26 November 2005

Mengapa Engkau Bungkam, Kawan...?!

Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan
(Soe Hok Gie)

“Don’t ever think you can frighten me by telling me that I’m alone;
France is alone and God is alone;
The strength of God in his loneliness”
(Bernard Shaw)

Kita hidup di dalam zaman yang penuh dengan guratan jaring persaingan. Sikut kanan, sikut kiri, jilat atas injak bawah, culik sana, culik sini, dan orang-orang yang rendah, pengecut, kini lebih besar dibanding orang-orang besar dizaman sebelumnya. Suprmasi hukum telah luluh lantah dan hancur fondasinya akibat diperjual-belikan oleh orang-orang yang berkuasa dan tak bertanggung jawab. Hukum laksana sebuah mata pisau yang terbalik. Tajam untuk yang berada dibawah, namun tumpul untuk menyayat bagian atasnya.

Ditempatnya para raksasa bergerak bagaikan badai, mengamuk laksana gelombang lautan dan bernafas laksana gunung berapi. Nasib apakah yang akan dibawa para raksasa kepada dunia pada akhir perjuangan mereka? (Khalil Gibran, Sang Guru). Keadaan sudah tak lagi berpihak pada kita sebagai rakyat kecil. Kita sudah lelah berharap, meminta, memohon, bersujud, tersungkur dan lain-lain. Mulai dari rezim ini ke rezim itu, kabinet ini, kabinet itu, bapak ini, ibu itu, ternyata keadaan tak kunjung berubah. Dahulu kita pernah hidup dizaman dimana kita dijajah oleh para antek-antek kerajaan yang bercokol ditanah nusantara ini, waktu merangkak, kita dijajah oleh bangsa asing; mulai dari yang matanya biru sampai ke mata sipit.

Namun nasib kita, pasca (yang katanya) merdeka, justru lebih ironis lagi. Kita kini malah dijajah oleh bangsa sendiri, saudara sendiri, dosen sendiri, dekan sendiri, rector sendiri, teman sendiri, dan serentet kata sendiri-sendiri yang lain. kita (yang juga katanya) berhak sepenuhnya atas tanah gemah ripah loh jinawi-ini, malahan kini sudah menjadi aset-aset negara asing dan juga masuk kantong para “om-om pembesar” yang dipuja-puja photonya oleh para pendukungnya, yang padahal mereka, SMP saja ndak kelar. Kasus proyek HTI (Hutan Tanaman Industri) yang merugikan aset uang negara sebesar Rp.100,9 miliar itu bisa dijadikan contoh betapa malangnya nasib orang-orang lemah yang boro-boro bisa mencicipi 0,5 % dari gepokan uang satu koper tersebut. Wong sehari ngantongin Rp.10.000 saja, harus merelakan dengkulnya bengkak-bengkak karena mengayuh beratnya roda becak yang oli rantainya saja sudah karatan, belum termasuk kalau penumpangnya sedikit over weight (Maaf, beribu maaf kalau yang membaca “kebetulan” memiliki katgori tersebut. Ini semata-mata karena kementokan analogi saya).

Adagium reformasi kini mengalami peralihan makna dari esensi ke bentuk. Reformasi yang direbut oleh para pemuda kebanggaan ibu pertiwi dengan cucuran keringat, jutaan guratan kecewa, deraian air mata, dan bahkan tak sedikit nyawa para pemuda mulia tersebut harus rela menghabiskan “masa kontraknya” tinggal di dunia yang menjanjikan puluhan mungkin ratusan kesuksesan, yang tinggal sejengkal lagi didepan mata, karena minggu depan akan diwisuda, harus rela dihelainya.

Kemanakah kita, dimanakah kita? Di mal-mal? Sibuk menilik jadwal kuliah demi mengejar angka-angka suci dalam kertas IPK yang dikeramatkan, kemudian disembah-sembah? Sibuk di rental-rental PS berjam-jam dengan stick “laknat” dikedua tangan? Atau sibuk dikost-kostan dengan kartu remi ditangan kiri dan rokok ditangan kanan? Atau mungkin di kostan sang kekasih pujaan hati, kembang kehidupan dan belahan jiwa?
Bangkit dan sadarlah, sebagai pemuda seutuhnya (walaupun realitanya saya juga masuk dalam kategori diatas, tapi setidaknya berusaha ‘tuk meninggalkannya). Kejar dan gapailah cita-cita, kalau bisa jadi presiden atau ketua Mahkamah Agung. Berlakukan hukum pancung bagi para koruptor kelas kakap, jangan hanya kelas kecebongnya saja…!

Terakhir, sebagai bonus track, saya berikan semboyan dari teman-teman aktifis gerakan mahasiswa;


Tunduk ditindas atau bangkit melawan,
karena mundur adalah penghianatan…!”


- 27 November 2005 -





















The comments are closed.