27 November 2005

Memaknai Esensialitas Hari Kemenangan; Sebuah Refleksi Antar Sesama

Oleh: Anton Rustanto*


Gema takbir mengumandang di segala penjuru dunia. Seluruh ummat Islam merayakan malam hari kemenangannya dengan cara-cara yang beragam. Ada yang takbiran di mesjid-mesjid sampai pagi, kumpul-kumpul, ramai-ramai konvoi keliling kota dengan kendaraannya masing-masing, baik secara individu maupun dengan teman-teman ataupun satu kelompoknya. Pasar-pasar, baik itu sekaliber super mall, maupun sekelas pasar tradisional, selalu ramai setiap tahunnya. Terutama menjelang titik-titik penghabisan bulan Ramadhan. Ada saja yang dapat dibeli ataupun jalan-jalan sekedar window shopping (baca: lihat-lihat) barang-barang mewah yang tak terjangkau dengan keadaan keuangannya. Stasiun maupun terminal-terminal besar di padati penumpang yang ingin pulang kampung. Mereka lelah dan ingin melepas rindu setelah rentang satu tahun melepas peluh dan keluh tinggal di metropolitan yang sarat dengan persaingan dan kemunafikan dan juga (kadang) tergilas dengan roda moderenisasi – hendak sungkeman dengan sanak famili, handai taulan, dan terutama sekali kepada orang tua. Selaras dengan apa yang dikatakan oleh Kang jalal, dalam bukunya, Islam Aktual, menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi – di samping menumbuhkan individualisme – juga meruntuhkan struktur sosial yang sudah mapan. Individu disibukan dengan tanggung jawab terhadap dirinya dan melupakan tanggung jawab kepada keluarga, kaum, atau kampung halamannya.

Lebaran, memang suatu hal fenomena unik dunia yang hanya dimiliki oleh bangsa Indonesia. Hanya di negeri inilah, kita dapat wajah-wajah yang memancarkan sinar keceriaan walaupun terkadang tertutup oleh peluh keringat akibat berdesak-desakkan di kereta atau di bus-bus luar kota demi untuk mengejar hari “H” agar dapat merayakannya di kampung halaman. Membumbungnya harga bahan-bahan pokok akibat dipicunya kenaikan harga minyak dunia, mengakibatkan SBY (terpaksa?) menaikan harga BBM, dirasa tidak jadi soal. Asalkan bisa bertemu dengan sanak saudara dan orang tua, itu cukup!

Esoknya, tatkala fajar menyingsing, gaung takbir semakin keras terasa menghantam ulu jiwa, menggedor nurani, membuat hampir seluruh ummat Islam, tanpa terkecuali, keluar rumah guna menunaikan ibadah sholat ‘iedul fitri berjamaah di mesjid-mesjid atau di lapangan. Baik mereka yang menunaikan ibadah puasa selama satu bulan penuh, setengah, seminggu, dua hari, ataupun tidak puasa sama sekali, (bahkan yang tak terbiasa menunaikan ibadah sholat wajib) pun ikut serta dalam rombongan tersebut menuju titik kumpul sholat ied diselenggarakan. Mereka keluar dengan wajah yang berseri seri dan cerah, secerah pakaian-pakaian baru yang mereka kenakan di tubuh mereka masing-masing. Demikianlah kira-kira enumerasi yang kita lihat tiap tahunnya.

Namun diluar itu semua, terkadang kita kurang jeli menangkap apa esensi sesungguhnya dari “hari kemenangan” tersebut. Kita disibukkan oleh sebuah pertanyaan besar, “Apa” baju yang akan kita pakai, makanan yang kita makan, suguhan kue yang akan kita sajikan, dan seabrek pertanyaan sekunder lainnya, yang justru malah merepresentasikan kurangnya kepedulian kita terhadap saudara-saudara kita yang boro-boro memikirkan hal tersebut diatas, memenuhi kewajiban perut mereka saja, bukan main kepalang sulitnya.

Warga Indonesia, sebagian besar hidup berada garis kemiskinan – ironis, negara yang notabene memiliki kandungan dan kekayaan alam yang sungguh luar biasa, justru malah mengkokohkan dirinya sebagai salah satu negara termiskin di dunia di bawah India – hasil kekayaan alamnya tidak menjadikan manfaat kepada masyarakat khalayak ramai. Ia hanya dijadikan sebagai ladang basah untuk mempertebal isi kantong para pengusaha-pengusaha lokal maupun mancanegara. Tenggoklah bagaimana Probosutedjo bisa merugikan uang Negara sebesar Rp.100,9 Miliar dengan proyek HTI (Hutan Tanaman Industri)-nya. Yang lebih ironis lagi, di masa prihatin ini, para wakil kita (entah siapa yang diwakili?) malah berdebat masalah kenaikan dana tunjangan mereka sebesar Rp.10 Juta, dan meminta fasilitas-fasilitas tetek bengek lainnya (wakil rakyat atau penghianat nurani rakyat?).

Sementara itu para tukang becak di kawasan Kampung Utan, Ciputat, binggung bagaimana harus mensikapi kenaikan harga BBM yang isunya akan segera meroket kembali di awal tahun 2006 nanti.

Lebaran atau tidak lebaran mungkin tidak ada bedanya bagi mereka. Bahkan mungkin malah menorehkan sejentik luka yang menyayat jiwa. Bagaimanakah nasib keluarga mereka kedepan? Mungkinkah sesuap nasi dapat kembali terhidang di meja makan (kalau tumpukan kardus itu pantas disebut meja makan) mereka esok hari? Bagaimanakah nasib pendidikan anak-anak mereka kedepan? Dan seabrek pertanyaan primer lainnya yang mengepul di otak mereka seiring dengan kepulan asap puntung rokok yang mereka hisap sisa kemarin.


*Penulis adalah Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah
Fak.Adab dan Humaniora jurusan Bahasa
Dan Sastra Inggris
November, 5 2005

The comments are closed.