« Indonesia, The Next Target! | HomePage | THE WAY TO START A CONVERSATION WITH FOREIGNERS »

11/27/2005

APABILA DIAN SASTRO JADI PRESIDEN (INDONESIA?) (tulisan ini memang didedikasikan buat dian sastro dan puthut ea)

Esai Sastra

Oleh Ujianto Sadewa

Dian Sastro jadi presiden? Bagaimana mungkin. Dian sastro yang aktris film itu? Yang ogah main di sinetron indonesia yang kampring itu? Iya, kenapa? Nggak, kenapa Dian Sastro? Kenapa harus presiden? Ini parodi?

Barangkali iya. Ini parodi. Walaupun Dian Sastro for President(!) hanyalah sebuah judul dari buku kumpulan puisi yang dipilih oleh majalah (jurnal atau buletin?) ON/OFF edisi 6 yang diterbitkan bersama penerbit Bentang. Setidaknya ini kabar bagus bagi perpuisian di negeri yang sakit ini. Walaupun kalau kita mau lihat hubungan antara si judul tadi yang cukup provokatif dengan isi dalam puisinya nggak nyambung sama sekali. Pertama, Dian Sastro nggak ikut nulis puisi di kumpulan itu. Padahal jika saja pihak on/off mengkonfirmasikan tujuan penerbitan buku ini dan mengundang dian sastro untuk nulis puisi di buku ini pasti menarik. Jadi tidak sekedar tempelan. Kedua, sama sekali nggak ada penyair yang nulis puisi tentang Dian Sastro, bahkan puisi persembahan untuknya pun tidak. Ya, tentu tidak dengan niat menggagahinya. Yang jelas ini juga menjadi penting jika memang niat menjadikan dian sastro sebagai presiden dan ibu negara kita ini serius. Bagaimana dengan presiden? Idem dito. Nggak ada soal yang nyambung ke situ. Kecuali satu puisi berjudul kematian presiden kataku yang ditulis oleh onny wiranda. Itupun terkesan hanya mengambil idiom presidennya saja. Jadi judulnya (juga desain kavernya) selain provokatif(manis dan ganjen karena banyak dominasi warna pink, oren, kuning, dan biru) juga sensasional—hal ini juga ditulis dalam catatan editor, periksa zlink! 0n/off 6, 2002, halaman 5--. Saya curiga, bahkan dengan pretensi, jangan-jangan buku ini hendak merebut pasar remaja. Anda mungkin akan bilang: Ya nggak apa-apa nggak dosa kan? Atau kalau saya boleh berprasangka yang baik-baik saja, jangan-jangan sebenarnya judul buku itu (plus kavernya, dong) hanyalah art belaka. Ya, mungkin anda bisa bilang itu sangat pop art. Atau seperti Peirce, anda akan bilang, hoi, ini kan cuma ikon, masa anda nggak tahu kalau Dian Sastro itu ikon remaja sekarang, bahkan panutan lho. Bahkan konon ada PIGMEN (lelaki babi/lelaki bajingan)—istilah ini secara tidak sengaja saya temukan dalam sebuah sebuah T-Shirt-- yang gemar banget sampai melakukan teror, kasihan sekali Dian, padahal ia pernah ngomong bahwa ia nggak pernah mau untuk terkenal (ah, masa?). Disini saya hendak bertanya, dalam konteks tadi benarkah judul sebuah kumpulan puisi tidak penting lagi?

Saya berpikir bahwa sebenarnya idiom Dian Sastro hendak digusur ke arah kerja indeksikalitas terhadap remaja, aktris, cinta, puisi, laki-laki, kebersamaan, politik yang sakit, idolaisme, pacaran, boysband, mading, sekolah, bahasa indonesia, outsider (dengan menampilkan Rangga yang Chairilian tentunya), generasi mal, bioskop, basket, solidaritas, perpisahan, eksentrisitas, kutu buku. Setidaknya kalau kita melihatnya dalam konteks ada apa dengan cinta, sebagai sampelnya.

Saya mengkhayalkan Dian Sastro sebagai seorang penyair, atau setidaknya pacarnya penyair, lah. Jadi idiom Dian Sastro kemudian tidak diletakkan dalam kerangka apresiasi yang politis. Sebentar, maaf saya lupa, Dian Sastro for President(!) kan dimaksudkan sebagai parodi, ya? Mungkin hendak mengejek (atau mensyukuri) sistem pemilihan presiden secara langsung. Iya, tetapi presiden apa dulu, nggak dijelaskan, kan? Bukan berarti presiden Indonesia, kan? Iya, karena sekali lagi. Ini adalah parodi.

Bagaimana dengan presiden Penyair?

Sutardji telah pensiun atau dilengserkan dari tampuk kepresidenan kepenyairan, sejak berhenti mabuk dan makan sate (iya,dong. Orang tua harus banyak jaga kesehatan, olahraga, dan hindari alkohol dan kolesterol!)

Apakah buku kumpulan puisi ini hendak memetakan suatu kepenyairan sebagai komunitas dan individu? Itu adalah pertanyaan pertama yang muncul setelah saya membaca puisi-puisi dalam Dian Sastro For President!(selanjutnya saya singkat Sastro saja). Enampuluhtiga artis yang terlibat dalam buku ini –tiga diantaranya merangkap juga sebagai ilustrator: asenaji, windu, dan dmw—bagi saya merupakan suatu jumlah yang fantastis bagi sebuah komunitas sastra—ini jika kita sepakat bahwa buku antologi semacam ini sebenarnya mempresentasikan sebuah komunitas juga— puisi-puisi mereka bicara tentang lelaki yang tak butuh tubuh perempuan, tetapi hanya ajaran membaca dan menulis, menguak luka cinta benci hera-zeus dalam mitologi yunani (agung yudha), lelaki yang mengantar ke pelabuhan, mahasiswi yang kehujanan (hasta indriyana), wanita tua, adam-hawa, romeo-juliet, oedipus-jacosta, bisma, pram (mila k sari), idiom batu (em ali), waktu, konsep ruang dalam simbol rumah jiwa__hampir saya terpeleset menyebut rumah sakit jiwa— (alfianus rinting) dan kamar kontrak (dewi anggraeni), panen dan masyarakat agraris (an ismanto), malam, kedamaian (dewi anggraeni), zaman, skeptisisme (aris munandar hafiz), cinta (arwan, eko susanto, else liliani), malaikat, lelaki dan perempuan (astrid reza widjaya, eka kurniawan), kasus psikologis-masokhis (ff butre), sepi dan anatomi, dorongan biologis dan persyahwatan (slettani dewi), kopi, permintaan maaf (dmw), kemungkinan (edi santana) , kebiasaan mabuk (eko susanto), heroisme (else liliani) dan hobi, esensi,(faiz ahsoul), waktu dalam presentasi benda dan suasana, alam sekitar (ikun eska, imam hidayah), peristiwa kematian benda (indriyani hastuti), danau (luh katrin), kanak-kanak (linda christanty), keadaan (siti naharin), organ tubuh, pertanyaan (nenie muhidin), ego (siti bariroh isnaeni), kematian presiden (nah ini akhirnya saya temukan juga puisi yang nyangkut dengan tema Sastro, ditulis onny wiranda), pukauan kematian pada seremoni pemakaman (sudaryanto), trotoar(emte zuharon), dan lain-lain (puisi penyair yang tidak saya sebut di atas karena tidak berhasil memukau kerja pembacaan saya).

Seorang presiden akan mati terbunuh, demikian onny bicara dalam sajaknya itu. Sayangnya, ia tidak bicara gamlang dengan konteks keindonesiaannya. Jadi benarkah kumpulan puisi ini hanya menghadirkan nonsens, selain mereka yang sedang belajar nulis puisi? Entahlah saya nggak bisa menjawabnya. Tapi dari hasil pembacaan saya yang awam, saya berani mengatakan bahwa hanya satu dua penyair saja yang puisinya matang, gurih dan jernih (saya tak harus menyebut namanya, takut beliau gr).

Saya mungkin akhirnya hanya menghimbau tentang sebuah misi mulia mengenai dian sastro for presiden ! ulangi lagi kerja budaya seperti ini. Dorong ke arah yang serius, bahwa dian sastro memang layak jadi presiden indonesia.

Bagaimana dengan presiden penyair?

Sutardji telah pensiun atau dilengserkan dari tampuk kepresidenan kepenyairan, sejak berhenti mabuk dan makan sate (iya,dong. Orang tua harus banyak jaga kesehatan, olahraga, dan hindari alkohol dan kolesterol!)

Saya minta saran teman-teman. Ayo kita pilih presiden penyair yang baru!

Awiligar, kamis, 17 oktober 2002, 20.17 pm.

*Ujianto Sadewa, saat ini tengah menulis novel dan skripsi,sambil terus belajar meniup harmonika dan mengayuh sepeda gunung. Buku kumpulan puisinya yang terbaru “Empat puluh dua kromosom” (diterbitkan metafisis 9 knot, 2002) sudah bisa didapatkan secara gratis.

Comments

ben, punya lw koq bagus, gimana caranya coy, punya gw hancur banget, ajarin oiiii...situs buat daftar di sini apaan, kayaknya lebih mudah di blogspirit deh. Tulisan lw bagus-bagus, Salute to u

Posted by: pupung | 11/29/2005