01 December 2005

THE WAY TO START A CONVERSATION WITH FOREIGNERS

“Hallo sir/ madam, can I introduce my self?
What is your name?
Where do you come from?
Where are you going?”


Setidaknya itulah pertanyaan-pertanyaan “andalan” yang dipakai para pelajar bahasa pemula kita, yang ingin memulai percakapan dengan bule-bule asing. Kita terkadang lupa, bahwa pada dasarnya, bule-bule itu juga manusia! (kayak lagu seuriues aja!) yang terkadang mereka juga jemu jikalau hanya dijadikan sebagai objek praktek kita dalam berbahasa asing (dalam hal ini bahasa Inggris). Jangan anggap dia sebagai “objek”, kalau bisa jadikan dia sebagai “subjek” supaya komunikasinya juga akan berlangsung lancar tanpa hambatan apapun. “Trus gimana donk? Saya kan, dapatnya seperti itu di buku panduan?” Weit, ntar dulu guys! Ada pribahasa yang mengatakan when we learn language, we learn culture (ketika kita belajar bahasa, maka sudah pasti kita akan belajar budaya). Simpelnya gini, coba kita bayangkan, kalau kita lagi di jalan, di terminal, di Mal atau di halte bus, trus ada orang asing yang nggak kita kenal siapa dia, dari mana asalnya, apa urusannya ke kita, tiba-tiba datang menghampiri kita dan langsung menanyakan, “Nama kamu siapa? Kamu dari mana? Mau kemana?” Nah lo! Bingung kan nyikapinnya? Paling tidak kita akan berfikir, “ngapain nih orang? apaan sih? kurang kerjaan apa!?”. Ya kan? Ngaku! Terus, solusinya gimana dong? Jadi makin bingung nih! Oke-oke, calm down, bro! setidaknya ada beberapa langkah yang bisa dijadikan pegangan dalam memulai komunikasi dengan bule-bule itu. Mau tau? Check this out…!

1. Just Find The Appropriate Time!
Maksudnya, cari waktu yang tepat untuk memulai pembicaraan, ya, lihat lah kondisi objek lawan bicara kita, nggak mungkin kan kita, “nggak ada angin, nggak ada hujan”, tau-tau datang dan berbicara ke lawan bicara serta merta menanyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut diatas. Kita bisa memulai percakapan, setidaknya kalau kondisi dan situasinya juga memungkinkan. Semisal dia lagi duduk-duduk santai melihat pemandangan, trus dari gelagatnya kira-kira dia butuh informasi untuk diketahui. Kalau keadaan terakhir yang kita hadapi, kita bisa menawarkan bantuan seperti; “Could I help you sir/ madam? Do you need some information about … you can count on me!”

2. Greeting
Menurut salah satu buku panduan berkomunikasi, kata Greeting berarti A way of being friendly to someone. Kita bisa menggunakan metode ini, lagi-lagi harus tergantung pada keadaan, misalnya dalam satu pertemuan yang menggundang foreigners didalam suatu acara. Kita bisa mengucapkan ungkapan dasar greeting, semisal; “Hello, how are you?” “What about your journey?” “What do you think about this city? Dan lain-lain. cuman, masalahnya, mungkin lawan bicara kita tidak akan berkomentar banyak dari pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan diatas sebagai greeting. Boleh jadi dia hanya menjawab; “I’m fine thanks” atau “OK, Thanks”, atau malah mungkin tidak menjawab dan hanya tersenyum. Metode ini bisa sukses, tergantung pembicara mengolah “siasat” agar lawan bicara merasa menarik, nyaman dan mau melanjutkan pembicaraan yang lebih jauh lagi. Atau kalau perlu bahkan kita bisa melanjutkan “siasat” tersebut dengan menjalankan teknik-teknik dibawah ini:

3. Small Talk
Ya, basa-basi. Siapa bilang basa-basi nggak diperlukan untuk memulai percakapan? Walaupun kita pernah belajar bahwa budaya Eropa tidak mengenal basa-basi, ternyata hal tersebut juga sering dipakai orang disana untuk memulai percakapan, dan itu dikenal dengan istilah Small talk. Setidaknya kita bisa memulai seperti menanyakan cuaca, seperti; “It’s quite hot, isn’t?”, “What a nice day isn’t?” “Terrible weather isn’t?” atau semisal kita melihat dia sedang menunggu di halte bus kira-kira 5-15 menit, kita bisa mengucapkan kira-kira seperti ini; “The buses are very slow these days, aren’t they?” Atau bisa saja ketika kita sedang menonton sebuah pertandingan olah raga, kita melihat ada dia, kita bisa mengucap;”Great game isn’t?”. Dan masih banyak lagi beberapa Small talk lainnya yang bisa kita pakai untuk memancing lawan bicara kita lebih interaktif dan merasa nyaman berbicara dengan kita.

4. No Political Topic
Nah, kalau lawan bicara sudah merasa nyaman untuk melanjutkan pembicaraan dengan kita, mulailah dengan topik-topik yang standar, semisal menanyakan pendapatnya tentang olah Raga, kota kita, orang-orangnya, suasananya, dan lain-lain. terlebih lagi jika kita mengetahui (walaupun sedikit) perihal latar belakang budaya dia, wah, te-o-pe banget tuch! Dijamin lawan bicara akan antusias dan bersemangat untuk menjelaskannya. Asal, yang harus diingat, jangan sekali-kali berbicara mengenai topik politik dan agama, biasanya mereka akan segan dan merasa tidak nyaman untuk melanjutkan pembicaraan yang lebih lanjut dengan kita, bisa-bisa kita malahan ditinggal nanti!

5. Across Culture
Nah, langkah terakhir, dan biasanya ini yang paling jitu. Sebagaimana yang telah disinggung sedikit diatas (when we learn language, we learn culture), kuasailah materi-materi budaya lawan bicara kita. Seperti, bagaimana mereka berbicara, gaya hidup, kebiasaan-kebiasaan mereka sehari-hari, dan selanjutnya kita bisa membandingkan dengan budaya kita. Kan seru tuch! Dan dia nya juga pasti akan merasa tertarik lebih jauh dengan kita. Dijamin kalau point terakhir ini kamu kuasai, wah, bisa dapet kartu nama atau nomer telphon dia dech, lumayan ‘kan, buat gebetan…! (he..he..he)

Well, guys gimana? Have you got a brave to start it?

The comments are closed.