07/09/2008

Sekedar Merenung...

Kemarin, ketika saya sedang asyik-masyuk bermadu mesra dengan aku punya bantal guling, tanganku tak sengaja menjatuhkan buku kecil (pocket) milik adikku. Urung aku pungut buku tersebut dan aku menemukan sebuah judul "Kumpulan Cerita Sufi".

Singkat cerita, saya buka buku tersebut (halaman, sekenanya) dan saya mendapati sebuah cerita tentang seorang sufi wanita terkenal yang bernama lengkap Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah (baca: Rabi'atul Adawiyah). Ia seorang sufi  yang dilahirkan sekitar awal kurun kedua Hijrah berhampiran kota Basrah di Iraq. beliau dibesarkan dalam sebuah keluarga yang miskin dgn kebendaan namun kaya dgn ibadah. 

Suatu hari ia pernah ditanya oleh sahabatnya.

Sahabat; "Kalau boleh aku tahu, Seberapa besar kebencianmu terhadap Syaitan, wahai Rabi'ah?"

Rabi'ah; "Seluruh ruang dan relung hatiku kini sudah penuh oleh rasa cinta kepada Allah SWT. Bagaimana mungkin aku bisa membenci sesuatu, apalagi terhadap makhluk yang telah dicipta-NYa..."

 

Subhanallah... Begitu besar rasa cintanya terhadap Allah, asyik terlena bercumbu dengan-Nya sehingga tak adalagi ruang untuk memikirkan syaitan sama sekali...

Sementara kita... terlalu asyik terlena bercumbu dengan Syaitan, sehingga tak adalagi ruang untuk memikirkan Tuhan... 

06/22/2008

Budaya Nyawer Versus Sakralism

Gimana? Masih mau digoyang?

Tarik, mang… Ooogaaahh pulanggg…!!

Suatu ketika, ketika saya sedang dalam perjalanan pulang, saya terjebak macet. Macet? Ya, kata yang satu ini bukanlah merupakan barang antik apalagi langka bagi seluruh penghuni belantara metropolitan ini. Setiap hari, terutama Rush-hour, kemacetan laksana Koran harian nasional yang bisa anda dapatkan dimana saja, kapan saja.

Tapi kemacetan yang saya alami ini agak sedikit unik. Unik? Ya bisa dikatakan begitu. Unik karena jalur yang saya tempuh menuju rumah adalah jalur alternatif, kalau tidak ingin dikatakan jalur kampung, dimana sangat jarang sekali terjadi hal seperti ini. Awalnya, dalam hati saya juga agak sedikit aneh. Tidak biasa-biasanya, pikirku.

Tak selang dalam hitungan menit, saya pun menyadari, rupanya kemacetan ini dipicu karena ada salah satu warga disitu yang menyelenggarakan hajatan (lebih tepatnya dikatakan pernikahan anaknya). Dan lazimnya budaya pop saat ini, dimana orang kampung mengadakan hajatan, orkes dangdut terasa hal yang wajib untuk diadakan. Begitu juga halnya dimana ada orkes dangdut, maka ‘nyawer’ merupakan salah satu pelengkap yang tidak boleh disia-siakan begitu saja.

Aku juga heran, seingatku dulu, jauh ketika aku masih duduk dibangku Sekolah Dasar, acara hajatan tak lengkap tanpa adanya bioskop rakyat, yang layarnya berbalut spanduk putih besar ditumpu oleh dua tiang bambu panjang yang menjaganya. Orang biasa menyebutnya ‘Lacar Tancap’. Tapi kini, seolah-oleh budaya tersebut sudah lekang dimakan zaman. Orang lebih memilih orkes dangdut bila dibandingkan dengan hal diatas.  

3343d37195a82f978d8e9f8b52156259.jpgAda fenomena menarik yang saya amati dari budaya orkes dangdut tersebut. Yang pertama, Artis/ biduwanita pembawa lagunya. Hal ini dirasa sangat penting dan bisa dikatakan ujung tombak bagi para pengusaha penyedia hiburan orkes dangdut tersebut. Mengapa saya katakan penting? Penting karena fakta lapangan, setidaknya mengambarkan fenomena bahwa penonton tidak terlalu peduli atau ambil pusing mengenai kualitas olah vokal yang bisa bikin mba ii atau Indra Lesmana sakit kuping selama tujuh hari, tujuh malam. Penonton, atau lebih tepatnya disebut masyarakat awam, terlalu lugas untuk hal tersebut. Mereka hanya butuh tontonan, lain tidak. Oleh karena itu, meski suara agak serak-serak banjir, sing penting goyangane’ mang….!a8ebd9adc12c5acc781719a4ea32760b.jpg

Yang kedua, sebagaimana yang telah saya sebutkan diatas dan kiranya menjadi titik bahasan kita kali ini, adalah Nyawer. Sawer atau nyawer berasal dari bahasa sunda dan bahasa Jawa yang berarti ‘Melempar uang kekhalayak ramai’. Awalanya budaya ini dilakukan pada saat upacara pernikahan. Hal ini dilakukan semata-mata dengan harapan bahwa si pe-nyawer dapat diberikan kelapangan rizki dan kemudahan dalam menghadapi urusan-urusannya dikemudian hari kelak. Tapi selang waktu berjalan, nyawer lebih lekat maknanya kepertunjukan orkes dangdut. Dimana ada orkes dangdut, disitulah eksis budaya nyawer.

Yang saya heran adalah, para pelaku nyawer, biasanya, berasal dari orang/ kalangan yang teramat biasa, kalau tidak ingin dikatakan pas-pasan. Seperti dikampungku, contohnya. Biasanya yang paling getol melakukan aksi tersebut, sebutlah bang Bonje. Padahal sehari-hari, profesinya adalah pengendara ojek. Yang kita bisa mengestimasi pendapatan per-harinya sudah pasti tak sebesar pengendara pesawat terbang.

Pada beberapa kesempatan, misalnya, nyawer biasanya untuk mengukuhkan identitas pribadi si pelakunya. Tentu saja, si-penyawer akan merasa malu apabila ia berlenggok-lenggok ria dihadapan sang biduwanita dengan lembaran duit ribuan. Bisa dipastikan ia akan menggengam uang setidaknya dua puluh, lima puluh, bahkan sampai seratus ribuan ditangannya. Pertanyaan dasar saya adalah, mengapa mereka begitu ‘ikhlas’ mengeluarkan hasil jerih payah mereka dalam hitungan menit setelah berpacu dengan kerasnya hidup dalam hitungan bulanan? Atau yang lebih parah lagi – jikalau mereka sudah punya anak dan istri – tega-teganya melepas jumlah tersebut ketangan biduwanita yang boro-boro kenal akrab, wong tahu nomor HP-nya saja sudah terhitung ‘anugrah’ dibandingkan dengan memberikan uang tersebut ketangan istrinya yang telah setiaa menemani mereka selama belasan, bahkan puluhan tahun?

Satu lagi yang membuat saya demikian masygul. Acara tersebut (orkes dangdut) biasanya dan memang sudah dapat dipastikan diselenggarakan ditempat publik, dalam kata lain bisa disaksikan siapa saja, tak pandang usia. Baik mas-mas, ibu-ibu, janda-janda, bahkan parahnya disaksikan juga oleh anak-anak yang masih dibawah umur.

Tak terpikirkah para penyelenggara ataupun penyedia hiburan tersebut oleh dampak yang akan ditimbulkan? Bagaimana bila anak-anak yang dalam hal ini belum memiliki ‘filter’ yang cukup baik untuk menyaksikan adegan tersebut?

Demikian juga ibu-ibu. Saya agak heran juga mereka menonton acara tersebut, seolah-oleh ikhlas melihat anak yang dibawanya untuk menyaksikan orkes tersebut yang otomatis akan mempengaruhi mental si anak tersebut?

Setahu saya, di Negara Amerika sekalipun, yang notabene-nya Negara Liberal, mereka tidak sembarangan menyelenggarakan acara yang mengumbar tarian erotis disembarang tempat. Apabila hal itu terjadi, maka pihak keamanan tidak akan main-main untuk memberikan hukum bagi pihak penyelenggara.

Juga sadarkah kita bahwa acara-acara tersebut, seringkali, diadakan dimoment-moment yang cukup sakral, seperti sunatan dan pernikahan… 

44ca343c461862608aba15c42b2f905f.jpgAtau barangkali, kita sudah menganggap kedua moment diatas sudah tidak lagi sakral??? 

14:14 Posted in Budaya | Permalink | Comments (7) | Email this

02/29/2008

Kalau tak mau ‘perang’ lebih baik ‘pulang’

Hidup itu selamanya bermakna persaingan, pergulatan, dan pertempuran. Siapa yang mendominasi maka dialah yang akan mengenggam manisnya kemenangan. Jangan berharap berkah turun dari langit hanya dengan duduk bersila dan menengadahkan tangan keatas.
Aku selamanya akan meragukan apa itu makna bakat. Bakat hanya ada di dalam cerita-cerita dongeng orang tua jaman dahulu. Entah neneknya nenek saya atau juga kakeknya buyut saya. Bakat adalah akumulasi dari ribuan butiran peluh, luapan keringat, dan juga jutaan makian serta cemoohan manusia-manusia rendah yang bisanya hanya memandang apa itu makna kesempurnaan. Namun semua itu dijadikan oleh si penuntut bakat sebagai cambuk api yang meluluh-lantahkan rasa malas yang senantiasa melekat di dalam jiwa…

************

SELAMA hampir seperempat abad hidung ini menghirup sejuknya udara yang senantiasa ditiupkan Tuhan, sampai saat ini aku masih dinaungi kabut absurditas. Absurd, karena makhluk tolol ini selalu saja merasa ada yang ‘kurang’. Entah itu kurang ini, kurang itu, hingga kurang segala. Mata ini selalu saja terasa pedas, bila menyaksikan pemandangan (entah itu di media, maupun kehidupan nyata) manusia-manusia muda yang hampir seusia denganku, bahkan lebih muda dariku, sudah mantap menggenggam makna ‘Inilah Saya’, gendang telinga ini seolah-oleh hendak pecah bila mendengar gejolak semangat muda yang meneriakkan inti dari idealisme, atau hati ini terasa tersayat-sayat bila merasa ‘Apakah Aku Dilahirkan Hanya Untuk Menjadi Manusia Sia-sia?’

Kadang aku berimajinasi liar dan sering kali tak masuk diakal; “Bila seandainya rasa malas, ogah-ogahan, menunda-nunda waktu itu berubah menjadi wujud materiil yang nyata, sudah bisa dipastikan aku akan tempeleng mereka sekeras mungkin, aku pukul tepat di batang hidung mereka, aku lumat mereka punya geliat, atau apalah tindakan anarkisme lain yang lebih ekstrem dari itu sekalipun, akan aku lakoni demi satu harapan, agar aku terbebas dari belenggu mereka dan bisa juga menggenggam manisnya sebuah kesuksesan buah dari sebuah intensitas dan integritas tanpa harus khawatir mereka mengikuti.”

Atau kadang juga aku berfikir; “Mampukah aku menata masa depan? Memenuhi impian orang tua, terutama ayahku yang berharap anak lelaki pertamanya (setidaknya) menyamai tingkat derajat mereka di mata masyarakat?”

e222bbc378cfa70247f2fe29cd8126c3.jpgMasih kuingat betul, teriakan lantang ayahku di auditorium utama kampus saat aku diwisuda tahun lalu. Saat itu beliau, tanpa memperdulikan pandangan-pandangan orang-orang tua yang lain, begitu bangga ketika namaku disebut untuk maju ke panggung kehormatan almamater untuk dilantik oleh rektor sebagai Sarjana Sastra.

Masih kuingat betul, tatapan binar matanya yang memancarkan ribuan harapan agar anak lelaki pertamanya dapat menaklukan paradigma masyarakat umum yang berpandangan bahwa seorang sarjana tidak lain hanya akan menjadi ‘Pengangguran Bertitel’

Aku ingin melihatnya lagi… melihat ia tersenyum bangga seperti saat itu… saat dimana aku maju dengan baju ‘disnatalis’ lengkap dengan toga tergenggam dilengan kanan.

Aku ingin mendengar teriakannya lagi… mendengar luapan kegembiraan seorang ayah yang melihat anaknya kini mampu berdiri dengan kakinya sendiri sambil mengepalkan tangannya tergenggam di udara… aku begitu rindu saat-saat itu…

Hampir satu tahun peristiwa itu berlalu, kini aku terpaksa harus menunda ‘impian kami’ untuk menjemput makhlukda0dfffb548644e6f1827175b1e288bd.gif bernama kesuksesan untuk sudi singgah di pelataran rumah imaji yang sedang aku bangun. Aku harus menunda karierku, pekerjaanku, income-ku, sapaku dengan mereka, karena kini aku menetap disebuah institusi asing yang terletak dibilangan Bogor, Jawa Barat karena mendapatkan beasiswa studi selama 2 tahun.

Biarlah sang waktu akan menjawab semua usaha-usahaku nanti, aku tidak akan menyerah, apalagi kalah. Biarlah aku berjibaku dengan waktu, berdarah-darah, memar-lebam, aku tak peduli. Satu yang menjadi acuanku kini. Sebuah potongan syair karya STA (Sultan Takdir Ali Syahbana) yang berbunyi;


Tidak, bagiku tidak ada kalah dan menang!
Sebab sudah kuputuskan, bahwa kemenangan sudah pasti untukku saja.
Kalah tinggal pada mereka yang lain:
Yang mengeluh jika terjatuh,
Yang menangis bila teriris