14 March 2009

Muhammadkan kami ya, Rabb

oleh: Emha Ainun Nadjib

muhammadkan hamba ya rabbi
di setiap tarikan napas dan langkah kaki
tak ada dambaan yang lebih sempurna lagi
di ufuk jauh kerinduan hamba muhammad berdiri

muhammadkan ya rabbi hamba yang hina dina
seperti siang malammu yang patuh dan setia
seperti bumi dan matahari yang bekerja sama
menjalankan tugasnya dengan amat terpelihara
sebagai adam hamba lahir dari gua garba ibunda
engkau tuturkan pengetahuan tentang benda-benda
hamba meniti alif-ba-ta makrifat pertama
mengawali perjuangan untuk menjadi mulia

ya rabbi engkau tiupkan ruh ke dalam nuh hamba
dengan perahu di padang pasir yang mensamudera
hamba menangis oleh pengingkaran amat dahsyatnya
dan bersujud di bawah bukti kebenaranmu yang nyata

sesudah berulangkali bangun dan terbanting
merenungi dan mencarilah hamba sebagai ibrahim
menatapi laut, bulan, bintang dan matahari
sampai gamblang bagi hamba allah yang sejati

jadilah hamba pemuda pengangkat kapak
menghancurkan berhala sampai luluh lantak
hamba lawan jika pun fir’aun sepuluh jumlahnya
karena api sejuk membungkus badan hamba

kemudian ya rabbi engkau ajarkan hal kedewasaan
yakni penyembelihan dan kurban, pasrah dan keikhlasan
tatkala dengan hati pedih pedang hamba ayunkan
sukma hamba memasuki ismail yang menelentang

ismail hamba membisikkan firmanmu ya rabbi
bahwa dewasa tidaklah ditandai kegagahan diri
melainkan rela menyaring dan menyeleksi
agar secara jernih berkenalan dengan yang inti

di saat meng-ismail itu betapa jiwa hamba gemetar
ego pribadi adalah musuh yang teramat tegar
jika di hadapanmu masih ada sejumput saja pamrih
maka leher hamba sendiri yang bakal tersembelih

dan memang kepala hamba tanggal berulangkali
di medan peperangan modern ini ya rabbi
hambalah kambing di jalanan peradaban ini
darah mengucur, daging hamba dijadikan kenduri

tulus hati dan istiqamah ismail ya rabbi
betapa sering lenyap dari gairah perjuangan ini
keberanian untuk bersetia kepada kehendakmu
di hadapan musuh gugur satu demi satu

maka hambamu yang dungu belajar menjadi musa
meniti kembali setiap hakikat alif-ba-ta
belajar berkata-kata, belajar merumuskan cara
harun hamba membantu mengungkapkannya

musa hamba membukakan universitas cakrawala
setiap gejala dan segala warna zaman hamba baca
dengan seribu buku dan seribu perdebatan
hamba tuntaskan makna kebangkitan

tongkat hamba angkat dan tegakkan ya rabbi
memusnahkan iklan-iklan takhayul fir’aun yang keji
ular klenik pembangunan, sihir gaya kebudayaan
karena telah hamba genggam yang bernama kebenaran

ya rabbi alangkah agung segala ciptaan ini
kebenaran belaka membuat hidup kering dan sepi
maka engkau jadikan hamba isa yang lembut wajahnya
dengan mata sayu namun bercahaya, mengajarkan cinta

isa hamba sedemikian runduknya kepada dunia
segala tutur kata dan perilakunya kelembutan belaka
sehingga murid-murid hamba dan anak turunnya terkesima
tenggelam mesra dalam isa hamba yang disangka tuhannya

ya rabbi haruslah berlangsung keseimbangan
antara cinta dengan kebenaran
haruslah ada tuntunan pengelolaan
atas segala ilmu dan nilai yang engkau anugerahkan

karena itu muhammadkan hamba ya rabbi
bukakan pintu kesempurnaan yang sejati
pamungkas segala pengetahuan hidup dan hati suci
perangkum bangunan keselamatan para rasul dan nambi

muhammadkan hamba ya rabbi muhammadkan
agar tak menangis dalam keyatimpiatuan
agar tak mengutuk meski batu dan benci ditimpakan
agar sesudah hijrah hamba memperoleh kemenangan

muhammadkan hamba ya rabbi muhammadkan hamba
agar kehidupan hamba jauh melampaui usia hamba
agar kematian tak menghentikan perjuangan
agar setiap langkah mengantarkan rahmat bagi alam

muhammadkan hamba ya rabbi muhammadkan
di rumah, di tempat kerja serta di perjalanan
agar setiap ucapan, keputusan dan gerakan
menjadi ayatmu yang indah dan menaburkan keindahan

takkan ada lagi sosok pribadi seanggun ia
dipahami ataupun disalahpahami oleh manusia
kalau tak sanggup kaki hamba menapaki jejaknya
penyesalan hamba akan tak terbandingkan oleh apa pun saja

para malaikat sedemikian hormat dan segan kepadanya
bagai dedaunan yang menunduk kepada keluasan semesta
para nabi berbaris menegakkan sembahyang
engkau perkenankan ia berdiri menjadi imam

ya rabbi muhammadkan hamba, muhammadkan hamba
perdengarkan tangis bayi padang pasir di kelahiran hamba
alirkan darah al-amin di sekujur badan hamba
sarungkan tameng al-ma’shum di gerak perjuangan hamba

kalungkan kebenjian abu jahal di leher hamba
sandingkan keteduhan abu thalib di kaki dukalara hamba
payungkan awan cintamu di bawah terik politik durjana
usapkan tangan sejuk khadijah pada kening derita hamba

kirimlah jibril mencuci hati muhammad hamba
lahirkan kembali wahyumu di detak gemetar jantung hamba
dan kucuran darah luka muhammad oleh pedang kaum pendusta
hadiahkan kepada hamba rasa sakitnya

ya rabbi ya rabbi muhammadkan hamba
bersujud dan tafakkur di gua hira’ jiwa hamba
berkeliling ke rumah tetangga, negeri dan dunia
menjajakan cahaya

 

12 March 2009

Balada Pengangguran

Dibolak balik dinalar nalar
Tanpa logika oh ya!
Diraba raba diterka terka
Tidak terduga oh ya!

Misteri ijazah tidak ada gunanya
Ketekunan tidak ada artinya

Iwan Fals - Balada Pengangguran

***********************************************

jobless1.jpg"Boy, gmn intrvw kmrn? udh terang 'lom? Jgn mendung lagi lah..."

"Ben, gmn kbrnya? Skrng lo gawe dmn?"

"How's it?"

"Ka, gmn hasilnya? So far so good, kan? Alhamdulillah... mudah2an kali ini..."

"Sabarlah kawan, mungkin Tuhan punya rencana besar dibalik ini semua!" SEMANGAT!!"

Serentetan SMS pagi ini (sebenarnya sudah sekitar pukul 10.00-an, tapi buat manusia kalong seperti diriku, ini masih ‘kelewat’ pagi. hehehe) menggedor telilnga kanan, hingga tak ayal menyeretku paksa untuk bangun dari segumpal mimpi semu. Orang bilang, ini ‘kopi pahit’ demi menyambut sang mentari yang tidak lagi malu menunjukan sinarnya. Kutarik nafas panjang, lebih terkesan miris sebenarnya, untuk menyambut hari yang seolah tidak bersahabat ‘pagi’ ini. Ya, sebuah kenyataan pahit yang ternyata singgah di episode babak kehidupanku kini. Kenyataan bahwa kini aku menyandang sebuah gelar baru selepas mendapatkan gelar sarjana, yaitu PENGANGGURAN!

jobless.jpgPengangguran atau tuna karya, sebutan bagi pelaku kata kerja ‘menganggur’ menurut wikipedia adalah; Istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan”. Kalau merujuk pengertian diatas, ciri-ciri yang terakhir agaknya yang paling pas menggambarkan keadaaanku saat ini.

Sebenarnya, kalau mau sedikit Ge-eR, aku bukanlah seorang yang tidak memiliki prospek kerja sama sekali. Bukan, bukan itu. Selepas aku menuntut ilmu di kampus International Garment Training Centre (IGTC-red) yang terletak dibilangan Sentul, Bogor, aku hanyalah harus menunggu, menunggu, dan menunggu. Dan aku pikir, segenap makhluk di kolong langit ini rasanya sepakat kalau “Menunggu adalah….. ya, anda benar, pekerjaan yang paling memuakkan!

Fakta sebenarnya adalah, aku adalah satu-satunya dari Mahasiswa IGTC tersebut yang terpilih dan terseleksi untuk bisa bergabung dengan perusahaan Raksasa Jerman, AMANN Group, yang cabang Indonesianya terletak di Bilangan Kelapa Gading. Dan kabar terakhir yang membuat hidungku kembang kempis adalah kenyataan kalau aku hendak di-trainning di Boennigheim, Jerman. Cuma, sekali lagi, saya tekankan sekali lagi, kalau saya, hanya harus bersabar… yaaahh… sekitar satu bulan setengah lah!!

desperate.jpgSatu bulan setengah?? Anda pernah membayangkan kalau anda harus dirumah, yang notabene tidak berpenghasilan, selama satu bulan setengah?? Anda pernah merasakan pahitnya paradigma masyarakat ditilik dari sisi sosio-kultural mengenai pemuda pengangguran? Atau bahkan Anda pernah mengalami sedikit goncangan psikologis melihat orang tua Anda, terutama Ayah, yang selama ini menganggap dan berharap kalau anda adalah tulang punggung harapan dan penerus tinta emas sejarah keluarga? Atau yang terakhir, perasaan minder tak berkesudahan terhadap pacar terkasih anda?? Fiiuuhhh, kenyataan itulah yang sekarang sedang berkecamuk dalam relung dada saya kini.

Agak sedikit banal juga sebenarnya, kalau aku mencermati keadaaanku kini. Dibandingan dua sahabatku (mereka, termasuk aku adalah calon 3 besar kandidat terakhir dalam seleksi ini) yang kini sudah berada di Bali dan di Hongkong, perjalanan karier aku memang agak sedikit berliku. Dua perusahaan yang melamarku sudah aku tolak karena melihat prospek ‘ini’ akan cerah dan basah. Sebenarnya pilihan ku juga berdasarkan beberapa nasihat baik dari orang tua maupun pimpinan kampus tempat aku dulu belajar. “Last Man Standing” goda salah satu dari mereka suatu kali dalam percakapan online di internet. Dan lagi lagi, aku hanya bisa tersenyum nyinyir membacanya.

Lantas mau bagaimana lagi?? Mungkin SMS dari salah seorang kawan itu benar. “TUHAN sedang mempersiapkan rencana besar buat-ku…. Semoga!!

05 January 2009

Setelah ketupat, lilin, dan terompet lalu apa?

Lima hari sudah kita melewati pergantian tahun dari 2008 ke 2009. kali ini saya tidak ingin menulis panjang lebar, hanya tersisa pertanyaan dasar yang hendak saya kemukakan. "Setelah ini, lalu apa?

" Belum bosankan kita dengan celebrasi hampa ini?"

"Masih bisakah kita tertawa, sementara masih banyak kerumunan manusia, baik disamping rumah kita, diluar daerah sana, maupun diujung penjuru dunia menangis mengaduh karena usus mereka melilit belum terisi selama berhari-hari?"

"Masih tersenyumkah kita, sementra sahabat kita meringis?"

"Masih relakah kita mengeluarkan lebaran puluhan ribu, ratusan, bahkan jutaan, sementara para buruh kasar bingung tatkala menerima gaji akhir bulan, merasa binggung dan merasa tak sanggup untuk menutupi kebutuhan keluarga, kontrakan, biaya sekolah anak, listrik, air...?"

"Akhhh... Apakah kita terlahir sebagai manusia tolol? Atau jangan-jangan keadaan/ zaman yang memang sudah sedemikian tolol yang pada akhirnya melahirkan generasi-generasi Tolol?

NB: saya tidak akan mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU!

04 October 2008

Simbolisme Humanis dan Sosial; Ketupat & Lebaran*

 

ketupat_lebaran_blog.jpg

ketupat.jpgSECARA etimologis idiom dan makna simbolis ketupat lebaran, berasal dari
kata telu (tiga) dan pat (empat). Munculnya angka-angka ini bergerak dari
sistem rukun Islam yang berjumlah lima. Telu dimaksudkan sebagai rukun Islam
ketiga, yakni menjalankan ibadah puasa. Sedangkan pat atau papat, rukun
Islam yang keempat atau membayar zakat. Di luar itu dalam kreativitas budaya
masyarakat Jawa, bentuk ketupat pun biasanya dibuat mengikuti struktur
angka-angka tersebut. Sehingga muncul dua bentuk ketupat. Yakni yang
berbentuk segitiga yang disebut ketupat atau kupat kodok. Dan ketupat
berbentuk segi empat atau juga disebut ketupat atau kupat sintho. Meski yang
paling umum dan memasyarakat, hanyalah ketupat yang berbentuk segi empat.


511066515_278e25857f.jpgArtinya, esensi hidangan ketupat yang dicampur dengan opor dimaksudkan
orang yang menjalankan kewajiban agamanya di bulan Ramadan. Yakni ibadah
puasa -- atau orang diopori atau di bakar atau digembleng jiwa spiritual dan
dosa-dosanya. Sebab dari segi bahasa, ramadan berasal dari kata ramda yang
artinya syiddatulharri atau yang sangat panas. Jadi ramadan dari segi bahasa
adalah bulan yang sangat panas atau membakar. Iman Ibnu Hajar, menyatakan
sesungguhnya di dalam bulan ramadan dilakukan pembakaran dosa (manusia)
selama satu bulan penuh -- kemudian disempurnakan membayar zakat. Di mana
zakat hakikatnya adalah sebuah ritus religius sosial akan dialektika dan
makna dari pengalaman religius (religius experience) yang dihayati dan
dirasakan langsung secara personal empirik, bagaimana umat Islam merasakan
kepedihan dan penderitaan hidup yang dirasakan lain (fakir miskin). Sehingga
dengan menjalankan puasa yang disempurnakan dengan zakat diharapkan agar
setiap insan jiwanya memiliki sebentuk atensi, kepedulian, pemihakan
langsung kepada mereka yang nasibnya kurang beruntung (fakir miskin)
sepanjang hidupnya.

Alhasil ketupat, atau puasa yang disempurnakan dengan membayar zakat,
muaranya mempresentasikan makna simbolis dan hakiki Lebaran. Di mana Lebaran
di masyarakat Jawa juga dimaknai bergerak dari simbol dan nilai-nilai
etimologis dari kata-kata lebar, lebur, luber dan lebaran.

Lebar, artinya selesai telah kewajiban kita sebagai seorang muslim dalam
menjalankan ibadah puasa dan membayar zakat. Sehingga pahala dan berkah
karomahnya diharapkan meningkat menuju stadia nilai lebur atau lunas, hancur
dan impasnya dosa-dosa makhluk di hadapan Sang Khalik (Pencipta). Karena tak
bisa dipungkiri bahwa setiap manusia akan selalu beragregasi dan atau
sebentuk dialektika dari bentuk hubungan dengan Allah Sang Pencipta (habblum
minallah). Maka sungguh wajar dan tidak berlebihan jika hari yang baik itu,
hari leburnya dosa-dosa manusia (fitri) ini alangkah akan lebih afdol jika
disempurnakan atau disertai budaya halal bi halal yang menjadi budaya khas
keindonesiaan kita.

Puncaknya diharapkan setiap manusia memperoleh derajat takwa (la alakum
tattaqum). Atau memperoleh kembali derajat fitri setelah pengembaraan
manusia melampaui stadia-stadia jarak umur dan jarak waktu. Sehingga makna
menuju fitrah hakikatnya adalah sebuah ziarah, perjalanan rohani manusia
dalam menggapai derajat hakiki nilai manusia dan kemanusiaan (humanisme)
universalnya. Wajar jika wacana fitrah, secara umum digambarkan bahwa
manusia (seakan) lahir kembali laksana seorang bayi mungil yang masih bersih
suci, belum tersentuh oleh daki-daki dosa duniawi.

Di sinilah sesungguhnya justifikasi referensial dan afirmasi positif nan
signifikan dari makna luber yang bersifat empirik (praksis) dalam diri
setiap pribadi (personal individu) dalam hubungannya dengan Tuhan maupun
dengan sesama manusia. Atau melubernya aneka berkah, karomah dan hidayah
Allah di satu sisi yang bertemu dengan kerelaan, keterbukaan dan kesungguhan
setiap jiwa dan hati manusia dalam memberi dan memaafkan orang lain (sesama)
sehingga menjadi halal bi halal. Atau sah secara normatif (praksis) maupun
ideal filosofis, sekaligus esoterik (teologis). Muaranya pada saat itu kita
betul-betul memperoleh kenikmatan yang luar biasa, bahkan (seakan) hingga
luber (tumpah ruah). Baik luber dalam wacana esoterik (spiritual religius)
maupun luber secara eksosterik (sosial empirik). Sehingga menjadi sebentuk
kenikmatan yang bersifat final dan universal. Itulah sesungguhnya makna
esensial dari derajat kenikmatan hidup dan kehidupan yang diharapkan umat
manusia. Katakanlah rasanya (seakan) hidup menjadi lebih hidup. Tidak hanya
dalam slogan tetapi juga dalam derajat praksis.

Di luar itu pemaknaan wacana simbolisme luber yang bersifat spiritual
religius tempat turun dan menyatu dan bertemunya berkah, hidayah Allah
dengan keterbukaan hati setiap insan pada sesama. Luber juga dimaknakan
secara praksis. Pada hari yang sangat baik, hari yang sangat bahagia itu
dirayakan dengan pesta makan besar, ketupat sebagai makanan yang paling pas
dan signifikan. Ketupat menjadi lambang sekaligus, khas dan praksis dari
hidangan santap pesta lebaran.

Pada saat pesta santap lebaran, turut luber pulalah aneka hidangan dan
makanan bahkan rezeki dalam diri dan bagi setiap orang. Dengan kumpulnya
seluruh anggota keluarga yang selama setahun terpisah setiap orang dapat
belajar memaknai dan memahami nilai dari dialektika hidup sosial antar dan
inter sesama sebagai sub sistem hidup sosial; berkeluarga, bermasyarakat dan
berbangsa. Karena hanya dengan bertemulah dan berkumpul dalam satu periuk
yang sama, manusia akan saling berkenalan dengan antarsatu dan lainnya, yang
muaranya ditingkatkan menjadi saling mengerti dan memahami akan kekurangan
dan kelebihan masing-masing. Selebihnya muaranya akan ditingkatkan menjadi
saling berbagi, berkeluh kesah dan saling mengisi serta saling menutupi.
Itulah makna esensial dari harmoni hidup sosial dalam berkeluarga dan
bermasyarakat, bahkan berbangsa dan bernegara. Pada saat Lebaran terjadi
kontak dan kontrak serta transaksi, baik sosial maupun spiritual yang
bersifat psikologis sekaligus material dalam setiap keluarga. Yang kaya
memberi yang miskin, yang lemah belajar pada yang kuat. Demikian sebaliknya,
yang pintar merunduk menengok yang bodoh, yang bodoh mendongak untuk belajar
kepada yang pintar, dan lain sebagainya. Selanjutnya saling membantu dalam
memperkokoh ikatan sosial dalam berkeluarga. Wajar jika hanya pada saat
lebaran jiwa sosial manusia benar-benar terbuka dan ditunjukkan secara
praksis.

lebaran.jpgLebaran, kita dapat mempertautkan kembali ikatan warna tanah (primordial)
yang selama ini berserak serta kembali mempererat hubungan nilai manusia dan
kemanusiaan (humanisme) yang tercabik dan terpisah. Lebaran, muaranya
menjadi wahana efektif dan signifikan dari sebentuk dialektika sosial khas
Jawa, mangan ora mangan kumpul. Bukan esensi mangan (makan) yang menjadi
term mayor. Tetapi berkumpulnya, keluarga itulah yang utama. Sebab dalam
berkumpul itu terjadi musyawarah mufakat, untuk dapat membina hidup keluarga
itu menuju ke arah kebaikan secara bersama-sama. Meski tidak dipungkiri,
dalam berkumpul pasti makan (berpesta).

Sebab jika berkumpul dalam waktu lama tetapi tidak makan, pasti akan terjadi
congkrah (perpecahan). Sehingga setelah perayaan ini usai, setelah semua
hajat, keperluan, musyawarah mufakat dan membina keluarga ditunaikan,
setelah semua makanan dan rezeki dibagikan dan dinikmati bersama, selesailah
seluruh hajat keluarga itu. Dan mereka pun kembali bertebaran di muka bumi,
untuk menjalankan aktivitas dan kerja di tempat masing-masing. Dan saat
terpisah itu ketupat akan selalu kembali mengingatkan dan mempertautkan
kerinduan kekerabatan sosial dan leluhur kita. Dengan ketupat kita akan
selalu siap meningkatkan hidup dan kehidupan kita menuju kesempurnaan.

 

 

*Penulis: Otto Sukatno CR, Pemerhati Sosial Budaya dan Ketimuran.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 Next