blezenky, ini malah ada orang yang rela keluar rumahnya hanya untuk bertamu ke kamar (entah ruangan ini cocok disebut sebagai kamar atau kandang?)-ku ini?
Ku raih engsel pintu sekaligus ku singkapkan sedikit gorden jendela kamarku hanya untuk melihat paras siapakah gerangan diluar sana. Alangkah terkejutnya aku, ternyata yang datang adalah sang empunya handuk putih yang terjatuh menimpaku tadi.
“Siang mas, mmm… tadi saya bener-bener minta maaf ya, saya sungguh nggak sengaja kok. Habis licin sih”. Ucapnya terlebih dahulu. “Ini, kebetulan di kamar lagi ada sayur-sayuran, yah…nggak banyak sih, tapi di cobain dulu. Sekali coba pasti ketagihan.”
Waduhhh…pucuk dicinta ulam tiba nich! Batinku. Kebetulan banget, dompet udah tanggung bulan, nafas senen-kemis, ada yang bawain sayur ke kamar. Memang kalo rezeki nggak kemana, pikirku lagi.
“Waaahh, jadi ngerepotin nich ‘mba, nggak kok, saya serius nggak apa-apa. Nggak usah diambil hati lah.” Balasku padanya
“Tapi kok, tadi marah-marah?” tanyanya lagi.
“Yaaahh… maklum baru bangun, belum sepenuhnya sadar. Jadi gitu deh, gampang kesulut emosi. Yaa.. saya juga minta maaf ya, udah ngebentak-bentak kamu tadi. Serius, saya bukan tipe pemarah kok dan sekali lagi jangan di ambil hati ya.” Jawabku tak kalah manis karena melirik rantang yang berisikan sayur sop di depan pangkuannya. Waahh… ternyata dia juga menyisipkan daging ayam di sela-sela nasi yang berada di rantang yang lain. Indahnya hari ini.
“Oh iya, kenalin, nama saya Yulianti. Panggil saja Yuli”.
“Iya, sama-sama. Nama saya Abdi”.
“Baru ya, tinggal disini? Kok kayaknya baru kali ini saya ngelihat kamu?” Tanyaku basa-basi.
“Begitulah, saya pindah baru sekitar satu mingguan.”
“Sama temen? Atau sama kakak? Hm, maksud saya tinggal disini-nya.”
Dia terdiam. Tak ada satu patah kata pun yang terucap dari bibirnya yang tipis setipis bibir Dian Sastro Wardoyo artis pujaan bahan khayalanku itu. Malah terkesan ia seperti mengalihkan pembicaraan.
“Waah, buku-buku kamu banyak juga ya? Tipe kutu buku nich?” tanyanya padaku sambil beranjak dari hadapanku menuju ruang belakang ke arah rak buku yang memang terlihat dari ruang depan.
“Yah begitulah, membeli buku. Itu hobi saya. Tapi gitu, terkadang hanya sesekali aku membacanya”
“Buku apa favorit kamu akhir-akhir ini?”
“Kalau belakangan ini sih, saya lagi senang membaca Dunia Shopie-nya Jostain Gardeer. Cukup menarik. Ia mengemas sejarah filsafat dengan bahasa-bahasa ringan, juga mengkolaborasikannya dengan cerita-cerita fiktif di dalamnya. Yah, sejenis novel filsafat lah!”
“Filsafat? apaan tuch?”
“Filsafat… sebuah metode dalam mencari kebenaran. Yaah… kalau arti leterlegnya sih berasal dari kata Yunani, Philo dan shopie artinya cinta akan kebenaran dan kebijaksanaan”.
“Waah tinggi banget bacaannya! Nggak ngerti aku”. Ucapnya sambil kembali duduk di ruangan depan
“Udah lah nggak usah ngomingin filsafat, saya juga kadang nggak terlalu faham mengenai itu. Cuman suka aja, pepatah bilang kalau kita ingin mendalami sesuatu, yang paling utama itu bukan dasar pengetahuan kita saja. Tetapi yang nggak kalah penting kita harus suka dulu bidang tersebut, biasanya sih kefahaman bakal nyusul selanjutnya”.
“Eh, ngomong-ngomong mau minum apa nich? Biar saya pesenin sama ibu warung di bawah. Minuman ringan atau minuman keras?” tawarku padanya
“Ngaco kamu, mana ibu jual minuman keras di bawah? Mau di gerebek polisi?”
“Eh, nggak percaya, saban balik dari luar kalau panas-panas, biasanya saya suka mesen itu tahu? Minuman keras itu paling asik diminum kalau udara di luar panas kayak gini. Mau apa, es teh manis, es kelapa muda, atau air es? Es itu keras bukan, so itu namanya minuman keras…” godaku padanya
“He…he…he, doyan becanda juga kamu ya? Ternyata nggak seperti yang aku bayangkan saat mendengar omelan kamu waktu ketiban handuk tadi”.
Keakraban pun terjalin, kami terlibat pembicaraan yang hangat satu sama lainnya. Aku menceritakan bagaimana sulitnya mencari pekerjaan setelah lulus bangku kuliah. Semua harapan dan impian tatkala sang rektor memindahkan sehelai tali yang menggantung di atas topi disnatalisku itu kini hilang sudah tak berbekas. Dahulu, tatkala masih kuliah kami suka meledek satu sama lainnya apabila diantara teman kami ada yang mendapatkan IP rendah, tapi rupanya sehelai kertas yang dikeramatkan itu kini sudah tidak lagi berguna. Mayoritas perusahaan mementingkan pengalaman kerja. Sedangkan aku? Aku terlalu sibuk mengejar nilai pada waktu itu.
Tak ketinggalan ia menceritakan juga perihal sedikit latar belakangnya. Sebenarnya aku tidak begitu memperhatikan isi topic pembicaraannya. Yang jadi pusat perhatianku adalah sesosok wajahnya yang terus terang membuat aku ketar-ketir. Belum lagi bulu matanya yang sesekali berkedip, bibirnya yang basah merekah, apalagi kalau kalau memandang sesuatu benda yang menggelantung di bawah dagunya, begitu jelas terlihat dari dekat sini. Walaupun di balut dengan pakaian, tetap saja masih tampak bentuk-bentuk ovalnya. Benar-benar menentang arus gravitasi. Pikirku nggak karuan.
“Trus bagaimana pendapat kamu, ‘Di? Menurut kamu mana yang lebih baik?” Tanyanya membuyarkan lamunanku, rasanya seperti lagi enak tidur terus diguyur air seember.
“Hah? Sorry, apa?” tanyaku malah balas menanyanya.
“Uuuh, gimana sich? Jangan-jangan nggak memperhatikan lagi?
“Sorry, saya memang punya sedikit gangguan pada pendengaran. Kan gara-gara handuk kamu juga tadi, kepalaku terbentur ubin, jadi sedikit keganggu kupingku”. Balasku gombal.
“Serius kamu? Yo wis cepet-cepet dibawa kedokter deh, nanti kenapa-napa aku jadi bingung nih!”
“Ah, biasa aja kok, paling nggak lama juga sembuh. Eh, serius kamu nanya apa tadi?”
“Sudah lah, lupain aja. Nggak terlalu penting sih”.
“Di, maaf ya, kalau aku agak lancang, kamu gak kemana-mana minggu ini?” tanyanya lagi-lagi mengagetkanku.
“Maksud kamu?”
“Yaahh, sekedar jalan-jalan ke mall atau nonton sama pacar, gitu”.
“Huh, ke Mall. ‘Yul, aku ini bukan ABG lagi. terus lagian ngapain capek-capekin pergi ke sarang kapitalis kayak gitu. Tahu gak? Bangsa kita ini sudah cukup dijajah selama berabad-abad oleh bangsa asing dengan kekerasan. Sekarang lihat, generasi kita juga tidak sadar telah dijajah oleh urban culture dan teralinasi pada budayanya sendiri. Lihat perbandingan berapa banyak anak-anak remaja yang rajin ikut pelatihan tarian tradisional dibandingkan membanjiri fesival break dance atau fashion show di pusat-pusat keramaian. Atau tengoklah mahasiswa, yang seharusnya menjadi agent of change, kebanggaan negerinya sekaligus pemantau mata pisau runcing jalannya keadilan di negeri kita, malahan kini ramai-ramai menjual idealismnya ke departemen-departemen yang menjanjikan uang pensiuan atau tunjangan hari tua mereka kelak dengan gaji buta setiap bulannya. Nggak, Yul, saya nggak akan menambah daftar statistik remaja hedon kayak gitu”.
“Woow…wow…wow, tipe idealis nih?” godanya padaku. “Kalau pacar gimana?” tanyanya lagi yang seakan memukul dadaku.
Lalu akupun menceritakan perihal Dewi, mantan pacarku, yang sekitar tiga bulan lalu kami memutuskan untuk tidak lagi menjalin hubungan asmara di karenakan perbedaaan latar belakang budaya yang berbeda. Aku ingat sekali tatkala ia menagis di hadapanku ketika keluarganya, khususnya bapaknya menceramahiku di rumahnya perihal hubungan kami berdua. Setidaknya ada tiga point penting bibit, bebet bobot penolakan keluarganya terhadapku pada waktu itu. Pertama, faktor klasik kekhawatiran setiap orang tua yang konservatif, penghasilan. Ia meragukan bahwa aku dapat mencukupi anaknya hanya dengan pekerjaan yang tidak menentu, yaitu sebagai penulis lepas yang hanya rata-rata berpenghasilan di bawah UMR setiap bulannya. Kedua, latar belakang keluarga. Sebetulnya ini yang paling aku benci. Di depan mukaku, bapaknya dengan terang-terangan mengatakan bahwa ia tidak akan pernah mengkawinkan anaknya dengan seseorang yang berbeda paham keagamaannya. Walaupun secara jelas kami masih berpijak pada agama yang sama. Dalam hal ini ada perbedaan tata cara ritual tradisional dalam beribadah. Yang terakhir, yang paling memuakan adalah masalah ramalan kuno, atau orang biasa menyebutnya dengan primbon. Setelah ia mengetahui tanggal, bulan dan tahun kelahiranku. Dengan mantap ia menolakku karena menurut perhitungan primbon, perkawinan kami -- apabila dilaksanakan-- akan mengundang kesialan yang tiada habisnya. Aku tidak habis berfikir, di zaman serba canggih seperti saat ini dimana orang berbicara sudah tidak bergantung lagi pada ruang dan waktu. Cukup ‘click’ maka gambar lawan bicara dapat terlihat dengan jelas di layar monitor, masih ada saja orang yang percaya primbon-primbonan seperti itu. Walaupun menurut pengakuannya, hal ini tidak bisa diukur dengan logika. Karena sudah banyak orang yang menentang sepertiku, malah akhirnya kena batunya.
Setelah kejadian itu aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. bahkan yang lebih menyakitkan adalah datangnya surat undangan perkawinannya beberapa minggu yang lalu. Ia dinikahkan dengan salah satu pengusaha dialer jual-beli mobil di kota ini. Betul-betul tragis kisah cintaku.
“Begitulah, ‘Yul. Yah, habis mau digimanakan lagi? mungkin sudah diatur dari sananya”. Ucapku, lirih.
“Maaf ya, jadi mengingatkanmu sama hal-hal tadi”. Jawabnya dengan nada penyesalan.
Sebenarnya ada sejentik perasaan heran dalam batinku. Mengapa dengan mudahnya aku menceritakan hal-hal seperti ini padanya. Padahal aku termasuk kategori orang yang tidak mudah bicara ceplas-ceplos apalagi terhadap orang yang baru dikenal seperti dia. Huh, ada apa aku ini?
“Ternyata kita mempunyai beberapa kesamaan ‘Di”. Setelah selang beberapa saat ia berucap. “Kalau kamu mempunyai masalah dengan pacarmu, aku malah mempunyai masalah dengan suamiku”.
“Hah, suami?” batinku kaget, setengah tidak percaya. Ternyata wajah ayu dan lekukan-lekukan tubuhnya sudah ada yang mpateni.
“Ada apa dengan suamimu ‘Yul?” Tanyaku menyembunyikan kekagetanku.
“Iya, aku mengerti sekali apa yang dirasakan oleh mantan pacarmu saat itu. Itulah yang aku rasakan saat ini. Aku sebenarnya korban dari kemunafikan dan kediktatoran orang tua dalam menjodohkan anaknya. Aku mengerti ‘Di, sangat mengerti. Saat itu aku juga mempunyai sandaran hati pilihan sepertimu, ia seorang pedagang baju keliling, kecil-kecilan. Tapi yang aku suka padanya adalah ia penyayang, jujur dan optimis dalam megarungi kehidupan. Tak peduli berapa penghasilannya setiap bulan. Ia selalu sisihkan untukku. Ia optimis bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi agen besar dan membuka usahanya di kota-kota. Tapi semua itu hanya menjadi impian dan kenangan mimpi indah belaka tatkala keluargaku secara sepihak menjodohkanku dengan anak juragan beras terkaya di desa kami. Agar hidup kami menjadi baik. Dalam artian kecukupan harta benda.
Awalnya kami hidup secara berkecukupan, namun itulah kehidupan. terkadang di atas dan kadang bawah. Agen bapaknya mengalami kerugian yang amat sangat dan itu berarti ia harus mengulung tikar perusahannya. Beberapa bulan kemudian ayahnya di temukan bunuh diri karena depresi kejiwaan. Dan kini anaknya, suamiku. Karena biasa menjalani kehidupan mewah serba ada. Ia tidak siap mengahadapi kenyataan akan pahitnya hidup. Maka kami memutuskan untuk mencari peruntungan di Jakarta dan menyewa sebuah kontrakan. Setiap hari ia pulang malam. Kerjaannya hanya berjudi, mabuk-mabukan dan main perempuan. Kalau di tegur ia malah menamparku habis-habisan. Ia tidak mempunyai pekerjaan. Uang yang dipakai berjudi itu hasil menguras keringatku menjadi buruh cuci ibu-ibu kompleks di sekitar sini. Bahkan yang lebih menyakitkan lagi ‘Di…” Ucapnya terbata-bata seolah tersumbat sesuatu.
“Apa ‘Yul? Apa yang lebih menyakitkan?” Tanyaku penasaran ingin tahu.
“Yang lebih menyakitkan semua wanita dan istri didunia ini adalah, tatkala suatu malam sehabis main judi dan mabuk-mabukan, ia pulang kerumah dan membawa seorang wanita. Ia melayani wanita tersebut di kamar, ‘Di. Seolah tak puas, setelah melampiaskan nafsu kebinatangannya, ia malah menyuruhku ikut serta dalam permainan nafsu jahanam bersama wanita jalang itu. Awalnya tentu saja aku menolak mentah-mentah. Tapi itulah yang terjadi, ia mengancam leherku dengan pisau dapur dan akan membunuhku. Dengan seluruh penyesalan seumur hidupku, aku terpaksa ikut serta ‘Di…”. Tangisnya membuncah keluar di hadapanku.
Biadab, sungguh perbuatan asusila terbesar dalam rumah tangga. Apa sesungguhnya yang kurang dari wanita ini. Cantik, seksi, prihatin, pengertian, nrimo, dan tidak macam-macam. Tapi mengapa suaminya masih merasa kurang cukup? Lahir batin ia mengabdi kepadanya, tapi kekecewaan yang di terimanya. Aku langsung teringat pada temanku Irfan yang aktif dalam LSM anti kekerasan dalam rumah tangga. Aku pasti adukan kasus ini. Pasti. Batinku geram.
Tak tega aku memandang segurat pemandangan didepan mataku ini. Seorang wanita lemah tak berdaya menghadapi kekerasan dalam rumah tangganya, menutupkan wajahnya dengan kedua tangannya karena badai kesedihan dan air mata meluluh lantahkan pertahanan hati nurani sang wanita. Segumpal simpati kini bersemayam di hatiku.
Seolah tak terencana, aku mengambil salah satu tangannya yang menutupi wajah cantik itu. “Sudahlah, Yul. Itulah kehidupan, terkadang pahit dan getirnya memang harus kita terima. Percayalah suatu saat kamu pasti terima hikmah dibalik itu semua”.
Ia tak berucap sepatah kata pun, hanya memandangiku. Kosong. Tanpa harapan, hanya sisa-sisa keputus asaan tergambar jelas dalam air mukanya kini.
“Terima kasih, ‘Di. Kamu benar-benar baik padaku. Akhir-akhir ini sangat jarang bahkan boleh dikatakan tidak ada yang peduli padaku lagi. Hanya kamu saat ini yang mau mendengarkan jeritan batinku. Entah mengapa aku begitu berbicara terlalu terus terang padamu”.
“Yah, segala masalah itu harus di keluarkan ‘Yul, jangan disimpan. Itu malah menambah beban kamu saja. Minimal dengan berbicara, kamu dapat mengurangi gejolak batin dalam dirimu”. Ucapku menghiburnya.
“Terima kasih, ‘Di. Kamu benar-benar mengerti perasaanku”. Jawabnya sambil menyorongkan wajahnya ke wajahku. Tak dalam hitungan detik, bibir mungilnya sudah berada di pipi kiriku. Aku tak sempat berbuat apa-apa. Sungguh, kejadian ini di luar skenarioku. Begitu cepat, sekelebat. Dan ia pun memelukku erat.
Aku tak sempat mengingat berapa lama bibirnya berada di wajahku, lima detik, sepuluh, lima belas. Aku benar-benar tak tahu. Yang ku tahu adalah kesunyian yang menerpa kami berdua saat itu. Hanya dengus nafasnya terdengar jelas di telingaku. Dengan gerakan yang tak terencana, ia memindahkan bibirnya yang tadi berada di pipiku menuju bibirku. Dan lagi-lagi aku tak sempat menolaknya. Ia melumat bibirku perlahan. Dengan satu tangan ia merengkuh tengkuk leherku.
Sialan, ada apa ini? Demi Tuhan, ini tak boleh terjadi. Aku baru mengenalnya, belum lama. Mungkin dua-tiga jam yang lalu. Tapi langkahnya terlalu jauh. Ditambah lagi ia sudah memiliki suami. Aku tak boleh membiarkan ini terus terjadi.
“Mmm…, ‘Yul, kita bicara seben…”
“Ssstt, jangan bicara apa-apa ‘Di. Aku yang memimpin”. Potongnya dengan menjulurkan telunjuknya ke mulutku.
Kali ini lebih dahsyat di banding sebelumnya, gairahnya tak tertahankan. Ia menekankan bibirnya padaku lebih intens, sangat mesra. Gerakan alami itu jelas membakar gelora kelakianku. Apalagi mendengar desahannya, sungguh menimbulkan efek reaksi kimia hebat dalam darahku. Aku tak sadar mengapa tangan kiriku sudah berada di pinggulnya kini. Ia memegang tanganku itu dan mengarahkannya sedikit lebih atas. Tepat berada di kedua bukit kembar miliknya, kenyal. Baiklah, kalau ini yang ia inginkan. Aku rengkuh pundaknya dengan tangan kananku. Aku terjang ia. Kini aku berada tepat di atas tubuhnya yang terlentang di kasur busa yang belum sempat aku bereskan tadi malam.
“Ayo, ‘Di! Apa yang kamu tunggu?”. Ucapnya sambil menatap mataku.
Kurang ajar, mengapa aku begitu bodoh saat ini. Seolah kerbau dicucuk hidungnya, aku manut apa yang ia katakan.
BRAKKK…!! “Kurang Ajar, ternyata kamu disini perempuan jalang, aku mencarimu kemana-mana, ternyata kamu malah berduaan dengan lelaki lain, dasar perempuan laknat!!”. Terdengar teriakan dari pintu depan setelah terdengar suara pintu di tendang kasar.
“Tunggu pak, saya bisa menjelaskan bahwa ini…”
“Alaaah, kamu sama saja! Dasar tukang cari kesempatan. Tak ada yang boleh hidup setelah menjamah istriku!”. Ucapnya kalap dan mengambil sebilah pisau yang kuletakan di meja komputer bekas mengupas mangga tadi malam. Celaka dua belas, mengapa aku lupa membereskannya?
“Sabar pak, sabar. Kita bisa bicarakan ini baik-baik, tak usah kalap seperti itu!”. Balasku dengan detak jantung bak suara pacuan kuda. “Saya tidak melakukan apa yang bapak pikir…”.
“Mau menyangkal kamu, hah? Setelah jelas-jelas tertangkap tangan kau meniduri istriku! Bangsat, bajingan tengik, mampus kau!”. Ia melangkah menuju arahku. Yuli dengan sigapnya menghalangi langkah suaminya itu malah ditendang dan tersungkur ke pinggir tembok.
“Mas, nyebut mas, nyebut. Demi Tuhan, kami tidak bersetubuh mas, demi Tuhan!”. Tangisnya histeris.
Dengan gerakan secepat kilat pisau ditangannya diarahkan tepat menuju jantungku. Aku menganga, terkejut. Tak pernah kusangka hidupku akan berakhir dengan hina seperti ini.
“AAAHH…!!”. Jeritku tak tertahankan. Keringat deras membanjiri seluruh tubuhku. Tiba-tiba aku berada dalam posisi terduduk. Mataku memandang lurus kedepan. Mana Yuli? mana suaminya? Dan mana pisau yang tadi menghujam tepat di ulu dadaku? Aku memandang sekeliling kosong. Hanya ada beberapa buku berserakan, komputer yang masih menyala dan mataku tertuju pada sebilah pisau yang berada tepat disisi komputer di atas meja bekas mengupas mangga tadi malam. Hah…hah…hah.. nafasku terengah-engah. Sialan, ternyata hanya mimpi….!!!
*************
Seakan masih tak percaya, aku bangkitkan tubuh kurus ini dari tempat peraduanku. Jarum jam menunjukan pukul satu kurang lima menit siang. Aku bangkit dan menuju beranda kamar depan memandang kebawah dan melihat segerombolan anak-anak kecil yang sedang bermain. Sialan, mirip sekali dengan mimpiku tadi. Dan tiba-tiba sepotong pakaian jatuh menimpa wajahku dari atas. Bak melihat kuntilanak di siang bolong, aku terkejut bukan kepalang dan memandang keatas. Wanita itu, wanita dalam mimpiku.
“Jangan…! Tolong jangan kemari. Nggak apa-apa kok, saya tidak marah! Jangan… tolong jangan kemari…!!! Teriakku sambil berlari menuju kamarku meninggalkan wanita diatas yang masih terbengong-bengong tak mengerti apa yang terjadi.
Ciputat, 5 Maret 2006:
01.01 P.M
15:49 Permalink | Comments (0) | Email this


The comments are closed.