06 December 2010

Emak Pulang Haji

 

TheHajj.JPGHAJI, sebagai salah satu rukun Islam, memang merupakan ibadah yang istimewa. Terutama sekali untuk kultur Indonesia, yang amat begitu menghargai dan menjunjung tinggi nilai dari ibadah ini. Dibuktikan dengan (mungkin) hanya Indonesia satu-satunya negara di belahan dunia yang memberikan ‘pangkat’ setinggi-tingginya bagi para alumni lulusan ibadah ini yaitu gelar ‘Haji atau Hajjah’. Entah siapa yang pertama kali mencetuskan ide ini, saya juga belum menemukan sumber validnya.

Nah, salah satu alumni dari jutaan manusia yang melaksanakan ibadah ini adalah ibuku, Hayati binti Muhaddam bin ‘Idi. Kemarin malam, beliau merpatkan jasadnya di pelukan pertiwi, pukul 02.10 dini hari. Kami sekeluarga menjemputnya di kelurahan Ciputat. Tak ada tangis haru, peluk mesra maupun kecupan rindu layaknya ratusan manusia yang pada saat itu berjejal jubal disekeliling kami. Ia hanya tersenyum manis seperti biasa, bahkan teramat biasa. Ia pun tak pernah menelfon barang satu kali ketika berada di ‘Tanah Haram’. “Ingin konstentrasi beribadah” jawabnya datar. Bahkan sampai hari dimana ia tiba ditanah airpun, ia masih tidak telepon. Tidak tahu bahwa ia akan dijemput oleh keluarga yang begitu amat merindukannya.

Adikku yang perempuan sampai setengah ‘sewot’ menegur ibuku. “Mamah kok ga telfon-telfon sih? Sampai malam ini bahkan juga tidak. Memangnya mamah tahu kami akan menjemput?”

Ibukku menjawab, “Tidak, mamah tidak tahu malah kalau kalian mau menjemput, karena sudah sedemikian larut, takut menganggu.”

“Lantas kalau kami tidak jemput, nanti mamah mau pulang sama siapa? Jam segini ‘kan Angkot sudah nggak ada!”

Lagi-lagi ia menjawab singkat, “Ah, kan bisa menyewa ojek atau taksi.”

Aku yang berada di depan kemudi hanya terdiam. Lantas tersenyum kecil. Diam-diam aku berujar kecil, “Kamu rupanya masih belum mengerti mamah ‘Sa...”

Esoknya, kebetulan hari itu hari libur, kami berkumpul diruang keluarga. Layaknya orang yang baru pulang haji, ia pun menceritakan pengalaman-pengalamannya. Harap dicatat, entah kebetulan atau memang sudah digariskan. Sepertinya hampir setiap manusia yang berada di Tanah Haram mengalami serangkaian kejadian-kejadian ganjil yang sulit diterima nalar. Seperti contohnya pengalaman ibuku.

20081210163926.jpg

Ia bercerita, suatu kali, ketika ia sedang berada di Masjid Nabawi, ia mengoleskan salep untukmerenggangkan otot-otot kakinya yang tegang dan sedikit membengkak. Hal ini wajar menurutnya. Karena hampir setiap hendak beribadah ke satu dan lain tempat ia tempuh dengan jalan kaki dan kalau tidak biasa seperti manusia Indonesia macam dirinya, itu akan mengakibatkan sedikit bengkak dikaki. Dan sepertinya hal tersebut sudah bisa diantisipasi oleh penyelenggara Haji dengan membekali salep untuk para orang yang berangkat haji.

Namun saat itu, salep yang tersisa ditangan tinggal satu-satunya. Tiba-tiba ada orang yang mendekatinya dan seolah-oleh begitu menginginkan salep itu. Ia tidak berkata apa-apa. Menurut ibuku, dari fisiknya mungkin orang Timur Tengah. Lantas ibuku menyapanya, “Do you really want this?” sambil menyodorkan salep itu. Yang ditanya hanya tersenyum. Ibuku tidak bisa menebak apa gerangan isi hatinya. Yang ia lakukan hanya berkata “This is good for ...  “ sambil menunjuk tumit dan pergelangan kakinya. Mungkin ia sendiri lupa apa bahasa Inggrisnya tumit dan kaki.

Sedetik setelah ia berkata demikian, ia pun memberikan salep itu kepada orang yang ada disebelahnya. Ia terlihat senang dan bahagia dan berkata singkat sambil tersenyum, “Thank you” lalu berlalu meninggalkan ibuku.

Sungguh aneh, setelah salep satu-satunya ia berikan. Penyakit pegal, dan bengkak sama sekali ia tidak rasakan di hari-hari selanjutnya. Padahal menurut ibuku, biasanya ia mengoleskan salep itu bisa sehari dua kali karena sudah bisa dipastikan ototnya akan tegang karena berjalan kesana kemari. Namun hal itu sama sekali tidak ia rasakan lagi setidaknya sampai saat ia bercerita pada kami di ruang keluarga ini.

Ia menambahkan, “Hikmahnya adalah, jikalau kita mendahulukan kepentingan orang lain diatas kepentingan kita, niscaya Allah akan mendahulukan kepentingan kita diatas kepentingan orang lain. Karena dengan begitu, kita menggantungkan harapan dan keyakinan kita satu-satunya hanya pada Allah semata, bukan karena orang lain, apalagi karena obat.”

Sungguh pelajaran yang maha berharga untuk manusia hijau seperti diriku. Ia berkata seolah menampar kesadaranku akan hidup saling berbagi. Terbayang dalam keseharianku, entah beberapa kali dalam sehari aku menutup mata akan kepentingan dan hak orang lain. Yang ada dibenakku hanya AKU, AKU dan AKU, tanpa memperdulikan MEREKA sama sekali. Padahal dikala terjepit, seringkali aku mengemis pinta pada mereka. Sungguh, hinanya diriku.

 Terima kasih ibu. Satu lagi pendaran cahaya kau semayamkan dilubuk nurani anakmu yang tak tahu caranya berbakti. Doakan aku, ibu. Agar anakmu ini semakin mengerti bagaimana seharusnya manusia itu hidup dan bertanggung jawab pada keluarga, agama, dan bangsa.

Begitupun aku yang mendoakanmu semoga engkau menjadi hajjah yang mambrur dan suatu saat nanti kau menemukan Tuhanmu tersenyum melihat amal ibadahmu kini. Amien ya robbal alamin...

 

 

 

01 August 2010

(kadang) Pura-Pura itu WAJIB Hukumnya!

 

what-if-im-pretending.jpgPura-pura dan kepura-puraan seringkali dimaknai oleh sekeliling kita sebagai kata yang ‘kurang baik’ bahkan cenderung negatif. Puncaknya adalah memadankan kata tersebut kepada kata ‘munafik’. Tidak konsisten, tidak mempunyai pendirian, plin-plan dan seabrek makna negatif lain yang menyertainya. Sebegitu banalkah kita sebagai bangsa yang kaya akan kata-kata sehingga mengenyampingkan suatu kata yang hakikatnya sarat dengan makna sehingga harus mengenyampingkan logika?

Berulang kali saya memikirkan masalah ini. Remeh memang, namun saya mempunyai keyakinan kuat bahwa tidak banyak orang yang mau dibuat pusing dengan hal remeh temeh tapi cukup serius ini. Bukankah pepatah mengatakan, A big man always thinks of small,“Manusia yang besar selalu memikirkan hal yang kecil?”

Adalah sangat benar, kalau saya ini masuk kedalam golongan ‘manusia hijau’ bila harus bicara masalah kehidupan, pengalaman, maupun pengetahuan. Namun biar begitupun, saya juga tidak mau disebut sebagai ‘manusia abu-abu’ yang tidak jelas eksistensi alur berfikir dan bertindak sehingga pada akhirnya akan disebut Kierkegard sebagai farfallenheit, ‘puncak kejatuhan eksistensi manusia’ karena apa yang diperbuatnya semata-mata karena sekelilingnya pun berbuat yang sama sehingga ia tidak tahu mengapa ia melakukan hal itu.

Suatu kali saya pernah diskusi dengan manajer saya dikantor (selepas jam kantor, tentunya). Ia adalah manusia well-organized, semua hal selalu diperhitungkan matang dan dipastikan ada didalam dicatatannya, tak heran ketika rapat tak bosan-bosannya ia berpetuah, “Catatlah apa yang hendak engkau lakukan dan lakukan apa yang telah kau catat.” Tak salah memang pikirku. Namun, hal yang kami diskusikan adalah masalah konsistensi dan pura-pura tersebut.

Suatu kali saya pernah bertanya padanya, “Bapak, jujur saja, jikalau bapak hendak memilih diantara dua hal; Teguh terhadap apa yang diyakini tapi tidak disukai orang banyak, atau bapak berpura-pura tapi menyenangkan khalayak ramai?” Sepintas pertanyaan ini jawabannya mudah ditebak, dan saya pun yakin bila pertanyaan ini saya sodorkan kepada anda, secepatnya – mungkin dengan sedikit menegakkan dada – anda akan menjawab, “Ooo, Tentu saja saya pilih pernyataan pertama.”

Hal ini sama sekali tidak salah dan lumrah, namun ingat, jangan sekali-kali anda mengklaim bahwa pernyataan kedua (yaitu berpura-pura demi khalayak) itu adalah pernyataan yang keliru dan salah, sehingga harus dihindari bahkan dibenci.

Sang manajer saya pun menambahkan, “Kalau berpura-pura itu namanya tidak konsisten, ton,Plin-plan alias tak punya pendirian. Tengok saja tokoh-tokoh besar yang sukses dimasanya, mereka selalu memperjuangkan apa yang diyakininya. Tak perduli getir tak perduli pahit.”

Nah, pada area inilah saya hendak mengajukan thesis yang agak sedikit berbeda dan mungkin sedikit terdengar mbelilng. Saya bilang, “(Kadang) berpura-pura itu hukumnya WAJIB! Lho kok bisa wajib? Benar, dalam melangkah di kehidupan yang keras ini kita seringkali dituntut untuk berfikir cepat bertindak bijak, bahasa kerennya , “Think fast, act wise.”

Saya dalam posisi ini bukan hendak menitik beratkan antara pura-pura dan teguh pendirian. Dan menurut saya juga teguh pendirian dan konsistensi memiliki tempatnya masing-masing. Tidak bisa disama ratakan sebagaimana kita menyatukan antara gula dengan air. Mereka tidak akan larut satu sama lain. Sekali lagi, mereka memiliki dimensi ruang dan waktu yang berbeda, layaknya minyak dan air.

Secara bahasa, etimologis, teguh pendirian adalah tetap pada apa yang diyakininya. Dalam dimensi ini seseorang siap menerima apapun konsekuensi logis yang akan diterimanya. Pahit maupun getir. Adapun konsekuen, menurut kamus Ilmiah kontemporer, adalah selaras dan sesuai.

Pada titik inilah saya (secara subjektif) hendak menafsirkan kata terakhir yang tersebut diatas,selaras dan sesuai. Selaras dan sesuai memiliki padanan kata dengan ‘harmonisasi’ ia bergerak sejalan dengan norma dan budaya. Contoh soal; Ia adalah ketua RT yang bekerja sebagai seorang dokter, namun ketika lingkungan membutuhkan ia sebagai seorang manusia yang juga mengerti masalah ‘bagaiamana menyelesaikan masalah rumah tangga’ ia – sewaktu-waktu – harus siap dengan lapang dada membantu warganya yang datang malam-malam untuk meminta pendapat masalah tersebut.

Jangan sekali-kali ia bilang; “Wah, maaf pak/ bu berhubung disiplin ilmu saya adalah kedokteran yang biasa menangani penyakit dalam, alangkah lebih bijaknya bapak/ ibu pergi ke Kantor Urusan Agama saja dimana banyak para ahli yang akan memberikan pendapat masalah rumah tangga disana”.

Atau kalau kita mau lebih fair, tengoklah mayoritas para sarjana negeri ini yang disiplin ilmunya bertolak belakang dan pekerjaannya. Sarjana Sastra yang bekerja dibengkel mobil, begitu juga sarjana hukum yang malah bekerja sebagai merchandiser di pabrik garment. Salahkah mereka? Dengan tegas saya menekankan, Mereka sama sekali tidak salah. Hiduplah yang membuat mereka berani mengambil keputusan itu. Rasa-rasanya sulit kita bertahan hidup dinegara yang membuat ‘Firaun’ geleng-geleng kepala ini ketika harus teguh pada idealisme disiplin ilmu.

Mereka berpura-pura dengan satu tekad akan mampu menghidupi dirinya, keluarganya, bahkan dalam ranah altruisme mereka berani mengorbankan diri untuk sekelilingnya. Meskipun mereka ‘berpura-pura’ ahli pada pekerjaannya, tetap saja diawalnya akan banyak benturan sana-sini karena medan pekerjaannya sama sekali baru dan (mungkin) belum terjamah dalam watak dan fikirannya. Biarkanlah mereka, berikanlah mereka kesempatan. Karena saya yakin dan percaya dalam hal kecerdasan manusia Indonesia tak kalah bersaing dengan negara-negara maju dibelahan Eropa dan Amerika sana. Ia akan tumbuh berkembang sejalan dengan waktu, sepanjang mau berusaha dan belajar tentunya. Satu-satunya perbedaan mungkin hanya satu kata, KESEMPATAN. Satu lagi sebagai penutup, bukankah founding father kita, Bung Karno disiplin ilmunya Insinyur? Tapi dengan gagahnya dihadapan para rakyatnya, ia mengklaim bahwa Josef Stalin tak tahu apa-apa tentang Komunis…

 

08 July 2010

... Serasa Baru Kemarin

waktu.jpegSerasa baru kemarin aku menghirup udara kebebasan akan penuh sesaknya aktivitas kampus, urus skripsi sana sini, mengajar les-lesan lembaga Bahasa Inggris dan coba-coba cari peruntungan beasiswa dari German Garment Training Centre hingga diterimanya aku di Perusahan Jerman kini, sebagai Technical Advisor dan bahkan sempat lawatan ke Hongkong dan Singapore.

Juga serasa baru kemarin aku beradu kreasi bagaimana caranya membuat alasan dan berargument dengan ustadz-ku demi bisa keluar asrama dengan bebas tanpa adanya waktu yang mengikat kapan harus kembali ketika aku masih di pesantren dulu. Bagi kami, para santri, tidak Hafal surat-surat dan Hadits pilihan berarti akan menghabiskan masa liburan di Pesantren untuk patroli jaga Asrama dan itu berarti “Penjara Seumur Hidup!”

Dan memang menurutku baru saja kemarin ketika setiap hari sabtu kami berkumpul di perempatan Ciputat hanya sekedar untuk ‘Adu Nyali’ antar sesama genk sekolah. Dan pada zamanku dulu pula, barang siapa yang memakai topi sekolah lawan, semakin diseganilah ia karena dianggap telah berhasil ‘memeras’ orang yang bersangkutan. Entah orang tuaku sampai bosan dipanggil guru BP ke Sekolah karena semata-mata ulahku yang tidak tahu diuntung. Kalau tidak merokok, berkelahi, atau pun bolos.

Tapi kini aku membuka mataku, melihat sekelilingku. Dihadapanku kini adalah layar flat komputer 22 inchi yang menjejali data serta fakta menunggu untuk dianalisa. Di mejaku pun berhamburan beberapa kertas berserakan yang berisi dokumentasi produk yang akan atau telah dipresentasikan. Setiap pagi dan malam aku berselimbut polusi diatas kuda besi. Akulah sahabat sang debu kendaraan, yang lengkingan suaranya seolah membelah bumi. Akulah manusia pekerja, 1 jam setangah jarak dari rumah ke kantor dengan rata-rata kecepatan motor 70 KmPh.

Hujan dan dingin aku lalui tanpa sedikitpun menguras ini nyali. Berkali keraguan pun datang menggempur keyakinanku bahwa ‘apakah ini adalah pekerjaan yang tepat buatku?’ aku tepis dengan segumpal mimpi. Aku tak perduli apa kata mereka. Toh, aku tidak hidup dari opini orang dan aku pun juga tidak harus bersikap sebagaimana yang mereka idealkan.

Motor aku standarkan didepan rumah. Aku pulang dengan keraguan. “Kemenangan ataukah kekalahan yang tertunda yang ku bawa di pundak ini?” ku tak perduli. Yang kutahu hanya berbuat yang terbaik setiap harinya. Memaksimalkan kapasitas kerjaku, itu saja.

Sebelum masuk, ku rebahkan pundak ini di bangku depan. kuambil dan hendak kusulut sebatang rokok putih yang kukeluarkan dari kantong jeans belel depanku. Belum selesai ku sulut baranya, suara dari belakang seolah mengguyur peluh dan lelahku setelah seharian berderu dengan waktu. “Ayah... kok nggak langsung masuk? Tuh dede-nya nungguin dari tadi, tau!”

“Eh Iya, maaf. Assalamu’alaikum Bunda... Assalamua’laikum *Aby...”

Fyuuuhhh... Serasa baru kemarin, kini aku adalah seorang Suami dan Ayah dari anakku.

 

*Panggilan nama anakku (Alvaro Abyan Rustanto)



Bun..Cheeze(605).jpgBun..Cheeze(608).jpg

Bun..Cheeze(607).jpg

 

 

 

 

 

21 March 2010

(untuk) PERTAMA KALI-nya...

newpicture.jpgMerujuk pada data post terakhir (14/03), setahun sudah saya tidak menulis diruang ini. Selama setahun lewat, banyak hal lucu, Aneh, unbealiveable, hingga Luar biasa terjadi dalam babak sejarah hidup saya. (Hanya) dalam hitungan SATU TAHUN pula, saya banyak mendapatkan berbagai hal 'First Experience' dalam hidup.

Saking menghayati hal-hal pengalaman pertama, membuat saya menjadi alpha untuk sekedar menggoreskan pengalaman-pengalaman tersebut dalam tulisan. Karier, perjalanan, pengalaman, percintaan hingga kesibukan membuat saya terlupa motto saya sendiri diblog ini; "Menulis adalah bekerja untuk keabadian". Mungkin terjadi degradasi kualitas dalam tulisan saya ini. Tapi biarlah, demi pengalaman saya tidak menjadi serpihan kesia-siaan, saya akan torehkan hal tersebut di dalam tulisan ini. Mungtkin agak terlihat Narsis (maaf untuk meminjam istilah yang agak ke-abg2an, tapi populer dalam dekade ini) tulisan dibawah ini, tapi setidaknya niat saya tidak lain adalah untuk membagi-bagikan kebahagiaan yang saya alami belakangan. bukankah membagi-bagikan kebahagiaan adalah pahala? hehehe, check this out, fellas...

UNTUK PERTAMA KALI-NYA (dalam hidup) SAYA....

1. Naik Pesawat Terbang

3148_1090968167704_1631499952_206388_6397761_n.jpgHahahaha... Entahlah, mungkin hal ini bila didengar & dibaca orang yang biasa PP (pulang kampung, urusan bisnis, jalan2) via pesawat, akan tersenyum atau tertawa membaca tulisan ini. Hal ini terjadi pada tanggal 1 Mei 2009 dalam perjalanan menuju Semarang via Garuda.  Ya! pada akhirnya aku merasakan serunya melihat pemandangan diatas udara, 'mual'nya ketika take off, dag-dig-dug-nya ketika landing hingga dipaksanya aku melihat keluar oleh bossku ketika pesawat akan take off. Tak pernah lupanya aku ketika mengalami sedikit turbulensi diudara, aku sempat berfikir, "Tuhan, apapun bisa saja terjadi saat ini, ampuni saya ya Tuhan! Dosaku terlalu banyak bila harus di-'hisab' saat ini. malu aku bertemu-Mu ya Tuhan... Maka, Wahai Dzat yang pemberi Hidup, izinkan aku landing dengan selamat tak kurang satu apapun..." XD

2. Stay the night di Hotel Berbintang

9218_1171455859846_1631499952_417804_1007191_n.jpgAnother sounds funny experience...Gumaya Tower Hotel, Semarang (1 Mei juga). Bagi makhluk yang pernah tidur di-emperan toko dan bergadang menunggu subuh di Taman Lawang bersama para lekong, Hotel (apalagi yang berbintang) merupakan sebuah fitur yang hanya pernah sesekali mampir di peraduan beranda mimpi penghias malam dan termasuk beyond imagination. However, there was I. Took a bath in a shower & bath room, and did a joging in treadmill...

3. Naik Pesawat Airbus

SQ Airlines/ 5 Juli 2009. Yang ini, saya berani TARUHAN, dari lusinan kawan satu tongkrongan di warung kopi pak Rusdi, mungkin hanya terhitung dengan jari yang pernah mengalami hal ini... (hahahaha... what a f***in'oddball I'm!!). Tapi, sumpah bro... perbandingannya itu loh. Bila dibandingkan dengan pesawat-pesawat domestik - even sekelas Garuda - ( jaeeellaaaaahhh, gaye lo, betawi!!) suspensi ketika landingnya jauuuuh banget!! trus dari pelayanan dan kenyamanannya juga... Bah!! never been like aristocrat before...

Lucunya! dasar 'cokam', ketika kiri-kanan penumpang lain sibuk dengan urusan bisnisnya dengan membuka file mereka melalui laptop. saya malah sibuk dengan fasilitas game yang nempel dibangku depan. Sibuk tekan tombol joystick, memainkan serunya old-school game, STREET FIGHTER ALPHA 2. Hahahaha

4. Pergi keluar Negeri (Hongkong & Singapore)

5536_1120820874003_1631499952_283254_619447_n.jpg5336_1132200478486_1631499952_316069_1595001_n.jpg5 s.d. 13 July 2009. Point 3 diatas, sebenernya nyambung sama point yang saya mau bahas dibagian ini. Frankly speaking, dari point 1 s.d 4 sebenarnya semua ini ABIDIN (Atas Biaya Dinas) huahahaha... Training Seminggu di Hongkong, plus liburan dua hari di Singapore merupakan hal yang ga pernah saya lupakan seumur hidup. Gimana enggak? Mulai dari noraknya saya jalan di Tsim Tsat Tsui, Hongkong dengan berbahasa Inggris sama kawan. Ternyata ujung-ujungnya saya malah ngilang/ nyasar dan sang penyelamat ternyata mbak-mbak yang berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah sampai dicurigai nyelundup drugs di Changi Airport gara-gara bawa boneka Garfield segede 'gaban'. (lo pikir gue ada tampang 'user' apa??? ggrrrr)

5. Menikah (pertama & Terakhir)

9531_1110599899667_1666968765_967434_5014797_n.jpgSepulangnya dari luar negeri, aku memberanikan diri ngadu sama ortu buat meminang calon Isteri-ku. Dengan bermodalkan tabungan plus tambahan uang yang kudapat dari biaya dinas ini-itu (meski harga motor Ninja 250 second saja masih belum mampu terbeli), aku beranikan diri untuk datang ke rumah orang tuannya. Alhamdulillah, keluarganya menyambut dengan tangan terbuka. Syukur mereka mau terima aku 'all in' tanpa ini-itu. Maka ditetapkanlah tanggal suci tersebut yang jatuh pada 9 Agustus 2009.

Saat itu adalah saat yang sakral bagi setiap pasangan demi melanjutkan hub. mereka ke jenjang yang lebih jauh. Maka, wajar saja persiapan ini itupun dilakukan disana-sini. Kasus ini agak sedikit berbeda dengan aku. Aku malah boleh dibilang, SANGAT SANTAI sekali. bealive it or not, pada hari tersebut aku SAMA SEKALI TIDAK DI-MAKE UP!! Bangun kesiangan, sehingga ga sempat sarapan. Perut keroncongan ketika dipajang jadi Raja-Ratu Sehari. Karuan saja, ketika di foto, hasilnya jadi geli sendiri. Wajahku yang sama sekali bebas 100% make up disandingkan dengan isteriku yang full Make up. Hasilnya?? Gembel dan Badut Ancol, "Berpeluuukaaaaaaaannn"

6. Mengunjungi Pulau Dewata

9218_1171449859696_1631499952_417778_175599_n.jpg9218_1171440819470_1631499952_417759_7805893_n.jpgBali??? Siapa manusia jagat raya ini yang menyukai keindahan alami yang tak kenal Bali?? The land of God, dari namanya saja udah marketable banget! Hal ini yang membuat saya penasaran hingga membangkitkan jiwa petualang saya untuk mengunjungi pulau ini atas dasar keinginan sendiri... WAIT!! CUT!! boong dink! hehehehe... (lagi-lagi) inipun ABIDIN, pak/ bu... T_T saya mendapat tugas dari boss untuk mengunjungi salah satu customer di Ubud dan denpasar untuk mengidentifikasi masalah yang menimpa mereka dan memberikan way out/ problem-solving nya... Sekalipun begitu kawan, saya tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya 'ngebut' visit customer dengan harapan nanti sore bisa liat sunset di Kuta. dan hasilnya? 100% on the schedule!! hehehe. Jalan-jalan keliling denpasar ala back-packer ostrali malam-malam sembari beli oleh-oleh dibawah gobanan! hihihi. Perut keroncongan, tak sadar uang dikantong tinggal segitu2nya... Walhasil, dengan berkat Tuhan yang Maha Esa, saya dipertemukan dengan Grobak Nasi Goreng Madura dengan harga kelas ekonomi. wkwkwkwk

7. akan menjadi Bapak..

Nah, point terakhir ini yang membuat aku tak henti-hentinya bersyukur. Tuhan benar-benar menunjukan KEKUASAAN dan ANUGERAH-nya padaku. Pada bulan ke-tiga kami menikah, Sehabis shubuh berjamaah, Isteriku berbisik pelan padaku, "Ayah, aku positif!" Subhanallah!!! Betapa air mata ini hendak membuncah keluar, namun karena terbiasa dengan kehidupan liar diluar sana, aku pun tak mampu. Aku hanya mampu bersujud syukur pada-Nya. Setelah sebelumnya aku sempat berfikir akan kekhawatiran yang hampir mayoritas lelaki dewasa fikir, "Apakah saya mampu? Suburkah saya?" Setelah saya demikian menyesali perbuatan bertahun-tahun belakangan dengan menjadikan para model dan aktris menjadi 'bahan skripsi'.... tapi pada Akhirnya.... Alhamdulillah!!!

1 2 3 4 5 6 7 8 9 Next